Tentang Permulaan

Tuesday, November 10, 2015



Suatu ketika gua pernah duduk terdiam gak ngapa-ngapain di atas tumpukan dedaunan kering yang berserakan. Kelelahan. Kecapekan. Surprisingly, tanah di bawah dedaunan itu agak lembab. Alhasil, membuat celana tipis berlabel quick-dry yang lagi gua pake itu basah perlahan di bagian pantat dan menjalar kemana-mana.

But, yah, ada kalanya juga gua menikmati alur rembesan di celana gua sambil mendengarkan detak jantung gua sendiri yang masih sangat memburu. Bergerak cepat. Seolah bisa terlepas kapan aja. Tapi gua toh menikmatinya. Menikmati sensasi degupan kencang satu-satunya organ vital pemompa darah yang tertanam sejak lahir itu bekerja keras membuat gua terus hidup. And i'm thankful for that.

Sepersekian detik kemudian gua mencoba menggeser posisi duduk sembari merebahkan keril bermuatan sekian belas, hmm, atau mungkin sekian puluh kilogram yang selama berjam-jam pendakian gua ini menggantung kokoh di pundak. