Perjalanan Panjang Buku #JalanPendaki



Dua tahun lalu.

Sebelum Penunggu Puncak Ancala  ngehits di pasaran dengen genre-nya, gua udah punya cita-cita menguasai dunia.

Eh, salah fokus.

Gua bercita-cita buat punya satu buku yang gua tulis sendirian berdasarkan semua pengalaman drama dalam kehidupan gua. Tentu aja, bukan drama sinetron ala-ala Tukang Bubur Naik Haji, tapi drama naik gunung.

You know lah, meskipun segala jenis drama yang gua jalanin pas naik gunung gua tumpahkan di #JalanPendaki ini, masih ada beberapa cerita yang sengaja gua sembunyikan dari khalayak. Di sisi lain, gua pengen banget punya satu karya yang bisa dibaca banyak orang, seenggaknya bisa menghibur lah.

Kenapa menghibur?

Meskipun gak lucu-lucu banget, tapi gua tau kapasitas gua belum sampai kayak ustad Felix Siawl yang menginspirasi banyak orang buat mutusin pacarnya. Atau kayak Bong Chandra yang bisa menginspirasi orang lain buat berwirausaha. Atau kayak para MLM fighters yang mulutnya manis banget di awal tapi endingnya disuruh cari 'kaki' juga. Kalau pun dapet banyak belum tentu langsung jadi miliarder. Leadernya yang kaya, kita yang mati. Duh, kok curhat.

Tapi ternyata sekali lagi, asa tak seindah realita yes?

Meskipun kepengen banget berkarya dan melihat buku gua mejeng di toko buku ternama, ternyata nulis buku itu gak semudah membalikkan telapak tangan. 

Begitu gua sign in kontrak buat menulis, dikasi deadline ini itu, dari dua tahun lalu, ada aja halangannya. Yang gak mood lah, yang begitu nulis langsung merasa tulisan gua belum pantes diterbitin lah, yang baca buku referensi malah jadi makin minder nyalinya, yang sibuk kerja, sibuk naik gunung, sibuk traveling.

Akhirnya, semua cuma pupus jadi mimpi belaka.

Sampai pada satu titik gua merasa gua susah tidur saking mikirin kenapa itu buku gak kelar-kelar. Padahal cuma tinggal dikerjain aja kok ya gak kelar-kelar. Gua merasa amat dihantui oleh buku sialan yang gua inginkan.


Akhir tahun 2015 kemarin gua memutuskan menarik diri dari peredaran.

Simpel, karena gua pengen banget menyelesaikan ini buku ambisius yang gua idam-idamkan tanpa terdistraksi oleh media sosial atau gosip terkini. Dan you know what, akhirnya kelar juga draft naskah buku gua dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2015. 

Dan dengan senang hati, pada awal 2016 ini gua menghubungi editor gua lagi setelah sekian lama gua takut menghubunginya karena gua PHP melulu gak kelar-kelar. Tapi, karma memang berlaku adanya. Ternyata menghubungi editor gua juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua nomernya tau-tau ganti. Gak bisa dihubungi.

I was like... OMG TUHAN MAAPKAN AKUUUUUU~

Setelah minta maap, gua baru ingat, di line-nya @JalanPendaki sempat ada nama editor gua nge-add gua as a friend. Gua coba-coba menyapanya. 

"Els...."

Tapi gak dibaca-baca. Gua nyerah.

Beberapa menit kemudian dibaca. Doang. Tapi gak dibales.

Saat itu gua merasa bagaikan Rangga yang menghilang sekian tahun dan tiba-tiba ngechat Cinta. Gua jadi tau pedih yang dirasakan Rangga.

"Yo, Cen!"

AKHIRNYA DIBALESSSSSSSS!


"Gua tadinya udah ikhlas, Cen...."

Kata Ry Azzura, editor gua. 

Menusuk tapi ada benernya juga kata-katanya dia. Selama dua tahun menunggu tanpa kabar, gak salah dong dia punya pikiran gua udah nyerah. Meskipun akhirnya kelar juga.

"Jadi, kira-kira kapan bisa selesai..."

"Kemungkinan April lah, siap-siap..."

Yha, gua udah siap menimang anak pertama gua. Bulan April 2016.

Coming soon, my very first book!

Siapa excited jugak????


Ps:
Nabung dari sekarang ya kakak-kakak semua! :3


Kya kya,

Acen.


5 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Di Gunung Pancar



Hai. Kangen gak sama ogut?

Beklah, karena kamu maksa banget kangen sama ogut, makanya ogut langsung bikin tulisan pertama di tahun 2016 ini. 

Kawasan Sentul, Bogor, ternyata menawarkan banyak tempat wisata lucuk dan menggemaskan yang bisa kamu datangi kala rindu jalan-jalan mendera tapi gak punya banyak waktu. Dan duit tentunya. 

Karena punya waktu gak punya duit itu rasanya sama kayak ngiris bawang merah. Pedih bet kak pedih.

Selain punya Jungleland, Leuwi Hejo, Curug Kencana, dan beragam Curug lain yang belum sempet gua tulis di sini, Sentul juga punya satu gunung ala kadarnya yang cukup populer di kalangan orang-orang dan makhluk halus.

Yha.

Welcome to Gunung Pancar!

*disambut daun-daun berguguran ala musim gugur*
*ternyata yang gugur bukan daun, tapi sayap laron*

Bisa ngapain aja sih di Gunung Pancar? Eits, jangan berkecil hati, meskipun ala kadarnya, di Gunung Pancar, kamu bisa melakukan hal-hal ini:

1. Hunting Foto

"20 ribu, Mas."

Ya. Pertama kali sampe di pintu welcome Taman Wisata Alam Gunung Pancar ini, kamu gak akan disambut dengan senyuman manis dan hangat ala Isyana, tapi langsung ditagih sejumlah uang dari petugas-serupa-debt collector di sana.

Tapi ya udahlah ya, kalau disenyumin bapak-bapak serem itu ngeri juga sih.

Setelah masuk di area Gunung Pancar yang kayaknya sih luas banget ya, kamu akan langsung disambut begitu banyak pohon pinus. Namanya juga Pine Forest. Sampai di sini, silahkan pilih lokasi yang paling cocok buat kamu melakukan aktivitas hunting foto seperti foto ala ala folkmagazine, foto pre-wed, foto selfie, foto alay, sampai foto menyedihkan kayak gua, yang selalu sendiri setiap hari. 

Kaos Kekinian by #BareSupply

Ps: 
Pine Forest di Gunung Pancar, mirip banget sama Hutan Pinus Imogiri, Jogjakarta. Jadi, kalau mau foto-foto yang lebih magis, datanglah pagi buta biar dapet kabut kekinian.

2. Camping
Hutan pinus beginian nih cocok banget buat kamu-kamu yang pengen ngerasain camping tapi mager banget buat mendaki jauh-jauh nan tinggi.

Cukup dengan membawa motor, mobil, angkot carteran, atau apapunlah kendaraan yang bisa dibawa dari tempat asal menuju Gunung Pancar, Sentul, ngana langsung bisa memilih lokasi camping yang menurut ngana paling cocok dengan suasana hati.

Mau menyendiri? 
Banyak lokasi nyempil yang bisa dipilih. 

Mau beramai-ramai? 
Bisa pilih lokasi yang ada di deket-deket jalan raya.

Mau folks banget?
Bisa lebih masuk lagi ke dalem hutan. Bae bae ya kesurupan.

Intinya, kalau kamu pemalas tapi pengen banget camping, Gunung Pancar cocok banget buat kamu.

Khusus buat pemalas yang berduit banyak, Glamping lebih cocok buat kamu.

Namanya juga Glamping. Glamorous Camping. Kemping ngehits nan glamor.

Artinya, tempat camping ini udah di sediakan dengan segala kemewahannya. Tinggal bawa diri dari rumah, langsung deh pindah tidur beberapa hari di Glamping Gunung Pancar.

Makan? 
Terjamin.

Tidur?
Aman.

Eek?
Tinggal plung.



4. Ziarah
"Mari mas, turun duluan."

Gua syok. Gemeteran. Ebuset, lagi fokus motret, ujuk ujuk ada bapak-bapak bertopi berpeci bundar lewat gitu aja. Ini orang kapan naiknya yak, tau-tau udah turun aja.

"Lho, darimana, Pak?" tanya gua penasaran.

"Ziarah mas..." jawabnya sambil menyunggingkan senyum. Kalau menyungingkan pantat kan gak sopan.

"Ziarah, Pak? Memangnya ada makam di atas?" 

"Ada, Mas. Ini ke atas dikit dari lokasi Mas sekarang ada satu. Kalau lebih tinggi lagi ada lebih banyak, Mas..." terangnya.

"Wow! Bapak bisa menjawab pertanyaan saya dengan benar! Bapak berhasil mendapatkan hadiah uang tunai sebesar satu milyar rupiah!!"

"YA ALLAH! ALHAMDULILLAH!"

Tentu saja, dua percakapan terakhir adalah kebohongan semata. 

Setelah ngobrol basa basi ala kadarnya dengan si Bapak peziarah yang gua gak sempet kenalan siapa namanya, takut disangka modus kalo nanya-nanya nama, akhirnya kami berpisah.

Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan.

Cuman aku gak nyangka kalau kita bakal berpisah secepet ini, Pak... Pak.....

*orangnya udah pergi*


5. Gangguin Orang Pacaran
Satu pemandangan yang bisa bikin iritasi mata ketika masuk ke area Gunung Pancar adalah banyaknya pasangan-pasangan kekinian yang mengumbar kemesraan. 

Mereka belum pernah aja ngerasain gancet di gunung. Eh gua juga belum sik. Wekawekaweka.

Nah, khusus buat jomblowan jomblowati yang sirik, ngeliat pemandangan kayak gini pastinja bikin gmz sekaligus kzl. Lalu apa yang sebaiknya kita perbuat? Gangguin aja!

Cara 1:
Kalau pake motor dan keliatan orang pacaran dari kejauhan, pelanin motor pas deket mereka dan teriak: CIYE CIYEE PACARAN CIYEEEEED.
Lalu gas motor sekencang-kencangnya dan kabur dari lokasi itu.

Cara 2:
Kalau lagi hunting foto, eh ada sepasang alay pacaran menutupi pemandangan yang mau difoto, maka segeralah ambil batu, lempar ke mereka, lalu teriak, ALAY!
Lagi, abis itu segera ngumpet di pohon pinus terdekat dan terbesar. Niscaya mereka akan kabur ketakutan disangka dikerjain setan.

Cara 3:
Kalau liat ada yang mau mesum di semak-semak. Panggil orang-orang sebanyak mungkin, lalu teriakin rame-rame. Biar malu aja, mau mesum kok di semak-semak. Get a room, please!

Ps:
Karma masih berlaku. Kalau isengin orang pacaran, ntar dibales pas kamu udah pacaran. Wekaweka. Bye.

Kaos Kekinian by #BareSupply

Ada yang mau nambahin?

Gunung Puntang Dalam Angan


Wajah-wajah cemas campur kelelahan dan kedinginan keliatan jelas terpancar dari anak-anak Jalan Pendaki. Masing-masing punya pendapatnya sendiri buat ngelanjutin pendakian atau menerima kenyataan soal Gunung Puntang udah gak bisa didaki lagi.

Kami datang di saat yang kurang tepat. Puncak Mega Gunung Puntang longsor. Jalur menuju ke sana juga banyak yang longsor. Musim kebakaran gunung. Banyak larangan ini itu. Banyak juga pendaki yang bernasib sama kayak kami.

Gua, dengan napsu manusia serakah yang pengen tetep mendaki Gunung Puntang karena belum pernah, mencoba cari cari gimana pun caranya biar bisa tetep manjat. Rasanya kayak, udah jauh-jauh ke Bandung. Tengah malem masih keluyuran buat cari angkot, tidur di angkot, pagi-pagi kedinginan tidur di emperan warung depan basecamp Gunung Puntang, tau-tau gak jadi itu rasanya.....

Tapi, sisi Acen yang benar bilang: udah, ikutin aja. Gak akan lari gunung dikejar toh? Ya udah, mendingan tanya aja.

"Kalau Puntang emang lagi gak bisa, ya Haruman aja yuk Bang?" kata Betmen alias Mpi, salah satu anak Jalan Pendaki yang kebetulan asli Bandung. Kebetulan juga kenal deket sama penyanyi Indie yang lagi ngehits saat ini, Bung Fiersa Besari. Kenapa dipanggil Betmen? Ceritanya panjang.

Gunung Haruman?

Kata Betmen dan Rizal yang asli Bandung, Gunung Haruman dan Gunung Puntang itu sebelah-sebelahan. Jadi, kalau gagal nge-Puntang, bisalah diobati sakit hatinya ke Haruman.

Gak mau lama-lama, akhirnya gua langsung ngacir ke basecamp buat menuntaskan rasa penasaran gua kenapa gak bisa itu Gunung Puntang didaki, kalopun gak bisa, kami akan nanya soal Gunung Haruman.

"Iya mas, Puncak Mega longsor, ini juga kayaknya mau ditutup selamanya..."

....selamanya? HIKX. Gua kan belum pernah manjat Puntang huaaaaaa.

"Kalo Haruman mas?"

"Haruman juga tutup mas, lagi banyak yang longsor sama rawan kebakaran...."

...trus kami?


"Lho, itu mas yang tadi jalan duluan di depan kita kan?" kata anak-anak begitu ngeliat ada rombongan yang udah jauh jalan di depan rombongan kami.

Gua sama anak-anak asik leyeh-leyeh depan air mengalir yang asalnya dari Curug Siliwangi. Karena udah gak mungkin ke Puntang, akhirnya kita semua nekat cobain cari lapak deket puncak Haruman. Tapi, Lady, cewe yang ada di sebelah gua itu, udah mual-mual gak karuan. Usut punya usut ternyata ada angin yang gak bertanggung jawab merasuki badannya.

Iya, dia cuma masuk angin elah.

".....Mas, udahan sampe Harumannya? Apa mau Curug Siliwangi doang?" 

"Belum mas, udah sampe naik-naik ikutin jalurnya gak ketemu. Niatnya sih mau Haruman, tapi gak tahu kemana, jadi balik lagi deh...."

"Wah beneran? Mereka aja udah lama gak sampe, gimana nih kita gengs? Lady juga masih sakit...."

"Ya udah, Curug Siliwangi aja deh yuk yuk..."

Akhirnya, demi keamanan, karena bahkan si Betmen dan Rizal yang asli Bandung aja meragukan jalur ke Haruman, akhirnya, rencana awal trip ngegunung, berakhir jadi ngecurug. Ya, kami adalah rombongan Ancur. Anak Curug.


CURUG SILIWANGI

Kalau boleh ngeluh, entah gua yang emang udah makin tua apa emang jalanannya yang semakin kayak kampret, gua pengen banget memaki-maki kaki gua. Lemot. Pegelan. Capek banget rasanya.

