Itinerary Pendakian Gunung




Chaobella~ 

Saya lagi ada di Italy, Lihat di belakang saya, adalah gunung-gunung terindaaaaaah di dunia, saya senang sekali, ada bunga-bunga, ada tai kuda, ah, saya mau bobo di sini, mau gelundungan juga, ah saya kebablasan! ah TOLONGINNN DONGGGG! AHHHH~~ I FEEL FREEEEEEEE~~~!!!

*kemudian princess syahrini terjatuh dan tak bisa bangkit lagi* *alhamdulillah* *#lah*

Demikianlah sepenggal kisah kelakuan sinting tante Syahrini yang bener-bener deh, doi cari tenarnya kok pake minta dinyinyirin banget sik. Duh, apa gue ikutan aja ya bikin video i feel free di gunung mana kek biar cepet tenar. Nyahahhahha~

Fokus cen, fokus.

Terinspirasi dari #CurhatGunung yang serentak diadakan di twitter @acentris, @jalanpendakiFB Group Jalan Pendaki, dan FB Fanpage JalanPendaki, yang, dengan teramat sedih, ternyata gak laku. Which is mean gue dicuekin. Kalian jaadh. Banget. Aku bencik! I feel freeeeeeeeeeeeee~~~~~! #lah

Mendaki gunung akan terasa lebih mudah dan menyenangkan ketika kita punya rancangan perjalanan alias itinerary yang mumpuni. Karena, sejatinya, mendaki gunung adalah tentang kesiapan kita secara mental, material, dan imaterial dalam menghadapi gunung seberat apapun. Tanpa itinerary, pendakian gunung akan terasa pincang, hampa, hambar, dan tidak aman. Ibarat kata, itinerary nilainya adalah 50% dari keberhasilan pendakian itu sendiri. Sama kayak mau ngelamar anak orang, musti punya kesiapan baik mental, moral...... ah, udahlah, males bahasnya.




Nah, apa aja sih yang tercakup dalam itinerary pendakian gunung itu?

Adalah planning perjalanan itu sendiri, kapan berangkat, sampai kapan, kumpul di meeting point mana, jam berapa kumpulnya, jam berapa ngapain aja, targetnya sampe lokasi jam berapa, gitu-gitu. Termasuk juga peralatan pribadi yang harus dibawa, pembagian peralatan dan logistik rombongan, serta pembagian pacar. Yang terakhir gak usah dianggap serius, sih.

Beklah, as a pendaki virgo tulen yang termakhtub di dalam kitab 12 Jenis Pendaki Menurut Zodiak ayat pendaki virgo, based on sifat-sifat itu, setiap gue bikin itinerary pendakian selalu penuh dengan perhitungan yang matang, cenderung perfeksionis, dan membawa-bawa faktor "kalo nanti begini, maka harus bawa ini", "kalo nanti ini, maka itu". Ya sebenernya sih, bukan cuma gara-gara faktor zodiak aja, tapi pengalaman mengajarkanku demikian. 



Singkatnya, cek aja contoh-contoh itinerary yang gue buat untuk ke Ciremai dalam waktu dekat:

Itinerary:

Ciremai Starts 29* dari Jakarta.

29 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
08.00 - Team Jakarta Kumpul di Kampung Rambutan
09.00 - Berangkat ke Kuningan
17.00 - Sampai di Kuningan, dijemput Team Kuningan, Belanja belanja logistik tambahan. Jalan-jalan. Modusin kembang desa. Bobok.

30 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
07.00 - Berangkat ke Basecamp Ciremai
08.00 - Sampai di Basecamp Ciremai Jalur Linggarjati
08.30 - Adventure begins.

30, 31, 1 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
Adventure happens.

1 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
Perjalanan pulang ke rumah team Kuningan.

2 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
Sanpe di rumah team Kuningan, bobok bentar, malamnya, team Jakarta kembali pulang ke Jakarta.

3 Bulannya-Sengaja-Dirahasiakan 2014:
Sampai di Jakarta! Sampai jumpa di trip selanjutnya!

Perlengkapan & Logistik Pribadi
Perlengkapan:
1. Sepatu/sendal gunung
2. Sarung tangan
3. Buff/slayer/syal
4. Topi + kacamata hitam
5. Sunblock + alat mandi
6. Kaos kaki tebel lebih dari 1
7. Kaos ganti, yg punya kaos Jalan Pendaki, wajib bawa!
8. Jaket polar/yang anget bingit + jaket wind-waterproof
9. RAINCOAT
10. SLEEPING BAG
11. Matras
12. Kamera dan tetek bengeknya
13. Dry bag, trash bag, plastik cadangan
14. SENTER KEPALA
15. Kupluk
16. Powerbank
17. Sendok, garpu, piring, gelas
18. Tissue basah + kering
19. Restu orang tua, pacar, pasangan hidup, binatang piaraan, paman, tante, pakde, bude, temen kantor, temen kuliahan, mantan, gebetan, duh banyak yeh.

Logistik:
1. Air 1.5 liter 5 botol (co), 3 botol (ce) + air 600ml 2 botol
2. Obat pribadi: tolak angin, minyak kayu putih, balsem, salonpas, diapet, norit, vitacimin, vit b1, counterpain, uc1000, hansaplast, betadine, kassa, obat asma dll
3. Buah-buahan (optional)
4. Jasjus/nutrisari sachet
5. Madu, coklat, permen, snack pribadi, roti
6. Minuman rasa-rasa, misal rasa yang tak pernah ada atau rasa yang dulu hilang kini muncul kembali
7. Kertas + spidol buat nulis2 / udah diprint dari rumah

Perlengkapan & Logistik Rombongan
Perlengkapan:
1. Tenda (NP & G)
2. Nesting + kompor (G, NP, R)
3. Gas (M 2, NR 2)
4. Lampu badai NR)
6. Korek (bawa masing2)
7. Sunlight + sabut cuci (NR)

LOGISTIK:
1. Beras, gue akan bawa semacam nasi instan. Buat 4 org. Jadi beras butuh 3kg lg. (NR, R, NP, M, masing2 bawa setengah kilo)
2. Mie instan. (Masing-masing 5 bungkus)
3. Kopi 10bks, energen 10bks, susujahe 10bks (NP)
4. Roti tawar/roti isi (NR 1, M 1)
5. Biskuit (NP)
6. Buah-buahan (G)
7. Nugget (NR, NP)
8. Sarden (R, M)
9. Telor 12 biji, ada yg punya tempatnya? (G)
10. Sphagetti Instan + bumbu (NR)
11. Minyak goreng + mentega (M)
12. Selai (M)
13. Sop sopan (R)
14. PISAU (NP, R)
15. Ayam Ungkep (iuran)
16. Bakso? Kornet?
17. Nasi rames. Buat makan di awal2. (Beli di sana)
18. Jelly bungkus siap makan (G)
19. Kacang atom, kacang2an asin (NR, NP)
20. Sambel, saos, kecap, kecap pedas (R, M)
21. Tempe. Pasti enak bgt! (R, M)
22. Keju balok + coklat balok (R)
23. Korma (NR)

*singkatan di atas (NP, R, NR, M, G) adalah singkatan nama orang dalam rombongan gue.

Begitulah kiranya. Terkesan ambisius yes kayak mau bikin hajatan di gunung Ciremai? Nyahhahaha.

But again, itinerary ini sangat penting buat pendakian. Untuk apa?

Untuk menghindari resiko waktu yang terlalu ngaret dari jadwal, ketinggalan kereta/pesawat/bis, kekurangan makanan, minuman, bahkan peralatan yang sifatnya sangat vital. Juga untuk meminimalisir resiko serius maupun resiko main-main. Tapi aku sih sekarang udah gak bisa main-main lagi, udah harus serius.

.............

Itinerary harus dibuat berdasarkan riset soal medan, kondisi, lokasi, dan mitos gunung tujuan, pengalaman dari teman atau diri sendiri, jumlah orang dalam rombongan, kebutuhan khusus personal, dan juga daya juang serta kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing personal dalam rombongan.

Demikianlah kiranya. Babang Usss~~ciiii~~~taaaaa. Bhay!


***

Tidak lupa mengingatkan:

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!

Thursday, July 24, 2014
Posted by Acen Trisusanto

#JalanPendaki #CeritaKita: Agung Story

Jadi, setelah sekian lama delay karena gue sakit, males, dan gak punya banyak waktu buat apdet JalanPendaki, akhirnya, #JalanPendaki #CeritaKita, cerita dari Agung Gideon, pemenang terakhir, bisa gue update juga. Maafin babang, Agung... :'(

Beklah, langsung aja simak!


****

MERBABU, TERIMA KASIH!




3142 Mdpl? Yuup, tingginya Tiga ribu seratus empat puluh dua meter diatas permukaan laut, apa itu? Sebuah gunung yang bisa dipandang dari Kota saya tercinta, Magelang Kota Sejuta Bunga, yaitu Gunung Merbabu.

Berawal dari perkenalan di angkringan Pak Pinul dengan Mas Febriawan aka Embek, seorang Mahasiswa tingkat akhir UPN Yogyakarta yang saat ini sedang berjibaku dengan skripsinya, yang punya impian untuk pakai toga dipuncak Rinjani. Oh iyaa perkenalan ini tidak lepas dari Mas Hari Gendut, yang mencomblangkan saya dengan mas Febriawan, sehingga kami dapat berbagi cerita dan pengalaman sampai melakukan pendakian bersama.

Sebelum keberangkatan menuju Merbabu saya dikenalin nih sama Aak Tomi, Mbak Fika, Mas Abdul, Mas Nanda, dan Mbak Ista. Perjalanan bersama teman-teman baru, yeaaahh pasti seru dan menyenangkan!

***

Saya, Tomi, Fika, Abdul dan Embek berangkat dari Yogyakarta, sedangkan Nanda dan Ista dari Solo, kami ketemuan di pertigaan Kartasura, untuk selanjutnya ke Base Camp Merbabu di Selo. Menyusuri lampu malam yang menerangi Boyolali, membeli kekurangan logistik di Indomart depan pasar Cepogo, kebetulan juga saat itu bulan begitu bundar dan terang, bulan purnama kali yee, ditanjakan dari Cepogo menuju Selo pemandangan lampu Kota Solo begitu WOW, gemerlap indah sekali.



Bulan purnama mengiring hentakan kaki kami, dimulai dari basecamp di lereng Merbabu pukul 22.00 WIB kami mulai melangkah, menatap 3142 Mdpl. Mengucap doa penuh syukur, karena cuaca sangat cerah, jalan hutanpun terasa terang tanpa senter, seakan terang cahaya bulan ingin terus menemani kami sampai target camp pertama kami di Batu Tulis. Memantapkan pijakan kaki, membawa beban dan mengatur nafas diri serta berdoa dalam hati, kamipun sampai ditempat camp pertama kami malam itu. Segera mungkin membagi tugas, tenda, kompor, nesting langsung kami keluarkan, bergegas untuk mengisi perut dan beristirahat, saat itu sekitar pukul 3 pagi.

Rembulan masih bulat, bintang pun bersinar. Kami terlelap diatas rumput Camp Watu Tulis, didalam dua tenda. Semoga esok cerah!




Sapaan santun Matahari membuat kami bergegas keluar dari dalam kantung tidur, melompat keluar tenda. Bulan bulat utuh masih ada dilangit, walau sudah tak sebesar semalam, tapi masih saja jelas, terang. Kami sedikit berjalan naik menuju punggungan, BOM! Merapi terlihat berseri-seri. Kami mengabadikannya Merapi dari Watu tulis dan Sunrise pagi itu.

Selesai bongkar tenda dan packing 'kulkas', kami membentuk lingkaran, dan kami berdoa pagi itu, supaya tetap diberi kelancaran dan cuaca yang cerah. Jalan yang ada didepan nggak berkompromi lagi, langsung tanjakkan menuju Sabana 1, jalurnya banyak bercabang. "Pilihlah jalanmu sendiri nak" kata Tomi.

Treknya kering dan berdebu, bisa dipastikan kalo hujan turun jalur ini akan menjadi wahana aliran air yang licin. Keringat keluar tanpa henti, napas berlari tak ada irama. Minum dulu bro. Oh iya jalur pendakian Merbabu via Selo nggak ada sumber air, selama mendaki air nggak bisa diisi ulang, kita harus mempersiapkan air sebaik mungkin mulai dari Basecamp.



Mencapai Sabana 1 seperti telah mencapai puncak karena selama dari Watu Tulis memang Sabana 1 itu sudah terlihat seperti titik tertinggi gunung yang mempunyai 7 puncak ini. Inilah ujian mendaki Gunung Merbabu, Gunung PHP kata Embek, ya karena saat kita seperti sudah sampai dipuncak eh ternyata masih ada lagi titik yang lebih tinggi.

Matahari yang semakin meninggi memaksa saya dan tim beristirahat di teduhnya pohon di Sabana 1 Gunung Merbabu. Minum air es, nyemil cemilan, tiduran, bertutur canda hari itu, aah kelak pasti kami akan merinduinya.

Menuju Sabana 2! Kami melanjutkan perjalanan siang itu menuju tempat camp kami selanjutnya, Sabana 2. Dari Sabana 1 menuju Sabana 2 sedikit ada bonus, tapi setelah itu nanjak lagi, dan langsung cadas om tanjakkannya. Ah sengatan Matahari tak terasa, kami terlindung oleh dingin Gunung Merbabu, tapi besok kalo turun tetap Kulit merah atau kulit gosong, hahaha.

Kabut menutupi Sabana 2 sesaat setelah kami sampai, Sinar Matahari tak mampu menembusnya. Karena hari masih siang kami santai-santai dulu, foto-foto, guling sini, menggelinding kesana, maen Uno. Cukup lama.

Tenda mulai didirikan, santap siang juga mulai kami persiapkan.

Lho? nggak muncak? Kami sih selow, karena mendaki gunung itu harus diresapi dan dimaknai, jadi besok pagi deh kami baru muncak, semoga cuaca cerah.

Malamnya Bulan kembali bulat besar indah terang, seandainya kita punya orang istimewa saat itu, pasti romantis abis dah. Tanpa api unggun, kami menjadi akrab dengan teman-teman pendaki yang mendirikan tendanya disamping tenda kami, berbagi kopi panas, coklat panas, makanan sambil bertukar cerita, seolah kami adalah teman yang sudah lama nggak ketemu. Itulah Gunung, mengakrabkan tanpa pamrih. Perasaan bahagia keluar tanpa kita bisa berkata-kata. Selamat Malam Embek, Abdul, Nanda, Tomi Fika, Ista.



Untuk bisa lihat sunrise di Sabana 2 kita harus sedikit ngosngossan naik ke Punggungan bukit di depan Sabana 2, kalo kita ke belakang, lagi-lagi kita bisa lihat Merapi tersenyum ceria. Kami tidak berburu Sunrise dipuncak pagi itu, padahal pasti itu moment yang banyak dicari para pendaki. Sunrise dipuncak, bayangkan sendiri perasaannya.

Sekitar jam setengah 7 siang kami meluncur menuju Puncak, sudah kesiangan sih, tapi cuaca cerah, jangan sampai terlewatkan, Tak ada kata terlambat. Kami semuanya menuju puncak.
Jalan dari Sabana 2 menuju puncak Trianggulasi sama saja cadasnya, nanjak terus om. Apalagi kalo ditambah bawa 'kulkas'. Ujian Fisik dan mental dah.
 
Setelah mangap-mangap, kadang keringat tak sengaja terselip diantara bibir, asin. Akhirnya. Tersujudlah kami di Puncak. Masih ramai, Merapi yang paling dekat terlihat gagah, Sumbing dan Sindoro akrab dikejauhan, 

Lawu sedikit tertutup Awan, masih coba kuterka, Magelang ada disebelah mana ya?
Indah ya? Bagus ya? Pokoknya saya cuma bisa senyum-senyum mengingatnya.

Batere dan MMC harus habis, tandanya harus foto sebanyak mungkin.



Puncak Trianggulasi dan Puncak Kentheng Songo, lama kami mengagguminya. Seperti Tiada berartinya kami. Terima Kasih Semesta. Semesta bukan hanya warisan Moyang kita, Semesta juga titippan untuk anak cucu kita.

Puas? sebenernya belum, kami masih ingin berlama-lama, tapi kami harus pulang ke rumah, kami turun langsung menuju basecamp, dengan membawa sampah. Bahagia dihati, syukur tanpa henti.



Saya merasa sangat berterima kasih bisa diterima oleh mereka, bisa mengenal mereka, dan sampai sekarang bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Mungkin inilah Jalan para pendaki, akrab dan berbagi dengan siapa saja tanpa peduli mereka itu siapa, tanpa banyak bicara.




Berjalan mengikuti liku tanda tanya jalan-Mu
Kau bimbingku dengan kabut dingin-Mu
Telentang dihijau Sabana Merbabu
Syukurku penuh akan kasih-Mu
 
Terima Kasih Semesta.



***

Romantis yeh ternyata si Agung Gideon? Mau kenalan? Bisa langsung DM babang! Masih single loh katanya. :p

Semoga terhibur!
Friday, July 18, 2014
Posted by Acen Trisusanto

Mendapat Hidayah Di Atas Gunung

Gue siang ini mendapat tantangan menulis dari salah satu teman di twitter @acentris:


Nah, bingungnya gue adalah, sebagai imam penulis yang baik, gue musti banyak-banyak baca buku. Sebagai pendaki yang baik, gue musti banyak-banyak mendaki gunung. Sebagai Islam yang baik, gue musti ikutin kaedah-kaedah islamnya. Nah, sebagai pendaki yang punya kegiatan mendaki gunung yang islami, rasa-rasanya.... gue... hm... gimana yah.... duh.... *sembah sujud*

Kemarenan sih gue baru manjat gunung Guntur (lagi) cuma demi pengen menuntaskan misi, ngerasain buka puasa dan sahur di gunung. Yang gue dapet sih emang awesome, buka puasa cuma pake buah pear dan minuman seadanya, di jalur pendakian gunung Guntur itu membanggakan sekaligus mengharukan buat gue pribadi.

Tapi kejadian selanjutnya macam keujanan di dalem tenda, tidur pake rain-coat, sahur pake snack, serta berujung tipes gue kambuh, rasa-rasanya bukan kegiatan naik gunung yang islami.

Eh, tunggu......

***

APRIL, 2011*
*kalo gak salah.

Udah genap 2 tahun gue gak beragama. Iya, gue agnostic. Alias percaya sama Tuhan, tapi gak percaya adanya agama.

Agama itu bullshit. Agama itu cuma buat orang-orang yang insecure. Agama itu pembohong. Agama itu... gak realistis.

Terutama Islam, buat gue, gak ada agama yang penuh dengan kebohongan, kemunafikan, dan kejahatan selain Islam. Islam itu jahat, penipu, pembohong, dan membuat gue marah. Apalagi, semenjak gue kejeblos masuk ke dalam suatu organisasi Islam yang memperjual-belikan surga dengan uang. Silahkan tebak sendiri apa organisasi itu. Untungnya, gue udah keluar.

"Cen, ayo cepet! Udah mau ujan nih!"

Teriakan Mas Sosro bikin ngelamunan gue soal mikirin agama jadi buyar entah kemana. Anyway, gue tadi ngelamun jorok soal agama bukan gak ada sebabnya sih, tapi berkat gue berada di tengah-tengah rombongan pendakian yang hampir semua pesertanya muslim yang taat, kecuali gue, tentunya.

Waktu berangkat tadi di bis, gue yang kebetulan sebelahan tempat duduk bareng Mas Sosro, ngeliat doi tetep ngejalanin solat 5 waktu meskipun di dalam bis. Sambil duduk. Gak heran kalau pendakian gue kali ini sering berhenti pas waktu solat dan gue, nungguin mereka solat.

Perlahan tapi pasti, meskipun masih teringat akan rasa kesal dan trauma soal organisasi Islam yang ngebuat gue berikrar keluar dari Islam dan menjadikan gue agnostic kayak sekarang ini, entah mengapa, perbuatan yang temen-temen sependakian kali ini lakukan bikin hati gue adem. Banget.

"Kita bangun tenda di sini aja, biar cepet bisa beberes. Anjir udah angin ujan tipis-tipis gini!"

Sesampainya di lokasi berkemah tepat bawah kawah puncak Gunung, tenda langsung dibangun demi bisa segera menikmati hangatnya berdesak-desakan di dalam tenda. You know lah, udara di gunung, terlebih di deket puncak gunung, itu jauh banget sama udara di perkotaan. Dingin menusuk tulang. 

