#JalanPendaki #CeritaKita: Agung Story

Jadi, setelah sekian lama delay karena gue sakit, males, dan gak punya banyak waktu buat apdet JalanPendaki, akhirnya, #JalanPendaki #CeritaKita, cerita dari Agung Gideon, pemenang terakhir, bisa gue update juga. Maafin babang, Agung... :'(

Beklah, langsung aja simak!


****

MERBABU, TERIMA KASIH!




3142 Mdpl? Yuup, tingginya Tiga ribu seratus empat puluh dua meter diatas permukaan laut, apa itu? Sebuah gunung yang bisa dipandang dari Kota saya tercinta, Magelang Kota Sejuta Bunga, yaitu Gunung Merbabu.

Berawal dari perkenalan di angkringan Pak Pinul dengan Mas Febriawan aka Embek, seorang Mahasiswa tingkat akhir UPN Yogyakarta yang saat ini sedang berjibaku dengan skripsinya, yang punya impian untuk pakai toga dipuncak Rinjani. Oh iyaa perkenalan ini tidak lepas dari Mas Hari Gendut, yang mencomblangkan saya dengan mas Febriawan, sehingga kami dapat berbagi cerita dan pengalaman sampai melakukan pendakian bersama.

Sebelum keberangkatan menuju Merbabu saya dikenalin nih sama Aak Tomi, Mbak Fika, Mas Abdul, Mas Nanda, dan Mbak Ista. Perjalanan bersama teman-teman baru, yeaaahh pasti seru dan menyenangkan!

***

Saya, Tomi, Fika, Abdul dan Embek berangkat dari Yogyakarta, sedangkan Nanda dan Ista dari Solo, kami ketemuan di pertigaan Kartasura, untuk selanjutnya ke Base Camp Merbabu di Selo. Menyusuri lampu malam yang menerangi Boyolali, membeli kekurangan logistik di Indomart depan pasar Cepogo, kebetulan juga saat itu bulan begitu bundar dan terang, bulan purnama kali yee, ditanjakan dari Cepogo menuju Selo pemandangan lampu Kota Solo begitu WOW, gemerlap indah sekali.



Bulan purnama mengiring hentakan kaki kami, dimulai dari basecamp di lereng Merbabu pukul 22.00 WIB kami mulai melangkah, menatap 3142 Mdpl. Mengucap doa penuh syukur, karena cuaca sangat cerah, jalan hutanpun terasa terang tanpa senter, seakan terang cahaya bulan ingin terus menemani kami sampai target camp pertama kami di Batu Tulis. Memantapkan pijakan kaki, membawa beban dan mengatur nafas diri serta berdoa dalam hati, kamipun sampai ditempat camp pertama kami malam itu. Segera mungkin membagi tugas, tenda, kompor, nesting langsung kami keluarkan, bergegas untuk mengisi perut dan beristirahat, saat itu sekitar pukul 3 pagi.

Rembulan masih bulat, bintang pun bersinar. Kami terlelap diatas rumput Camp Watu Tulis, didalam dua tenda. Semoga esok cerah!




Sapaan santun Matahari membuat kami bergegas keluar dari dalam kantung tidur, melompat keluar tenda. Bulan bulat utuh masih ada dilangit, walau sudah tak sebesar semalam, tapi masih saja jelas, terang. Kami sedikit berjalan naik menuju punggungan, BOM! Merapi terlihat berseri-seri. Kami mengabadikannya Merapi dari Watu tulis dan Sunrise pagi itu.

Selesai bongkar tenda dan packing 'kulkas', kami membentuk lingkaran, dan kami berdoa pagi itu, supaya tetap diberi kelancaran dan cuaca yang cerah. Jalan yang ada didepan nggak berkompromi lagi, langsung tanjakkan menuju Sabana 1, jalurnya banyak bercabang. "Pilihlah jalanmu sendiri nak" kata Tomi.

Treknya kering dan berdebu, bisa dipastikan kalo hujan turun jalur ini akan menjadi wahana aliran air yang licin. Keringat keluar tanpa henti, napas berlari tak ada irama. Minum dulu bro. Oh iya jalur pendakian Merbabu via Selo nggak ada sumber air, selama mendaki air nggak bisa diisi ulang, kita harus mempersiapkan air sebaik mungkin mulai dari Basecamp.



Mencapai Sabana 1 seperti telah mencapai puncak karena selama dari Watu Tulis memang Sabana 1 itu sudah terlihat seperti titik tertinggi gunung yang mempunyai 7 puncak ini. Inilah ujian mendaki Gunung Merbabu, Gunung PHP kata Embek, ya karena saat kita seperti sudah sampai dipuncak eh ternyata masih ada lagi titik yang lebih tinggi.

Matahari yang semakin meninggi memaksa saya dan tim beristirahat di teduhnya pohon di Sabana 1 Gunung Merbabu. Minum air es, nyemil cemilan, tiduran, bertutur canda hari itu, aah kelak pasti kami akan merinduinya.