"Curug Siliwangi ini mustinya worth it banget. Jalurnya kampret!" seru gua ke Anjar.

"Iya, kayaknya berat banget ya ini jalurnya..."

Seumur-umur main ke curug, kemungkinan besar ini curug yang paling berat gua hadapin. Awalnya mungkin berat karena jalan pelan-pelan nunggun Lady yang lagi gak enak badan. Tapi setelah dibagi orang, rasa-rasanya tetep aja emang jalurnya yang kampret.

Debu lagi tebel-tebelnya, nanjak gak pake ampun, panas banget pula cuacanya. Di sini, gua jadi maklum, kenapa sebaiknya emang gunung-gunung ini ditutup untuk pendakian. Kondisi yang kering banget gini, bakal semakin cepat menyulut api.

Sejam, dua jam, kok masih belum sampe juga.

Tiga jam, empat jam, ya ampun. Lama banget.

Tau-tau si Betmen muncul dari balik batang pohon yang tumbang.

"Ayo bang! Itu curugnya udah deket banget!" seru Betmen.

Gua semangat. Langsung meluncur menuju curug yang diidam-idamkan. Menuju curug yang worth the hike. Worth the effort. Pas sampe sana.....

"......APAAN NIH????"

Maapin perut gua yang buncit yak
Manaaaaaa curug gua yang worth it itu manaaaaaaaaa?????

OMG Dragon! Gua jalan berjam-jam lamanya tak terkira, pundak pegel, kaki pegel, hati pegel, ternyata oh ternyataaaaa.... Cuma dapet pancuran air yang tak terkiraaaaa pedihnya. Dalam bayangan gua bakalan ketemu air terjun yang dereeeeesss banget. Tapi kenyataan berkata lain, yang ada cuma air keran yang disemprotin dari atas.

Gua gak bisa berkata apa-apa lagi selain cuma mangap-mangap memandangi kenyataan yang ada. Tapi bukan gua (dan anak Jalan Pendaki) namanya kalau gak bisa menikmati apa yang ada di depan muka.

Akhirnya, biar cuma kayak main air becekan doang, kami tetep aja girang pecicilan menikmati dinginnya Curug Siliwangi. Whatever it takes, meskipun awalnya perjalanan nge-Puntang fail banget. Tapi endingnya adalah kebersaamaan yang menyenangkan bareng anak-anak.

Dari cuma main air, kolekan nyari tempat ngecamp. Ngebuka sedikit lahan. Ngecamp di tengah hutan yang bener-bener gelap banget dan cuma kami serombongan. Yang paling seru lagi, ternyata hutan di Curug Siliwangi terkenal angkerr banget.

Berulang kali beberapa dari kami digangguin dan tetep berusaha woles.

Sehari semalem itu, meskipun asa ingin mendaki Gunung Puntang, tapi realita menjerumuskan kami ke Curug Siliwangi. Sekali lagi asa ingin bertemu curug yang deres airnya, nyatanya yang ada cuma air keran. Tapi, sesekali pindah tidur di hutan bareng temen-temen ternyata seru juga, yes?








So, ada yang mau ikut main sama kita?

Tips Mendaki Gunung Di Musim Hujan


Hujan.

Bagi sebagian orang, fenomena alam yang satu ini dianggap romantis. Bagi sebagian orang lagi, hujan menjadi bombastis. Bagi fotografer ala-ala, begitu hujan pasti langsung heboh motret jendela yang ada bintik-bintik tetes air hujannya. Buat yang baperan, hujan dijadikan alasan menimba kenangan bersama mantan. Terus nangis gak kelar-kelar semingguan.

Hujan.

Buat sebagian pendaki, hujan itu kevvarat. Buat gua pribadi, saat mendaki gunung pas hujan itu nyusahin dan menyebalkan. Kenapa?

Karena dari belasan kali gua naik gunung itu, 60%nya gua keujanan. Baik itu gua naik gunung pas di musim hujan atau gak. Salah satunya kayak pendakian gua ke Gunung Merbabu dan Gunung Papandayan. Kampret memang.

Ada perbedaan mendasar antara keujanan pas mendaki di musim hujan sama pas mendaki bukan di musim hujan. Kalau mendaki pas musim ujan itu ya emang musimnya, wajar kalau keujanan. Kalau pas gak musim ujan tapi keujanan itu.... apes.


Concern utama mendaki gunung pas musim ujan adalah mengusahakan badan tetap kering. Badan tetap kering itu penting banget saat mendaki gunung. Waktu mendaki di musim panas aja, badan kita pasti bakalan basah kuyup karena aktivitas pendakian yang udah pasti bikin keringetan sampai ke sempak-sempak.

Gak percaya? Coba cek sempaknya sekarang basah apa gak.

....kalau basah, mandi wajib gih!

Di musim hujan pastinya bakalan basah kuyup dari dua arah: keringet dan air hujan itu sendiri. Gak enak banget kan kalau berkegiatan dengan badan yang lepek, belum lagi kalau mudah meriang. Makanya mendaki di musim hujan itu sebenernya malezin banget.

Nah, baik musim ujan atau gak, ini gua kasih tips mendaki gunung biar ngana bisa lebih well-prepared menghadapi pendakian gunung di cuaca yang sesukanya sendiri. Langsung aja, ini dia tips-nya!

Dimulai Dari Persiapan Pendakian

1. Pakaian
Selain pakaian wajib bawa kayak jaket waterproof, jaket anti-dingin, sampe pakaian bobok, pastikan pakaian yang kita bawa juga dry-fit. Alias mudah kering. Selain bakal irit tempat buat barang bawaan, pakaian berbahan dry-fit bakal 10x lebih cepet kering dari pakaian biasa.

Hindari pakaian/celana berbahan jeans. Gak perlu dijelasin kan alasannya kenapa?

2. Packing
Salah satu elemen paling penting pas mau nekat mendaki di musim hujan adalah packing.

Yha. Salah packing bakal membuat pendakian jadi gak seru sama sekali. Bukan cuma keril yang bakal basah, tapi semuanya!

Sedikit rempong sih, tapi,

Langkah pertama: pastikan sebelum dimasukin ke dalam keril, semua barang-barang udah dimasukin ke dalam plastik. Pisahin antara baju, alat mandi, logistik, alat masak, obat-obatan, dalam plastik yang berbeda.

Langkah kedua: kalau memungkinkan, bawa box makan plastik buat tempat semua elektronik yang akan dibawa kayak HP, kamera, powerbank, headlamp. You know, kecuali berlabel waterproof, semua elektronik akan meninggal kalo kena air. Ada innalillahi?

Langkah ketiga: sebelum masukin barang yang udah diplastikin tadi ke dalam keril, masukin trashbag terlebih dulu ke keril. Jadi, perlindungan dari air akan lebih mantap.

3. Peralatan Wajib Bawa
Perlu diingat, peralatan ini wajib dibawa. Apa aja?

a. Sepatu waterproof, biar bisa nginjek becekan dengan penuh kebanggaan

b. Sendal (jepit/gunung/biasa), sendal berfungsi buat pas bikin tenda atau muter2 nyari ransum ke tetangga

c. Payung, percayalah, ini benda bakalan berguna banget. Gak cuma buat menangkal ujan, tapi bisa buat foto ala-ala

d. Jas ujan murahan/mahalan, meskipun udah bawa payung, kamu wajib bawa ini

e. Kanebo, selain berfungsi buat bersih-bersih tenda atau apapun yang basah, kanebo juga lebih cepat mengeringkan badan ketimbang anduk. Enteng lagi.

f. Minuman instan yang menghangatkan, contoh: jahe manis, coklat, dan wedang ronde. Jangan bir, kecuali kamu penguasa jurus mabuk.



Saat Pendakian

1. Berdoa
Jangan. Jangan berdoa minta turun hujan. Gak usah diminta udah pasti ujan mah kalau di musim hujan. Jadi, ada baiknya berdoa buat kelancaran perjalanan. Trus berdoa biar hujannya ditahan. Kalau perlu, jangan cuma bawa guide aja, sekalian bawa pawang hujan.

2. Jangan sok cantik
Gak perlulah yang namanya bedakan menor sampe mukanya putih banget tapi lehernya masih item. Toh kalo kena ujan luntur-luntur juga. Jadi, gak perlulah sok cantik. Apalagi kamu itu cowok, inget.

3. Strategi
Mendaki di musim ujan itu perlu strategi. Bukan cuma main COC doang yang butuh strategi. Strategi yang kayak mana?

Yang kayak gini:

a. Kalau rombongannya banyak, orang-orang yang kuat dan jalannya kayak setan, suruh jalan duluan biar bisa bangun tenda dulu di lokasi yang udah ditentukan. Usahakan jangan sendiri, minimal berdua. Selain bawa tenda, dia juga bawa alat masak.

b. Kalau rombongannya dikit, jangan misah terlalu jauh, takutnya ada temen yang gak tahan dingin terus keujanan, malah hypo, trus mati kan gak lucu.

c. Buat masing-masing orang, pastikan raincover udah menutup semua bagian tas. Pastikan udah pake baju yang dry-fit. Atau kalau bisa malah baju dan celana yang waterproof. Atau, taro jas ujan dan payung di lokasi yang mudah diambil dari keril. Misal, di saku kanan kiri, atau di kepala keril.

d. Usahakan jalan bergerak terlalu pelan, agak paksa dikit kaki biar mencapai lokasi kemah sebelum hujan. Asli, mendaki pake jas hujan itu gak enak. Apalagi pas lepek, lebih gak enak lagi!

f. Kalau udah terlanjur keujanan sepanjang pendakian, ya cepetin aja jalannya biar bisa segera ganti baju sampe tenda. Jangan biarkan badan basah kelamaan, bisa jadi bibit-bibit hypo. Jangan sering berhenti juga, biar suhu badan bisa ngimbangi dinginnya suhu luar ruangan. Baca juga tulisan gua yang ini biar lebih tau soal hypo.


4. Tetap Ternutrisi
Biar gak gampang kena dampak waktu kehujanan, jangan lupa makan sebelum pendakian. Ngemil selama pendakian. Dan yang paling penting adalah minum vitamin. Gua pribadi, meskipun nambah-nambahin beban, lebih suka bawa UC1000 ketimbang tablet hisap. Berasa banget soalnya di badan.

5. Segera Istirahat
Sesampainya di tenda nanti, segeralah istirahat. Pastinya setelah ganti baju yang kering, makan, dan minum minuman yang anget. Badan perlu banget istirahat biar gak ngedrop. Setelah dirasa cukup, baru deh ngapain-ngapain lagi ma serombongan. Itu juga kalo ujannya udah berhenti.

Nah, kayaknya itu dulu sedikit tips mendaki pas di musim hujan dari gua. Semua yang gua kasih tau tadi, berdasarkan pengalaman yang udah gua rasakan selama ini.

Namanya pengalaman, pasti satu orang dan orang lainnya beda dong. Kalau kamu punya pengalaman yang berbeda dan bisa nambahin tips mendaki di musim hujan lainnya, jangan pelit-pelit tambahin di komentar ya!

Ps:
Gua pribadi sih gak menyarankan mendaki pas musim hujan. Gak ada yang bisa diliat juga. Semuanya random. Rawan longsor dan becek juga. Mendingan bobo syantik di rumah sambil nabung buat pendakian yang lebih seru lagi pas udah gak musim ujan.


***

Tetep ya,

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!

Tentang Official LINE Jalan Pendaki


LAINNEE!!!

Denting suara ringtone unyu-unyu dari LINE menyeruak dari hape gua. Menandakan bahwa ada satu pesan masuk di aplikasi populer yang udah dipake sama jutaan orang di dunia ini. Siapa sih yang gak kenal aplikasi ini?

Beruntungnya gua,

Seminggu yang lalu gua dihubungi langsung sama pihak LINE Indonesia yang mengabarkan gua dapat kesempatan buat kerjasama langsung sama LINE. Bentuk kerjasamanya apa? Gua akan dikasi gratis akun Official LINE buat Jalan Pendaki. Siapa bisa nolak?

Setelah proses sana sini. A-B testing sana sini. Akhirnya Official LINE Jalan Pendaki udah bisa aktif juga. Yeaaaayyyy!!


Kira-kira, tampilan kayak ginilah yang akan bisa didapatkan ketika kamu add as friend Official LINE Jalan Pendaki.

Sebenernya, ini akun buat apa sih?

Sama kayak akun social media lainnya, Official LINE Jalan Pendaki juga dipake buat informasi terbaru/lama soal postingan-postingan yang ada di jalanpendaki.com. Tapi bukan cuma itu aja, ada juga informasi terkini soal Komunitas Jalan Pendaki, soal Open Trip bareng gua, maupun soal merchandise Jalan Pendaki.

Akun LINE ini akan lebih memudahkan kamu, yang lebih suka chatting di LINE, mainan hape, ketimbang buka-buka laptop tiap saat buat kepoin Jalan Pendaki. Nah, kepoin Jalan Pendaki di LINE, kini juga bisa.

Serunya lagi,

....ya tapi kalau dianggap seru sih.

Yaitu, bisa ngobrol langsung sama gua di jam-jam tertentu. Saat ini sih baru gua set di jam 6 sore sampe 9 malam setiap hari. Itu juga kalo lagi gak sibuk-sibuk amat.

Buat kemampuan Official LINE Jalan Pendaki lainnya, masih gua pelajarin dulu inih akun. Kali aja bisa ngasih kupon bonus apalah-apalah yekan. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Intinya, buat ngana yang belum add Official LINE Jalan Pendaki, monggo bisa di add dengan search di akun LINE kamu: @jalanpendaki, inget, nyarinya dikasih "@". Atau mudahnya, bisa klik link berikut ini: LINE Official Jalan Pendaki

Gua tunggu yaw!

Naik Gunung x Samsung Galaxy Gear S2



Yha.

Ngana gak salah baca.

Apa rasanya kalau naik gunung pake Samsung Galaxy Gear S2?

Gak tau mz. Karena aku gak pernah pake.

Tapi pastinya, akan terlihat lebih trendy, heits, dan meyakinkan. Soalnya Samsung Galaxy Gear S2 ini adalah wearable device alias jam tangan yang emang di design gak cuma buat kegiatan di kota atau dalam ruangan doang. Tapi juga bisa dipake dalam berkegiatan outdoor.

Kenapa gua tiba-tiba bahas Samsung Galaxy Gear S2?

Karena kemaren malem, gua dapet undangan buat menghadiri semacam acara perkenelan ini device buat para bloggers. Nah, kebetulan gua gak bisa lepas dari yang namanya jam tangan, makanya gua tertarik join. Lagian, gua dijanjikan buat bisa menjajal ini Samsung Galaxy Gear S2 duluan sebelum dipasarkan.

Iya, soalnya sampe detik ini, kalau misalnya kita pengguna setia brand Samsung dan tertarik beli ini jam tangan, masih harus pre-order di www.galaxylaunchpack.com. Dan janji itu dibuktikan. Seperti yang terlihat di foto atas, di pergelangan tangan gua melingkar dengan kecenya Samsung Galaxy Gear S2 seharga paling murah Rp3.999.000 dan Rp4.999.000 (ada dua varian, S2 aja dan S2 Classic). 

Pas banget di tangan, yes?


Layaknya jam tangan pada umumnya, ini Samsung Galaxy Gear S2 bisa buat melihat waktu.....

.....krik.

Ya tentu aja bukan cuma buat liat waktu sih. Banyak keunggulannya kayak bisa nerima telpon, ngereject telpon, nerima sms, ngirim sms, sampe bisa gonta ganti tampilan jam dari yang digital, analog, trus tahu banget aktivitas kita seharian, cemacem.

Buat yang suka lari (bukan dari kenyataan) kayak gua, di Samsung Galaxy Gear S2 juga udah tertanam Nike Run. Bisa juga mengukur kadar keaktifan kita bergerak sehari-hari. Juga bisa buat aplikasi aplikasi lain yang udah kompatibel. Oiya, yang paling okenya sih, ini barang bisa konek sama Android apapun asal minimal OSnya udah kit-kat dan Ram-nya udah 1.5GB. Android APAPUN. Artinya, gak perlu punya HP Samsung juga kalo misal pengen punya ini jamnya doang.

Bagaimanapun, gua harus sangkut pautin ini jam tangan kece nan mahal sama kegiatan naik gunung. Nah, makanya, pas ada di sana gua menanti sekali jawaban dari ketangguhan ini jam tangan. Dan jawabannya adalah....

Yes, Samsung Galaxy Gear S2 udah water and dust proof. 

Artinya, udah tahan air (yang katanya bisa berada dalam kedalaman maksimal 1.5 meter dalam waktu maksimal 30 menit) dan udah tahan debu. Material layarnya juga udah AMOLED dan... ANTI GORES. Karena didukung oleh Gorilla Glass. Mirip kayak HP flagship.


Sayangnya, 

Meskipun udah bisa segala rupa, ini jam masih belum tertanam teknologi altimeter. Buat ngukur ketinggian kita kalau pas di gunung udah sampe berapa. Tapi katanya sih, meskipun belum ada di jamnya, ternyata udah ada aplikasi altimeter yang bisa diinstal. Keunggulan lainnya udah ada maps, support music player dan gallery juga.

Nah, menurut gua, kekurangannya sih sama masa hidupnya ini jam.

Since jam tangan ini termasuk kategori barang-barang 'pintar', maka tentunya akan sangat makan batre. Iya, kita udah sampai masa dimana jam tangan aja musti di charge. Hati kapan kak di charge? #eh

Meskipun didapuk, ceilah didapuk, ya, meskipun jam ini mengandung batre sebesar 250mAh, dimana katanya bisa bertahan 2-3 hari saat aktif binggawh, tetep aja kalau kita lagi naik gunung lebih dari tiga hari, ini jam gak bakal kepake. Meskipun ada saving mode yang bisa memperpanjang waktu pemakaian bertambah 5 jam (saja).

Tapi, lagi-lagi tapi,

Tetep aja kece yekan ditangan~

Jadi mau.....

Beliin plz?



Disclaimer:
This is a sponsored post. Jalan Pendaki nerima-nerima aja buat ngiklan selama masih ada hubungannya, atau dihubung-hubungkan dengan jalan-jalan, outdoors, dan tourism. Iklan galau dikit juga gapapa sih asal bukan iklan pembesar anu. For advertising inquiries, please send me an email at info@jalanpendaki.com

Gunung Papandayan: A Walk To Remember


Gunung Papandayan.

Kayaknya udah gak terhitung berapa kali gua main-main ke gunung ini. Tapi sih masih kurang dari 10 kali. Lebay aja gua mah kalau bilang udah sejuta kali kemari. Saking deketnya ini gunung dari Jakarta, rasanya, kayak baru kemaren gua mendaki Papandayan. Selalu begitu.

Gunung Papandayan.

Semua tau lah ya, kalau gunung ini ada di Jawa Barat, lokasi tepatnya, Garut. Sebenernya ini gunung kalau boleh dibilang, ukurannya cukup tinggi. Gunung Papandayan itu ada di 2.665 mdpl. Tapi, karena mulai pendakian dari Camp David itu udah mulai di angka 1.800 mdpl-an kali ya, jadi, nanjaknya ya udah nanjak-nanjak gemes aja gitu. 

Cuma dibutuhkan waktu paling lama 3-4 jam buat sampe ke Pondok Saladah, lokasi dimana tempat camping paling luas, paling banyak edelweissnya, dan paling aman buat ngecamp di Gunung Papandayan. Waktu segitu juga udah pake ngiterin kawah-kawah sebelum menuju Pondok Saladah. Dari Pondok Saladah, kalau mau ke puncak Papandayan, lalu ke Tegal Alun, cuma dibutuhkan waktu sekitar maksimal satu sampai dua jam.

Landmark paling tenar yang ada di Papandayan, semua pasti udah pada tau, yaitu Hutan Mati. Iya, hutan mati ini adalah lokasi paling populer buat para pendaki. Soalnya banyak batang pohon yang hangus terbakar akibat meletusnya gunung Papandayan. Tapi amazingnya, ini pohon-pohon masih banyak yang berdiri tegak. Kalau ditambah kabut, suasananya jadi mistis campur-campur gitu. Kayak pengen takut tapi malah jadi gemes. 


Gunung Papandayan.

Pertama kali ke Gunung ini, gua masih newbie banget soal gunung. Diajakin sama para suhu di dunia gunung, gua iya-iyain aja karena saat itu, gua asal naik gunung gua udah seneng banget. Apalagi gunung yang deket dan murah di kantong. Iya, saat itu gua masih mahasiswa.

Ada dua memori yang paling membekas di sini. Pertama, 

Waktu gua dan keempat temen gua lagi asik-asiknya foto-foto di kawah baru gunung Papandayan. Tau-tau semacam gerimis rintik-rintik mulai menyerang. Tapi salah satu dari kami nyeletuk kalau ini cuma hujan kabut, artinya, kalau kabut ilang, hujan berhenti. 

Tapi, hujan kabut ini bukannya berhenti, lama-lama malah makin deras. Tapi keyakinan kami tetap teguh, ini bukan hujan. Ini kabut. Diperkuat dengan kata-kata temen gua tadi. Dia terus-terusan meyakinkan kalau ini bukan hujan, ini kabut.

Gitu terus sampe akhirnya kami basah kuyup. Dan akhirnya kami berlindung dari godaan setan yang terkutuk. YA NGGAK LAH. Kami berlindung di bawah jas ujan, jongkok, sambil ketawa-ketawa bego. Kalau diinget-inget lagi, gak ada gunanya juga yak udah basah masih pake neduh. Wkwkwk.

Kedua.

Jadi dulu sebelum sehits kayak sekarang ini, gunung Papandayan itu sepi banget. Palingan cuma beberapa rombongan pendaki yang ada. Waktu ngecamp di Pondok Saladah juga, boro-boro ada WC kapsul kayak sekarang, yang ada cuma hamparan bunga edelweiss yang masih luas. Tanah lapang buat camp juga cuma sedikit. Nah, waktu itu, gua lupa ada berapa pendaki, tapi yang jelas, gua merasa kayaknya cuma ada rombongan gua doang di Pondok Saladah. 

Angin lagi kenceng-kencengnya. Udara lagi dingin-dinginnya. Dan cuma serombongan di gunung itu serem juga rasanya. Lalu tiba-tiba gua kebelet boker. Sialan banget emang ini pantat. Gara-gara inilah gua jadi Backpacker Beser. Kesel banget kan, udah boboan gemes di tenda. Pake segala rupa yang menghangatkan, eh malah kebelet boker. 