Ditambah, ujan rintik-rintik dan angin yang lumayan kenceng. Ti*ti*t aja rasanya sampe beku.

"Solat di tenda apa di luar, De?"

"Di luar aja, Ri, belum gede banget ini ujannya. Sekalian tayamum."

Sayup-sayup gue denger percakapan temen-temen gue yang berencana bakalan solat di luar tenda. Ya Tuhan, cuacanya kan lagi gak bagus, lagi dingin banget pula, dan mereka tetep maksa solat di luar tenda!

Gue gak paham lagi sama ketaatan mereka dalam beribadah. Di saat banyak orang di kota, termasuk gue, yang males-malesan solat, mereka bahkan sampai dalam kondisi kayak gini masih inget solat, ibadah. Dan seinget gue, sampai detik ini, mereka gak ngajakin gue, karena menghormati gue dan tau kalau gue gak solat tanpa perlu tau apa latar belakang gue melakukannya.

Masih ada ya rupanya orang-orang beragama yang kece kayak gini?

Sementara gue sering banget berdebat sama orang-orang yang mengaku-ngaku Islam tapi gak memberi contoh yang baik, cuma bisa menyalahkan, menjudge, mem-vonis, dan menunjuk-nunjuk kesalahan gue dalam beragama tanpa sadar kalau mereka pelan-pelan udah berubah menjadi Tuhan itu sendiri. Judgemental-nya itu lho....

Dan ke-awesome-an rombongan pendakian gue dalam beragama sekarang ini... bikin gue....

"Gue ikutan dong, Mas!"

Tanpa sadar gue 'tertarik' untuk beribadah bareng mereka.

"Ya udah sini keluar! Kita solat bareng-bareng!"

Tanpa lama-lama lagi, gue segera keluar dari tenda dan bergabung sama temen-temen gue yang lagi meperin tangan mereka ke bebatuan, lalu di peperin lagi ke mukanya, ke tangannya. Gue ikut-ikutan, tapi gue cuma melambai-lambaikan tangan gue ke udara, kemudian meperin tangan gue tadi ke muka, ke tangan gue yang lainnya.

"Lo..... lagi ngapain, Cen?" tanya temen gue takjub ngeliat gue lagi tayamum. Lagian ngapain takjub sih, ada yang salah?

"Lagi tayamum lah, kayak lo pada....."

"BAHAHAHHAHAHAHHAHAHHAHHHAAHAHAHAH...... tayamun itu pake debu cen!"

"Eh, tayamum bukannya boleh pake udara?"

"LO KATA AVATAR????!""

Lalu temen-temen gue ngetawain gue lagi.

Dan gue milih menggali kuburan.

End.


***

Ps:

Sebulan setelah pendakian, gue masuk Islam lagi dengan mengucap dua kalimat syahadat disaksikan oleh sahabat gue dan seorang ustad.
Lokasi gunung tidak disebutkan karena cerita ini adalah potongan cerita di buku kedua gue nanti. #spoiler


Monday, July 14, 2014
Posted by Acen Trisusanto

Gunung Munara: One Day Hiking

Mas Harry, Nurul, Si ganteng, Ayu, Sandy, Apri yang motret

Pernah denger yang namanya Gunung Munara?

Daku belum pernah.

....4 minggu lalu.

Kesibukan yang mendera akibat pekerjaan yang tiada henti, pesenan kaos #JalanPendaki yang meskipun masih pre-launching juga alhamdulillah mengalir terus membuat gue gak punya waktu cukup banyak buat ikutan trip ke Gunung. 

Gue harus dadah-dadah sama temen yang ngajakin ke Sindoro. Musti ngelap air mata pas di ajakin ke Garut. Dan hampir minta dikucilin di pulau terpencil aja pas di ajak ke Lawu.

TUHAN, cobaan ini pedih banget. SAKID, TUHAN! Sakid!

Tapi kemudian gue teringat sama suatu gunung yang bisa dijangkau dari Depok dengan cepat, bisa buat light hiking cuma setengah hari, tapi tetep menantang dan membuat senang.

Setelah berhasil merayu-rayu sambil mengancam akan membuka aib Mas Harry yang muncul di cerita Merapi, akhirnya daku, beserta Nurul, Ayu, Sandy, Aprie dan Mas harry, tancap gas ke Gunung Munara. Bisa dibilang ini ngetrip bareng sebagian geng Jalan Pendaki, pertama kalinya.

***


Gunung Munara atau lebih tepatnya gue bilang sebagai kebon-yang-bertambah-tinggi ini berlokasi di daerah Kampung Sawah, Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Gosipnya, ini gunung punya ketinggian sekitar 800-an mdpl. Tapi di pengukur ketinggian jam tangan Mas Harry, yang dia bilang mahal itu, ketinggian Gunung Munara cuma 300-an mdpl.

Berhubung kami memanfaatkan Mas Harry karena doi ada kendaraan pribadi, bisa nyetir pula, maka kami cuma cekikikan dan tau-tau sampai ke lokasi. Buat kamu yang gak punya temen se-awesome Mas Harry, kamu bisa mengandalkan motor atau angkot kesayanganmu. Pokoknya, tujuan utama adalah mencapai Pasar Parung, nanti, kalau dari arah Depok, kamu musti nyebrang ke kanan ada gang pasar dan masuk saja. Ikuti jalan, sampai lah ke lokasi. Takut nyasar? Tanya sama warga. End.


Karena Gunung Munara itu adalah kebon-yang-bertambah-tinggi, maka peralatan tempur yang wajib dikau bawa adalah lotion anti nyamuk. Terutama buat kamu yang berdarah manis kayak daku. Iya, daku gak cuma darahnya doang yang manis, tapi orangnya juga. *kemudian disemprot baygon*

Karena pendakian ini sifatnya lucu-lucuan, ini bisa dilakukan one-day-very-light-hiking. Artinya, logistik bawa secukupnya aja, toh ada warung di hampir setiap pos yang jualan minuman dan makanan meskipun harganya agak mencekik batang leher anak kosan, tapi, anggaplah kalian berbagi rejeki, jadi gak akan mencekik lagi. Juga, gak usah terlalu rempong bawa baju sampai 15 setel seperti yang biasa gue lakuin setiap manjat gunung, cukup bawa baju yang bisa dipakai foto-foto dengan kecenya, kayak gini, misalnya:


Anyway, itu baju di atas dijual loh. Keren kan? Original Productnya #JalanPendaki tuh! Minat? Pesen aja! ..................#lah #malahjualan 

oke, fokus cen.

Jadi, dari kaki Gunung Munara sampai ke Puncaknya, kita cuma memerlukan waktu 2 jam. Itu udah pake foto-foto loncat-loncatan segala. Oiya, tapi namanya gunung, meskipun macem kebon, mulut tetep harus dijaga yah. Soalnya, kejadian saat itu, gue lupa siapa yang ngomong, sebut saja--gue sensor yah biar gak terlalu vulgar--, sebut saja A*yu atau Har*ry, gue lupa yang mana:

"Wah, jalanannya kayak gini sih, gak mungkin lah kita bisa nyasar." kata oknum yang disebut A*yu atau Harr*y tadi.