Menuju Sabana 2! Kami melanjutkan perjalanan siang itu menuju tempat camp kami selanjutnya, Sabana 2. Dari Sabana 1 menuju Sabana 2 sedikit ada bonus, tapi setelah itu nanjak lagi, dan langsung cadas om tanjakkannya. Ah sengatan Matahari tak terasa, kami terlindung oleh dingin Gunung Merbabu, tapi besok kalo turun tetap Kulit merah atau kulit gosong, hahaha.

Kabut menutupi Sabana 2 sesaat setelah kami sampai, Sinar Matahari tak mampu menembusnya. Karena hari masih siang kami santai-santai dulu, foto-foto, guling sini, menggelinding kesana, maen Uno. Cukup lama.

Tenda mulai didirikan, santap siang juga mulai kami persiapkan.

Lho? nggak muncak? Kami sih selow, karena mendaki gunung itu harus diresapi dan dimaknai, jadi besok pagi deh kami baru muncak, semoga cuaca cerah.

Malamnya Bulan kembali bulat besar indah terang, seandainya kita punya orang istimewa saat itu, pasti romantis abis dah. Tanpa api unggun, kami menjadi akrab dengan teman-teman pendaki yang mendirikan tendanya disamping tenda kami, berbagi kopi panas, coklat panas, makanan sambil bertukar cerita, seolah kami adalah teman yang sudah lama nggak ketemu. Itulah Gunung, mengakrabkan tanpa pamrih. Perasaan bahagia keluar tanpa kita bisa berkata-kata. Selamat Malam Embek, Abdul, Nanda, Tomi Fika, Ista.



Untuk bisa lihat sunrise di Sabana 2 kita harus sedikit ngosngossan naik ke Punggungan bukit di depan Sabana 2, kalo kita ke belakang, lagi-lagi kita bisa lihat Merapi tersenyum ceria. Kami tidak berburu Sunrise dipuncak pagi itu, padahal pasti itu moment yang banyak dicari para pendaki. Sunrise dipuncak, bayangkan sendiri perasaannya.

Sekitar jam setengah 7 siang kami meluncur menuju Puncak, sudah kesiangan sih, tapi cuaca cerah, jangan sampai terlewatkan, Tak ada kata terlambat. Kami semuanya menuju puncak.
Jalan dari Sabana 2 menuju puncak Trianggulasi sama saja cadasnya, nanjak terus om. Apalagi kalo ditambah bawa 'kulkas'. Ujian Fisik dan mental dah.
 
Setelah mangap-mangap, kadang keringat tak sengaja terselip diantara bibir, asin. Akhirnya. Tersujudlah kami di Puncak. Masih ramai, Merapi yang paling dekat terlihat gagah, Sumbing dan Sindoro akrab dikejauhan, 

Lawu sedikit tertutup Awan, masih coba kuterka, Magelang ada disebelah mana ya?
Indah ya? Bagus ya? Pokoknya saya cuma bisa senyum-senyum mengingatnya.

Batere dan MMC harus habis, tandanya harus foto sebanyak mungkin.



Puncak Trianggulasi dan Puncak Kentheng Songo, lama kami mengagguminya. Seperti Tiada berartinya kami. Terima Kasih Semesta. Semesta bukan hanya warisan Moyang kita, Semesta juga titippan untuk anak cucu kita.

Puas? sebenernya belum, kami masih ingin berlama-lama, tapi kami harus pulang ke rumah, kami turun langsung menuju basecamp, dengan membawa sampah. Bahagia dihati, syukur tanpa henti.



Saya merasa sangat berterima kasih bisa diterima oleh mereka, bisa mengenal mereka, dan sampai sekarang bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Mungkin inilah Jalan para pendaki, akrab dan berbagi dengan siapa saja tanpa peduli mereka itu siapa, tanpa banyak bicara.




Berjalan mengikuti liku tanda tanya jalan-Mu
Kau bimbingku dengan kabut dingin-Mu
Telentang dihijau Sabana Merbabu
Syukurku penuh akan kasih-Mu
 
Terima Kasih Semesta.



***

Romantis yeh ternyata si Agung Gideon? Mau kenalan? Bisa langsung DM babang! Masih single loh katanya. :p

Semoga terhibur!

4 comments:

  1. cie cie yang dicomblangin ama mas Febriawan.... ehm

    ReplyDelete
  2. Aiiihh bahasanya =') jadi terhura...

    ReplyDelete
  3. alam indonesia memang..akhhh tak terucapkanlah menggambarkan keindahannya seperti apa

    ReplyDelete

Komen dong encang, encing, nyak, babe, mas, mba, gan, bro, sist, pak, bu. Sekian dan terima saweran berupa alat mendaki gunung dibayar tunai. Sah? Sah....