Lebih sebel lagi, angin lagi gede-gedenya, se-Pondok Saladah cuma rombongan gua, udah malem. Wah parah deh, creepy abis. Tapi pantat ogut gak bisa diajak kerjasama. Udah diujung bet rasanya.

"Kak, temenin dong boker..." pinta gua ke senior yang ada di rombongan.
"Ah elah, boker aja ndiri. Masa gua musti liat tai lo..." jawabnya
"Ya jangan cuma diliatin tainya lah, diputer, dijilat, dicelupin sekalian kak...." 
"Bodo amat!"

Hiks. Lalu gua beralih ke temen yang lain. Tentu aja gua ditolak. Akhirnya gua memberanikan diri boker seorang diri. Gua keluar tenda. Siap-siap nyari lapak di belakang tenda. Kasrak kusruk.

"WOI! Jangan boker sebelah tenda, gila!"

Yah ketauan! Gua kan tackut jauh-jauh. Akhirnya gua agak menjauh dikit, merangsek ke satu lokasi yang ada tanah sedikit lapang di sekitar edelweiss. Tapi masih belum terlalu jauh dari tenda. Pas mau ngelosin celana, tau-tau angin kenceng banget menerpa gua.

WUSSHHHHH

"AAAAAA!!" jerit gua lucu-lucuan.
"Apaan sik teriak-teriak?!" jerit temen gua juga dari tenda.
"Angin kenceng banget!" jawab gua.
"LEBAY!"
"EMANG!"

Trus gua jongkok. Anjir, dingin banget. Gua rasakan eek gua keluar perlahan. Feses saat itu lebih terasa hangat ketimbang pantat gua yang hampir membeku. Duh jadi pengen megang..... HUEK.

Krusak krusuk.

DEG. Apaan tuh?

Krusak krusuk.

DEG. Shit! Jangan bilang itu setan! 

Gua deg-degan tapi eek gua mengalir deras. Mengingat gak mungkin keringet gua yang ngalir saking dinginnya.

Krusak krusuk.

Sekelebat gua liat bayangan yang lewat. Anjir. Serem parah!

Gua ngambil batang kayu yang tadi gua pake buat bikin lubang pengubur tai. Buat jaga diri. Satu sisi gua dah gak napsu boker lagi, sisi lain, perut masih melilit. Jadi gua memutuskan tetap jongkok sambil ngeri-ngeri sedap.

Krasak. Krusuk. GUSRAK.

Pas gua liat lagi.....

BABIKKK!!!!


Selanjutnya.

Gunung Papandayan jadi lokasi gua memulai bisnis usaha yang disebut dengan Open Trip. Tamu pertama dan kedua gua sama-sama berasal dari Malaysia. Campuran sik sama orang Indonesia juga. Kempingnya biasa aja, ngedakinya juga biasa aja, yang luar biasa adalah orang-orangnya. 

Di Open Trip pertama gua, ada satu cewe dari Bekasi, kalo gak salah, yang kini akhirnya join jadi membernya komunitas Jalan Pendaki. Namanya Cici. Ini cewe seru banget. Selain bawel, dia juga kayak orang yang selalu ceria. Yah kayak open trip lainnya, gua coba kasih yang terbaik yang gua (dan kru) bisa lakukan. Sampe akhirnya perpisahan tiba. Dan kami harus pulang ke Jakarta.

Pas di dalem bis, dimana semua lagi hening, si Cici udah saatnya turun dari bis karena dia turun duluan di tol. Tau-tau pas di depan pintu bis, dia teriak kenceeeeeengggg banget: MAKASIH JALAN PENDAKIIIII!!!

Gua langsung mencelos.

Antara malu karena dia teriak semua orang jadi bangun. Sekaligus terharu karena nama Jalan Pendaki dia gaungkan sekenceng itu. I was like.... YOU ARE AWESOME, CI! 

Kemudian di Open Trip kedua gua.

Hampir separuh peserta adalah orang Malaysia. Mereka bener-bener terkesan sama Papandayan. Terutama cewe-cewenya. Serunya lagi, mereka gak ragu-ragu masak sendiri, bantuin gua sama kru masak, lalu tangguh-tangguh semua. Paling kecenya adalah, sampe detik ini, semua peserta di open trip kedua, masih berhubungan satu sama lain dalam satu grup yang waktu itu gua buat. They're awesome!


Terakhir kali gua ke Gunung Papandayan, semua udah beda banget.

Kini setiap minggu Gunung Papandayan gak pernah sepi dari pengunjung. Banyak bet orang di Pondok Saladah. Ibarat kata dulu nyari lapak buat kemping sampe bingung mau dimana, sekarang mau kemping sampe bingung keabisan tempat.

Yang kayak gua bilang tadi, dulu boker tinggal milih tanah mana yang mau digali, sekarang kalau mau boker panjang beut antrian buat boker di WC kapsul. Gua sih tetep, nyari lapak yang buat digali. Yakali ngantri wc, bisa boker di celana ogut.

Terakhir yang paling berkesan, meskipun gak ngecamp, cuma lucu-lucan karena mau foto pakai kaos JLNPNDKI, gua dan para founder komunitas Jalan Pendaki berniat jalan-jalan gemes menyusuri camp david, lanjut ke kawah aja. 

Pas lagi jalan ke arah kawah, tiba-tiba aja gerimis gemesan turun membasahi Papandayan. Namanya juga pendakian (sok) cantik, jadi kami gak mau kebasahan. Kebetulan menuju kawah, kini udah banyak banget pedagang yang bikin gubuk bukan cinta apalagi derita, buat menjajakan dagangannya. 

"Numpang berteduh ya bu...." sapa gua manis kepada ibu empunya gubuk tadi. Dia ditemani anaknya yang masih kecil.

Ni bocah kalau diliat-liat ngebetein juga. Selagi gua sama anak-anak lagi ngobrol ngalor ngidul, dia ngeliatin gua melulu. Eh, tiba-tiba pantat gua laknat banget kepengen kentut. Karena lagi di gubuk orang, gua tahan-tahan. Gua empet-empet pantat gua biar gak kepengen kentut lagi. Tapi ternyata kentutnya tak tertahankan. 

Situasi ini awkward banget. Kalau gua kentut sekarang, asli, gak enak banget, belum tentu juga kentut gua gak bunyi dan gak bau. Tapi kalau gak kentut, udah terdesak banget ini angin pengen keluar.

Akhirnya gua pake jurus penghimpit pantat. Intinya, tetap kentut, tapi dikeluarin dikit-dikit dengan menghimpit pantat setiap kali gasnya keluar. Percobaan pertama, berhasil gak bunyi. Kedua, berhasil. Ketiga dan seterusnya berhasil. 

Karena udah yakin kentut gua gak bakalan bunyi, dan capek juga ngempet pantat melulu, akhirnya gua beranikan diri kentut apa adanya.

BREEETT!

"EHHHHH??" gua otomatis teriak. Entah kenapa sambil nengok ke bocahnya si ibu.

Pertama, karena gua kaget beneran karena kentut gua akhirnya bunyi keras banget. Kedua, gua teriak biar suara kentut gua tersamarkan.

Yang kocak adalah, pas gua nengok, bocah disebelah gua mukanya kaget. Trus dia hampir nangis karena gua ternyata kentut persis di depan mukanya. Udah kaget sama suara kentut gua, dia kaget juga karena gua teriak sambil ngeliatin galak ke dia.

Kemudian hujan berhenti. Dan gua langsung kabur.

End.

Gunung Slamet Jalur Bambangan: Me vs Debu!


GRUDUK GRABUK GLEBAG

"OHOKK!"

"Wei anyeeeeenggg!!! Bisa gak sih gak usah pake lari!"

Teriak gua sama serombongan bocah-bocah tanggung. Bahasa gaulnya, terong-terongan. Karena mereka lagi naik gunung, mari kita sebut sebagi pendaki terong. Tapi gua teriaknya dalam hati, sih. Ngeri dikeroyok mereka.

Jalur pendakian gunung Slamet lagi kacau banget. 

Saking keringnya, jalur udah bukan tanah lagi, tapi tumpukan debu tipis yang kalau diinjek aja, kaki kayak ngeluarin kekuatan ekstra. Ada asep-asepnya gituh. Ibaratnya, disentuh dikit aja udah pada ambhyar kemana-mana itu debu. Gimana kalau dibuat lari-lari?

GRUDUK GRABUK GLEBAG

Lagi?

OMG WTF HELL NO!!! #@%#^#&#*(

Gua naik pitam. Gua yang dari tadi jalan turun cimit-cimit nahan dengkul, nahan tumit, nahan betis, tujuannya biar debu gak terbang tinggi-tinggi amat sampe muka, biar gak sesek napas, ini malah pendaki terong pada masih lari-larian dengan riang gembira. Dikata ganteng banget apah?

Gua serius naik pitam. 

Gua lalu ambil ancang-ancang. Loncat dikit. Dan wuuushhhhhhh...... Gua lari sekencang-kencangnya.

"OHOOOOOKKKK!! WUUUUUUUUUUUU....."

Gua berhenti sejenak, menatap nyinyir ke belakang, melihat pemandangan menyenangkan. Gantian rombongan pendaki terong tadi batuk-batuk sambil nyorakin gua. Bodo amat.

MAKAN TUH DEBU!!

....dasar terong.

***


Mendaki gunung Slamet yang merupakan rajanya gunung Jawa Tengah adalah salah impian gua. Gimana gak, gunung Slamet ini lokasinya ada di beberapa kabupaten, salah satunya, Kabupaten Purbalingga, yang mana Purbalingga ini deket Purwokerto, yang mana Purwokerto adalah tempat lahir gua, tapi gua dibesarkan di Cilacap. Nah Cilacap ke Purwokerto jaraknya cuma sejam. Purwokerto ke Purbalingga jaraknya juga cuma sejam.

Bisa dibilang, ini gunung Slamet ada di depan mata selama 17 tahun gua hidup di kampung. Tapi, gak pernah sekalipun gua manjat gunung ini. So, gua pengen-pengen-pengen banget manjat gunung ini karena penasaran sampe jadi gemes bet dan cubeth.

Dan akhirnya, cita-cita gua terwujud di akhir bulan Oktober kemarin. Dan gua baru nulis sekarang. Gak basi-basi amat kan ya? 

Kali ini gua mendaki barengan sama anak Jalan Pendaki, yah kurang lebih separonya anak Jalan Pendaki lah. Sisanya kenal di jalan. Dan, yang namanya manjat sama anak Jalan Pendaki, hampir dipastikan dari awal sampai akhir ada aja dramanya. 

Kami adalah Ikus (ketuanya Jalan Pendaki, bangunnya siang, gak bisa masak), Riza (tim kreativ-nya Jalan Pendaki, baru nikah, dzalim banget sama jomblo), Sutan (humasnya Jalan Pendaki, ownernya Titik Adventure), Rudi (member Jalan Pendaki), Acen (hamba sahaya), Nophy (belum member Jalan Pendaki, tapi ini anak eksis di banyak komunitas pejalan), Tracak Banteng (temen Ikus, tiba-tiba gua lupa nama aslinya), Bima (sodaranya Riza, mahasiswa penggemar COC).

Masing-masing punya drama yang gak jelas. 

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, masalah tiket kereta, udah jadi bahan berantem. Dua minggu sebelum berangkat, tiba-tiba jalur pendakian di Slamet kebakaran. Kita udah kayak... Duh, bodo amat lah ya. Mendekati hari H, tau-tau Sutan terancam masuk kerja. Nophy tiba-tiba harus kerja pas pendakian. Riza tiba-tiba harus lembur. Ikus tiba-tiba sakit. Wah... bener-bener.

Untungnya, pas hari H, semua personil lengkap udah berkumpul di Stasiun Senen. Tau-tau ada drama dari Rudi, tiket kereta pulang ke Jakartanya udah expired. Heboh cek sana-sini, ternyata dia beli tiketnya buat bulan lalu. Salahnya sendiri, tabok yuk!


"Hah? Jalur pendakian tutup?" teriak Ikus atau Nophy gitu gua lupa. Lagi telponan sama mas Tracak yang emang udah di basecamp sejak Jumat. Kemudia kita semua terdiam. Termenung. Antara lemes udah jauh-jauh dateng kemari dengan begitu banyak drama, eh masa gak jadi. Ya Allah, mau mendaki Slamet kok ada-ada aja ya.

"Ya udahlah... Kalau emang beneran tutup, kita gak usah maksa. Coba cari kira-kira deket sini ada gunung apa atau apalah apalah.." kata gua. Meski perih, tapi gua harus realistis. Gak mau kejadian Gunung Lawu yang baru aja kejadian menimpa kami.

Sejurus kemudian kami melesat pake mobil yang udah dibooking sebelumnya. Langsung ke basecamp Bambangan di Purbalingga. Sampai sana, Jalur Bambangan buka. Pengen rasanya slepet mas Tracak pake sarung baru dicuci. Tapi pas liat mukanya, kesian. Gak jadi deh.

Jalur Bambangan buka, tapi.....

1. Gak ada air
2. Jalur kering banget
3. Pendaki dimana-mana

Pas ngeliat banyak banget orang, gua langsung lemes. Dan males. Was like.... oh man, ternyata gunung Slamet yang masuk ke dalam Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro), yang masuk ke dalam kategori gunung berat, udah serame Gunung Andong.



Setelah persiapan. Daftar SIMAKSI. Beli makan siang buat di perjalanan, tentu aja gua belinya gak pake nasi (baca: tantangan 30 hari tanpa nasi). Selfie depan gapura pintu masuk, akhirnya, gua bisa menjejakkan langkah di Gunung Slamet. Gua merasa, ini gunung, bakalan keren banget!

Jalur pendakian awal didominasi ladang penduduk. Ada banyak banget sayur mayuran. Bahkan ada tomat merah-merah menjuntai dari rantingnya, goyang-goyang terkena sapuan lembut angin. Tsah bahasa ogut....

Karena kepengen, gua ngambil beberapa tomat yang udah jatoh ke tanah. Kan udah jatoh, jadi bukan maling tomat. Gak keren amat maling tomat. Pas gua makan, hmm.... rasanya tuh kayak tomat terenak yang pernah gua makan seumur hidup. Lebay sik bye.

Rombongan gua beruntung banget karena temennya Nophy sukarela mau bantuin kita jadi guide. Ni anak, sebut aja Wawan. Yang nantinya kita akan panggil dia, bukan kita, gua, akan panggil dengan Waw, karena Wan terlalu mainstream. Si Waw ini kerjaannya emang mendaki gunung Slamet tiap hari, jadi paham seluk beluknya. Awal pendakian aja, dikasi jalan tikus.

Makin ke atas, jalur pendakian gunung Slamet makin sialan. 

Ini gunung beneran gak punya belas kasihan. Gak hits. Gak maknyus. Dari awal, kita udah manjat ada kali 45 derajat. Kali. Intinya bikin pinggang lecet. Padahal belum sampe pos satu lho. Yang paling gua benci lagi adalah debu. Cuy, debunya tebel binggawh!

Tapi lebih sebel lagi pas sampe di pos 1 sih. ADA WARUNG.

Gorengan. Semangka. Es Teh. Camilan. Semua ada. I was like.... ho, mungkin gunung Semeru yang sekarang kayak gini kali ya, ada pedagang semangkanya. Berarti Slamet juga cukup populer, soalnya udah banyak pedagang semangka. Tapi bener kan yang kayak gua bilang di cerita Tanjung Priok, kalau orang Indonesia itu unbelievable daya jualannya. 

Jangan sedih, pedagang ini akan terus ada bahkan sampai pos 5. Dimana ada kerumunan, di sana ada pedagang.

Yah, mau gimana lagi, namanya juga cari nafkah. Mungkin yang gua sebel adalah, dengan adanya pedagang-pedangang ini, gunung jadi gak begitu menantang lagi. Juga sampah ada dimana-mana. Ya, di pos satu, ada gundukan sampah yang gua yakin banget udah ada di sana sejak lama. Gak tau juga itu sampah hasil jualannya pedagang, sampah pendaki karena ngeliat gundukan sampah jadi ikutan buang di sana, atau sampah pendaki yang beli makanan di sana lalu dibuang di gundukan itu. Well, sampah ini memang selalu jadi momok yang menyebalkan. Momok lho. Momok.


Soal jalur, udahlah ya. Seperti yang gua bilang, gak ada ampun banget dari bawah sampe atas. Sama semua. Di gunung Slamet, kita bener-bener mendaki. Tanpa ampun. Dari basecamp sampe pos 1 sejam lebih. Pos 1 sampe pos 2 bisa dua jam. Pos 2 sampe pos 3 bisa sejam lebih. Pos 3 sampe pos 4 mungkin cuma setengah jam. Pos 4 sampe pos lima juga cuma setengah jam.

Rombongan gua, yang lebih banyak berhenti-makan-ngobrol-mau pingsan, baru sampe pos 4 aja jam 7 maleman. Padahal jalan dari basecamp jam 12 siang. Perkiraan bisa sampai pos 5 seharusnya jam 5 sore. Tapi apa daya, jalur pendakian, debu yang terbang kemana-mana, sama ritme jalan masing-masing orang bikin waktu mulur jadi lumayan lama.

Waktu sampai di Pos 4 alias Samarantu alias pos-yang-dilewati pendaki karena saking angkernya ini, kami udah kepayahan. Rasanya udah pengen nyerah aja lah ngecamp di sini gapapa. Pos 4 sebenernya pos yang ideal banget buat nenda, tapi karena mistisnya ini gunung masih kentel banget, dan pos 4 Samarantu ini bisa dibilang pusatnya, jadi mendingan jangan ngecamp di sini. Kecuali emang kuat banget.

Akhirnya kami jalan terus dan nemu tanah lapang yang mirip-mirip kayak pos 4 dan akhirnya ngecamp di sana. Tapi ternyata itu lokasi deket banget sama pos lima. Meskipun sepanjang pendakian panas banget, sampe malem pun masih terasa panas, begitu ngecamp.... The Fak ini kenapa dingin paraaaaahhhhhhhhhh!! Alhasil gua cuma gelebakan doang tidur ngelingker pake baju dobel, sleeping bag, kaos kaki dobel.


"Gengs, gua sama mas Tracak duluan ya!" seru gua ke anak-anak.

Pendakian kami lanjutkan jam setengah tiga pagi. Menuju puncak. Tanpa bawa apa-apa kecuali kamera, makanan, dan minuman. Karena gua lagi pengen banget bikin timelapse sunrise, gua harus lebih buru-buru manjat dan sampai sebelum sunrise. Mengingat anak-anak jalannya lemot, gua jalan duluan.

Sepanjang perjalanan, gua baru pertama kalinya jalan cuma bener-bener berdua di tengah malam yang gelap banget. Tapi beruntungnya, langit kala itu lagi mendukung gua. Bulan bulet gede bagus banget. Yang paling bikin gua norak adalah bintangnya, banyak banget!

Pas gua lagi berhenti ambil napas di sekitar pos 6 menuju pos 7, pemandangan belakang gua adalah kota. Udah keliatan citylight. Cakrawala pembatas langit sama bumi juga keliatan. Pas gua liat lagi ke langit...

CUSSSSSS

"Mas! Itu ada bintang jatuh mas!!!" seru gua antusias.
"Mana-mana?"
"Ah, udah lewat, bhay!" jawab gua males. Ya lagian bintang jatuh kan cuma lewat sepersekian detik doang. Etapi emang bintang jatuh bunyinya cuss? Ya mendingan lah ya daripada bunyinya wkwkwk.

Pendakian seakan tanpa henti ini gua lanjutkan. Makin ke atas makin kacau jalanannya. Kacau pertama, karena emang jalurnya vertikal abis. Kacau kedua, tenda dibangun dimana-mana, pas di pos 7 aja gua harus muter-muter nyari jalan karena tenda dipatok di tengah-tengah jalur. Kacau ketiga, banyak banget api unggun.

Oke, dingin memang, dingin banget, tapi api unggun inilah perkara utama kebakaran di tengah-tengah musim kering yang melanda gunung-gunung. Dan pas gua liat, kebanyakan yang bikin api unggun adalah warga lokal yang lagi 'ziarah' ke sini. I was like... yah, semoga mereka gak lupa matiin apinya sampe bener-bener mati.

Oiya, kenapa api unggun kacau?

Karena indera penciuman gua lumayan tajam. Di siang hari gua terganggu banget sama debu. Di malam hari, gua terganggu sama asap api unggun. Rasanya kayak, gua naik gunung, tapi gak dapet udara bersih sama sekali. Malah lebih sering nahan napasnya ketimbang napasnya.

Lanjutin mendaki.

Dari pos 7 sampe pos sembilan gak ada lagi tanda-tanda. Mungkin ada, tapi nyelesep ntah dimana. Tau-tau gua udah sampe di lokasi pendakian penuh batu besa-kecil-mudah rontok. Udah vertikal banget. Artinya, ini gua udah di lereng gunung dan mau sampai puncak. Kalau bisa gua gambarkan, lereng Slamet itu kayak perpaduan lereng Raung-Rinjani-Guntur. Berkerikil, berbatu rapuh, dan banyak batu besarnya juga.


Setengah lima.

Tapi belakang gua udah muncul semburat cahaya sunrise. Gua harus segera sampai ke puncak sebelum kehabisan moment. Ngambil timelapse perlu waktu lama.

Lima kurang seperempat.

My GOD! Napas gua abis! Tangan gua beku! Betis gua! Paha gua! Aaaaa Sunrise deket lagi aaaaa!!

Lima pas.

GUA DI PUNCAK SLAMET KIYUUUWWWWWW!!!!! *sambil menggigil kedingingan*

Lima lewat lima.

Keluarin Tripod. Pasang kamera mirrorless, cari fitur timelapse, gak ada. Cari lagi, gak ada. Cari terus.... gak ada. Setan alas. Oh iya, GoPro ada!

Lima lewat sepuluh.

Ubek-ubek tas unyu. Coklat. Hydrococo. Powerbank. Syal. GoPro mana GoPro? Ubek-ubek lagi. Gak ada GoPro. 

....ketinggalan. Di tenda.

Someone slap me right in my face, please!

Lima lewat lima belas.

Menatap nanar sunrise sambil nangis. End.