Pas di jalan turun, KAMI NYASAR SEJAM AJA DONG. *gebukin tukang rujak*

Tapi, overall, meskipun cuma ratusan mdpl, keindahan Gunung Munara, tiada bandingannya. 


Nah, itu Aprie yang pake kemeja item, giginya dipagerin





Koleksi baju #jalanpendaki, dibeli kakakkkk


Pada akhirnya, gue cuma mau bilang, Gunung Munara ini alternatif tujuan pendakian kalau dirimu gak punya waktu lebih buat mendaki. gak perlu ngecamp, gak perlu nyewa tenda, gak perlu bunuh-bunuhann sama temen soal pembagian logistik, dan kamu akan disuguhi pemandangan yang awesome!

Seperti biasa,

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!

Mendadak Rider




Bulan lalu, gue punya kesempatan buat ketemu orang tua gue di kampung karena udah bertahun-tahun gak ketemu.

Iya, aku beda tipis sama bang Thoyib. Iya. Tapi kata mamah, aku ganteng sih.

Kebetulan, gue dikasih rejeki buat mencicil tipe motor yang gue idam-idamkan sejak masih SMA. Karena masih baru dan unyu-unyu banget, gue pengen menjajal yang namanya touring ke Jawa. Jadilah gue pilih destinasi yang udah jelas, yaitu kampung halaman, dimana Bapak Ibu dan Adik daku tinggal, Cilacap, Jawa Tengah.

Jadi sebenernya, pulang kampungnya itu cuma modus biar bisa touring pake motor. Muahhahahaha. 



Karena bukan geng motor, jadilah daku touring seorang diri. Awalnya sih, ngeri banget. Karena you know-lah, daku kan culikable, jadi masih agak was-was gitu. 

Menurut google maps, jarak antara Depok - Cilacap via jalur selatan (Bandung - Tasikmalaya - Banjar - Cilacap) itu berjarak 400an km. Asumsinya, dengan perjalanan 60km/jam maka, gue akan mencapai cilacap dalam waktu 10-12jam. Kok bisa? Hitung sendiri pake rumus phytagoras. 



Berangkatlah daku dari jam 4 pagi menembus dingin, kegelapan, dan kesepian. Serta kebelet pup dan pipis. Dalam waktu 1 jam, daku sudah mencapai puncak! Dan berikut foto puncak di pagi buta:



Bergerak dari puncak, gue masih harus ngelewatin Cianjur dan Padalarang, beruntung karena masih pagi dan belum weekend, jalanan gak serame waktu gue touring bareng temen-temen ke Bandung.

***

"Mas, mau tanya, kalau mau ke arah Cilacap itu kemana ya, Mas?"

Tanya gue kepada seorang Rider beneran di suatu lampu merah di Bandung. Gue hilang arah. Dan hilang akal.

"Oh mas, nanti lurus aja, lalu belok kanan, lalu kanan lagi, lalu kiri, lalu bla bla bla bla syalala cik cik waw waw," jawab Mas Mas rider itu. Asli, gue cuma mangap.

"Ngg.... Nganu mas, aku gak paham, apa perlu aku menghilang dari kehidupan mas aja?" Timpal gue hopeless.

"Aduh, masnya ini baru pertama ke Jawa naik motor yah? Kalo gitu, ikutin saya aja yah...," sambut masnya lebih hopeless lagi.

"Makasih Mas! Saya Acen, btw..."

"Oh! Saya Jonathan..."

Kemudian kami bersalaman. Gak, gak ada drama percintaan setelah ini.

Begitu lampu merah berubah menjadi hijau, Mas Jonathan langsung ngasih kode buat ngikutin dia. Bukan kode buat modusin dia. Tapi..... Sejurus kemudian doi melesat bak Jorge Lorenzo, menembus truk-truk berukuran besar, dan nyalip-nyalip mobil motor yang seolah-olah gak ada di hadapannya.... dan doi lupa sama keberadaan gue.

Gue cuma terpana. Serta ingin sekali mengejar dan menepuk pundak Mas Jonathan sambil berkata:

"Baiklah mas, aku benar-benar akan menghilang dari kehidupan mas. Tq."

***

Perjuangan mengejar ketertinggalan gue dari Mas Jonathan rasanya kayak lagi ikutan balap MotoGP kelas teri. Doi dengan kecepatan standarnya 130km/h. Gue dengan kecepatan maksimal 80km/h. Itu pun udah pake dibantu doa dan nangis segala.

Untungnya, Mas Jonathan ini asli baik, gue ditungguin sesekali kalau gue udah gak keliatan batang hidungnya. Sampai pada suatu pertigaan dimana... Arah hidup gue dan hidupnya harus terpisah. Dia musti ke Sumedang, sementara gue musti ke Cilacap. Kebersamaan kami harus berakhir di pertigaan tol Purbaleunyi. Sedih sih, tapi, bukan kah ada pertemuan pasti ada perpisahan?

.....ini ngapa jadi drama gini. #lah

Perjalanan dari Bandung, Nagrek, Rancaekek, Garut, lanjut terus ke Malangbong, Tasikmalaya, sampe Banjar gak ada yang spesial kecuali sesekali gue ketiduran pas lagi nyetir dan kebangun pas tiba-tiba ada truk di depan gue. Duh, serem sih. Jangan ditiru.

Jalan yang berkelok-kelok serta kondisi cuaca yang makin panas, membuat hape gue yang tadinya idup terus nunjukkin jalan via gps google maps, tiba-tiba kepanasan dan matot. Mau gak mau gue musti ikutin jalan, banyak nanya, dan dikit-dikit berhenti di Alfamart atau Indomaret buat beli minum. Ngomongin soal Alfamart dan Indomaret itu persis kayak hubungan kita, selalu berdampingan tapi tak pernah bisa satu. #pret #bhay #cikcikwawaw

Yang paling seru dari perjalanan gue ke Jawa adalah.... perjalanannya. Ya keleus.

Sampai akhirnya gue sampai ke kota dimana gue dibesarkan dan.....

.....jualan pempek bareng nyokap. :')

Thanks for reading!
Wednesday, June 25, 2014
Posted by Acen Trisusanto

#JalanPendaki #CeritaKita: Sandy Story


YUP!

THANKS GOD IT'S FRIDAY!!!! Seperti biasa, selama 3 minggu berturut-turut di Jumat malam, kita akan kedatangan cerita seru dari para pemenang #JalanPendaki #CeritaKita. Nah, kali ini, adalah cerita dari Sandy Andriansyah, dari Garut. Gak usah pake lama, yuk dibaca!


***



Ding dong *suara sms masuk*

A: "aa, anak-anak pada ngebatalin ke cikurai, diundur ga papa yaaaaaa?"
Gua: "ooooo gitu ya, yaudah ga kenapa-kenapa, jangan dipaksain," *sok bijaksana padahal nyesekkkkkkk!!!!

Perlengkapan udah siap, semangat udah menggebu-gebu pula. Dibatalin pas hari H itu dongkol sedongkol-dongkolnya. Aarrrrrggghhhhh!!!!! Gw liat cuaca pagi itu cerah banget, dalam kedongkolan yang luar biasa muncul deh ide "GILA" untuk naek Gunung Guntur sendirian. Gw udah cukup hatam jalur pendakiannya, di puncak bakal ngebivak, ngebivak dah! Yang penting naek!

Ga pikir panjang lagi, gw langsung naek angkot ke tanjung,  nyampe tanjung jam setengah 10an gw dapet tebengan truk ke Ciitiis, lumayan bisa hemat tenaga. Naek truk ke Citiis itu... serasa naik paus akrobatis ampe langit ke 7 haha :P

Jam 10an gw udah nyampe di citiis, ga pake istirahat, gw langsung tancap gas menuju puncak dengan irama 3/4 "lagu indonesia raya". Bosen pake jalur citiis, kali ini gw coba pake jalur tengah, walaupun ga nemu dataran yang landai dan terus nanjak, menurut gw jalur ini lebih  ringan daripada jalur Citiis yg didominasi tangga-tangga batu dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Jam 11an, ditengah perjalanan, gw ketemu ama rombongan dari Jakarta yang lagi istirahat. Ada 8 orang, 6 cowo, 2 cewe.




Sambil istirahat, kita ngobrol, ternyata mereka start dari jam 8, "buset lelet banget!" gumam gw dalam hati. harusnya dari tadi udah pada nyampe puncak ini rombongan. Setelah bincang-bincang mereka ngajak ngecamp bareng, kebetulan tenda mereka bakalan kosong katanya, kaga gua tolak dong dari pada ngebivak! :P

Setelah cukup istirahat bareng temen-temen baru dari Jakarta, kita mulai berangkat, kali ini temponya rendah banget, ketukan 2/3 kaya lagu syukur. Di tengah perjalanan kami nyempetin makan siang, tidur siang, baca novel, sampe meni-pedi pulak. Setelah makan siang rombongan jadi tebagi 2, rombongan gw ada 4 Orang, gw, Vitra, Bayu, ama 1 cewe yang ga gw tau namanya ampe sekarang *pemalu stadium 5 hihi. 

Rombongan gw nyampe lebih awal kira-kira jam setengah 4an, langsung teriak di batu bangkong, semacem ritual setiap nyampe puncak gunung. Sambil istirahat, gw nyemangatin yang laennya biar cepet nyampe. Puas istirahat, sambil nunggu rombongan 2 yang kaga nyampe-nyampe, rombongan gw mutusin buat bangun dulu tenda, ternyata di Puncak Bohong udah banyak tenda berdiri, ada sekitar 7-8 tenda. Emang ga salah gw mutusin naek hari itu, cuacanya cerah bingitttttt broooooo, hamparan kota garut, deretan gunung-gunung terlihat jelas, ditambah lagi hamparan ilalang berwarna ungu yang cuma bisa diliat musim kemarau di gunung guntur, amazinggggggg dah.



Jam setengah 6 rombongan ke-2 baru nyampe puncak, kami mutusin langsung masak buat makan malem. Menjelang jam 8an masakan kami udah mateng, lumayan banyak variasi menu makan malem kami, ada sarden, telor dadar, nuget dan sambel terasi, nyam nyam nyam... langsung kami santap sambil menikmati gemerlapnya lampu kota garut. Setelah kenyang acara dilanjut bincang-bincang diselingi canda tawa, gw termasuk orang yang susah beradaptasi dengan lingkungan baru, cukup jadi pendengar yg baek, kalo di tanya, ya jawab, kalo ga ditanya, ya diem aja. HAHAHAHA. Setelah puas ngobrol sana-sini dan berhubung kabut udah mulai turun kami mulai masuk tenda, persiapan buat besok pagi menikmati sunrise dari puncak ke-2.

***

"Woi mau liat sunrise ga???"



Teriakan yang kenceng itu bikin gw terbangun dari tidur. Cuaca pagi itu lumayan dingin, kerasa ampe ke sumsum. Setelah minum teh panas dan makan 6 sendok mie goreng, kami mulai naik ke Puncak Dua, perjalanan terasa cukup berat, kadar oksigen masih tipis membuat kami sering terbatuk-batuk. Setengah 6 kami sampai di Puncak Dua, setelah ditunggu-tunggu, itu sunrise kaga nongol gara-gara kumpulan awan di sebelah timur. Mengobati rasa kecewa kami puas-puasin foto-foto disana. Jam udah nunjukin setengah 7, itu tandanya gw harus cepet turun berhubung gw gawe hari itu. Ya sekali-kali kesiangan ga papa kan *padahal hampir tiap hari ksiangan haha*

Setelah pamitan gw langsung turun ke Puncak Bohong, packing barang-barang dan langsung meluncur, gw ambil jalur Citiis berhubung setengah perjalanan jalur Citiis didominasi kerikil bisa menghemat waktu. Gw turun dengan hati riang, seluncuran sambil nyanyi “Cicilalang e sosorodotan” *nyanyi ala sule. Gw meluncur dengan cepat maklum pake sepatu baru merk hi-tec haha *pamer ngejar waktu biar ga terlalu siang nyampe kantor.

Setelah 20 menit berjalan, DREKKKKKKKKKKKK, jederrrr, dorrrrrr, Buuuummmmm, adawwwwwwww gw serasa kesambar petir disiang bolong, hal yang paling gw takutin selama naik gunung terjadi, lutut gw yang pernah cidera akibat tabrakan dengan angkot (sialan) terulang lagi kali ini! Tempurung lutut gua ngegeser lagi dan rasanya itu luarrrrrrrr biasa sakit!!!!!  



Kalo gw kaga inget gw itu cowo paling ganteng dan kece, gw pasti udah nangis tersedu-sedu. Gw duduk terkulai lemas merasakan sakit yang teramat sangat. Gw mikir pasti kesiangan masuk kantor... halahhh! masih aja mikirin kantor, buat turun aja gw bingung banget gimana caranya. 

Berhubung di Gunung Guntur sinyal hp nyampe kepuncak gw kepikiran buat ngambil hp terus nelfon temen buat panggil tim SAR, atau polisi atau penghulu, atau siapa aja dah yang bisa bantu gw turun, kan enak gw bisa turun sambil tiduran diatas tandu...  tapi harga diri gw mau disimpen dimana?????? Mau nunggu ada rombongan turun kaga tau kapan turunnya belum tentu lewat jalur ini pula, keburu mati gw, mana persediaan air cuma 1 botol mineral lagi. Akhirnya gw putusin untuk terus turun dengan keadaan pincang, gw mulai dengan ngesot ala suster horor yang terkenal itu di jalur penuh kerikil, tangan dan pantat gw pegel minta ampun, 2,5 jam gw baru bisa lewatin itu jalur kerikil itu.

Penderitaan gw belum selesai sampai disana, trek dengan turunan dengan kemiringan rata-rata 70 derajat sudah menanti. Pengen nyerah rasanya, gw mulai memaki diri sendiri, dendam gw sama tukang angkot yang dulu nabrak gw bangkit kembali.... arrrrgggghhhhhhh sial bgt gw!!!!! Melihat matahari yang semakin meninggi gw mulai jalan lagi, kaki gw kaga sanggup jalan normal jadi gw turun dengan cara mundur, agak mendingan dengan cara ini karena beban di lutut ga terlalu berat. Turunan demi turunan gw lewatin dengan sangat lambat, dan pas gw mau minum ternyata air gw habisssssssssssss!!!!!! Kampretttttttt bener dah, kerongkongan gw udah kering, mulut udah terasa pait banget!

Di tengah perjalanan suara air terjun Citiis mulai terdengan mendekat menambah semangat gw untuk terus jalan, kaki gw bergetar kuat banget sesekali gw berhenti untuk memijat kaki. Setelah 2 jam perjalanan gw nyampe air terjun Citiis, seneng bingiiiiittttt rasanya! Kaya ketemu mantan yang udah lama ga ketemu tapi masih kita sayang bgt :’( *curcol. Gw ga peduli lagi air itu tercemar kek, ada kotoran orang kek, yang penting gw minummmmmmmmmm, gw isi botol gw yang udah lusuh buat perbekalan ngelanjutin perjalanan.

Setelah istirahat beberapa saat gw lanjutin perjalanan, gak nyampe setengah jam, gw nyampe di tempat penambangan pasir yang paling gw benci karena terus menerus merusak gunung guntur, tapi saat itu, tempat itu jadi tempat idaman gw, tempat itu bagaikan taman penuh bunga yang indahhhhhh banget, gw selusuri tempat penambangan itu masih dengan kaki pincang, dan akhirnya terlihat ada truk yang sedang diisi pasir... huaaaaaaaaaa rasanya pengen cipokkkkk itu supir truk ama penambang pasir, akhirnya gw sampeeeeeeee!!!!!



Gw minta izin untuk numpang truk sampe tanjung dengan muka memelas, dan supir itu pun ga nolak, ga lama truk itu sudah penuh dengan pasir dan gw langsung naik diatas truk itu, nyaman banget dah seperti tidur diatas springbed empuk dikelilingi selir-selir :P. Di perjalanan sesekali gw melihat ke arah puncak, gw ampe ga abis pikir sendiri gmn caranya gw bisa menuruni gunung itu dengan kondisi kaki seperti ini, hari itu gw serasa jadi pemeran film 127 hours hahaha, tapi nasib gw lebih beruntung dari dia, gw ga harus meminum air seni dan memotong tangan gw sendiri.

Kejadian ini ga bakalan bikin kapok gw untuk naik gunung, gw Cuma butuh rehat beberapa waktu untuk memulihkan kembali lutut gw sambil ngerjain skripsi yang ga kelar-kelar hahahaha. Semoga cerita gw ini jadi pelajaran bagi temen-temen semua yang membaca. Please, hindari mendaki/menuruni gunung seorang diri. Sebelum mendaki/menuruni gunung jangan lupa pemanasan dulu. Jangan lupa juga izin orang tua, gw inget waktu itu gw ga sempet izin ama orang tua *anak macam apakah gw ini. 

Utamakan keselamatan bukan kecepatan, Hati Hati Di Jalan Keluarga Anda Menanti Di Rumah

Sekian

Salam lestari !!!



***

Semoga terhibur!

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!


Friday, June 20, 2014
Posted by Acen Trisusanto

Fakta-fakta Pacaran Sama Pendaki Gunung

Sumber gambar: twitter




Kamu punya pacar yang hobi mendaki gunung, tapi karena hobinya itu kamu malah pengen mutusin dia?

Kamu yakin?

Coba kali pikirin lagi deh, Pendaki Gunung itu punya beberapa keunggulan yang mungkin bisa kamu jadikan bahan pertimbangan.

PENDAKI GUNUNG ITU SABAR
Siapa yang gak setuju kalau mendaki gunung, dari kaki gunung sampe puncak gunung itu membutuhkan kesabaran, keuletan, ketelatenan, dan ketabahan?

Kesabaran adalah salah satu kunci keberhasilan para pendaki gunung mencapai puncak. Sekali dia gak sabaran, dia akan quit dan pulang. Tapi, kebanyakan para pendaki gunung itu punya batas kesabaran di atas rata-rata. Meskipun lelah, letih, lesu, dan loyo, tapi dengan sabar dia mendaki tanjakan demi tanjakan agar sampai ke puncak gunung.

Kamu suka ngambek? Betek? Bencik? Uring-uringan gak jelas? 

Ngadepin gunung yang rajanya PHP aja doi sabar, apalagi cuma ngadepin kamu?

PENDAKI GUNUNG ITU ROMANTIS
Siapa bilang pendaki gunung itu cuek, gak peduli penampilan, gak peduli pasangannya, dan gak romantis?

Pendaki gunung itu the most romatic people lagi, kalau kamu mau tahu.

Coba pikirin, ketika kamu lagi sedih, cemas, dan marah-marah karena tau doi mau mendaki gunung, dia cuma memandang kamu dalam-dalam, lalu memelukmu sambil berkata:

"Jangan khawatir. Aku pasti pulang. Buat kamu....,"

Kapan lagi bisa digituin? Kapan lagi?

PENDAKI GUNUNG ITU SETIA
Udah bukan rahasia lagi kalau pendaki gunung itu setia. Mendaki gunung itu susah. Mendaki gunung itu capek. Mendaki gunung itu nyusahin. Mendaki gunung itu berbahaya.

Dia tau itu semua, tapi, dia tetep aja gitu setia mendaki gunung jenis apapun. Tetep aja gitu berusaha meluangkan waktu di sela-sela cuti kerjanya, di liburan weekend-nya, bersakit-sakit, capek-capek, susah payah, demi ketemu gunung. 

Apalagi ketemu kamu, yang jelas-jelas juga bikin dia bahagia?

PENDAKI GUNUNG ITU ROYAL
Naik gunung itu membutuhkan modal yang cukup besar. Kita semua tau itu. Coba dicek ke toko enci sebelah, barang-barang naik gunung mana yang murah? 

Meskipun cuma merk lokal aja mahal loh!

Tapi doi tetep aja tuh, beli-beli peralatan mendaki gunung. FYI aja, pendaki gunung itu suka membagi-bagi logistik atau makanannya ke pendaki lainnya, meskipun gak dalam satu rombongan,

Kebayang kan, gimana royalnya pendaki gunung itu?

PENDAKI GUNUNG ITU CINTA KEBERSIHAN
Pernah dimarahin sama pacar kamu yang pendaki gunung itu gara-gara buang sampah sembarangan? 

NAH! 

Gak cuma sama kamu, bahkan sama orang yang gak dikenal pun dia berani marah-marah kalo buang sampah sembarangan. 

Coba, bakal sebersih apa rumah tangga kalian kalau sama pendaki gunung? #eh

PENDAKI GUNUNG ITU MELINDUNGI
Banyak banget kejadian yang bisa terjadi di gunung, misalnya, gelinding dari atas terus kepentok batu, dan mati.

Misalnya, kepisah dari rombongan, terus ilang berminggu-minggu, dan tau-tau pas ketemu udah mati.

Misalnya, ketemu macan dan.... Lah ngapa gue jadi nakut-nakutin.

Tapi, hal itu gak akan terjadi karena para pendaki gunung itu saling melindungi satu sama lain. Memastikan temen-temennya aman. Membuat suasana jadi lebih hidup. Ngejagain temen-temennya.

Coba kalau sama kamu, pasti bakal dia jaga sepanjang hidupnya. 

PENDAKI GUNUNG ITU MENYENANGKAN!
Kecuali adi yang ada di cerita [Bukan] Cerbung Semeru, kebanyakan para pendaki gunung itu menyenangkan! Saling buli-bulian, lucu-lucuan, kadang kentut-kentutan.

Padahal, bisa jadi itu baru pertama kali ketemu sama rombongannya. Bisa jadi hatinya lagi resah karena sesuatu.

Tapi, mereka tetap berusaha membuat suasana jadi hidup dan menyenangkan! Bukan apa-apa, mendaki gunung kalau diem-diem aja itu bakalan terasa garing dan cepet capek.

Pacaran sama pendaki gunung? Gak bakalan garing!

PENDAKI GUNUNG ITU MOTIVATOR HANDAL
Coba kasih tau gue, siapa motivator yang dirimu kenal. Mario Teguh? Billy Boen? Agung Hercules? Bondan Winarno?

Lewat semua sama kemampuan para pendaki gunung memotivasi orang lain!

Mereka tuh hebat-hebat lagi dalam memotivasi teman-temanya supaya tetap bertahan. Biar bisa sampe puncak sama-sama. Biar bisa pulang bareng-bareng.

Mereka akan selalu ada di setiap kelelahanmu, kegetiranmu, dan kesedihanmu menjalani pendakian sampai berhasil mencapai puncak sama-sama.

Gimana kalau kamu lagi pusing soal skripsi? Kerjaan? Jati diri? Persoalan hidup?? Bakalan dapet motivasi membangun deh dari doi!

PENDAKI GUNUNG ITU SURVIVOR
Untuk bertahan hidup di gunung, para pendaki udah punya banyak persiapan buat menghadapi SEGALA kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di gunung.

Doi akan browsing, tanya sana-sini, sampai punya pengetahuan paling gak, cukup lah, buat survive di gunung. 

Belum lagi, sering banyak yang terjadi kejadian yang aneh-aneh terjadi di gunung, tapi karena smart, doi bisa aja berusaha menemukan solusi dari permasalahan.

Misal, kehilangan arah, Doi akan cari segala jenis petunjuk yang bisa membuatnya keluar dari ketersesatannya.

Misal, ada teman yang hipotermia, doi akan bisa dengan sigap dan cekatan membuat temennya stabil lagi.

Kebayang kan, gimana cara dia mempertahankan hubungan kamu kalau sedang di ujung tanduk?

***

Masih kepikiran buat mutusin pacar kamu yang pendaki gunung itu?

Kamu yakin?

Kasian banget yah dia.

....................................kayak akuh. *nangis gerung-gerung*
Wednesday, June 18, 2014
Posted by Acen Trisusanto

Keriaan JalanPendaki 1st Anniversary



GUE. GAK PAHAM LAGI. SAMA INI. SIH.

















Tengah malam tadi, gue dibikin kesel sama adminnya JalanPendaki Whatsapp grup, alias member JalanPendaki Batch I yang bilang kalau doi mau vakum dari komunitas kecil ini. Dimana, si admin sialan yang kerap dipanggil Aid, tapi selalu memelas ke orang-orang biar dipanggil pake sebutan honey  ini, adalah orang yang ngasih masukan ke gue buat bikin komunitas.

Tepat jam 00.00, eh, lewat dikit ding, tiba-tiba gue di remove dari grup JalanPendaki. Makin kesel dong gue, makin mencak-mencak lah gue ke anak setan ini. Sampe beberapa menit kemudian, gue di joinin lagi, dan......

.......foto-foto di atas muncul satu per satu. Beserta ucapan-ucapan meriah dari para member JalanPendaki Batch I.

GUE. GAK PAHAM LAGI. SAMA ITU TADI. SIH.

Rasa kesel gue semua melebur jadi satu sama rasa haru, merinding, lemes, deg-degan, sekaligus nangis tipis-tipis dapet kejutan yang luar biasa di 1st ANNIVERSARY JALANPENDAKI. Seriously, im nothing without you, guys!

Thanks banget buat surprise party yang meriah banget meskipun dilakukan secara online dari belahan bumi Indonesia.

Thanks buat Dion, Eki, Liesa, jauh-jauh dari Semarang!

Thanks buat Benq yang ada di Padang!

Thanks buat Nophe, anak Depok yang lagi stay di Solo!

Thanks buat Sandy, pencetus ide foto-foto all over the world JalanPendaki yang berlokasi di Garut!

Thanks buat Ayu Diyah, Angky, Benba, Dita, Hanggarasih, Ikus, Leni, Njet, Muchlis, Dea, Reza, Rezza, Rinaldy,Shinta, Dedek Pisces, Uci, Onie! 

Thanks juga buat admin yang paling ngeselin dan sok ngegemesin, Aid. 

Thanks guys! Again, im nothing without you, gaes!

Thanks juga buat kamu yang udah setia baca JalanPendaki.com, semoga bisa terus menulis dan memberi inspirasi sampe ke depannya! Mau seru-seruan bareng komunitas kita? Yuk! Join aja disini! Makin rame, makin kece!

Again, Happy 1st Anniversary, JalanPendaki! 

Semoga makin kece, makin kiyut, makin menginspirasi dan bisa menjadi komunitas besar nantinya! :3



DIBACA PLIS

Tulisan, foto, apapun dalam blog ini adalah milik @acentris kecuali diambil dari sumber yang telah disertakan sumbernya. BOLEH mengambil sebagian atau keseluruhan DENGAN SEIJIN saya dan atau mencantumkan SUMBERNYA.

Saya baik, kan?

Thanks

Jalan Pendaki Community

Proudly Part Of

Proudly Part Of

Official Partner

Official Partner

Official Partner

Official Partner

Follow by Email

Author

My Photo

Ini Acen. 

Panggil aja gitu.

Gue ini pendaki gunung tapi takut segala jenis reptil mulai dari ular, kadal, kadal yang kayak ular, ular yang mirip kadal, dan kura-kura. Bukan takut sih, geli aja. Bhay!

Jalan Pendaki on Twitter

Jalan Pendaki on FB

- Copyright © Jalan Pendaki -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -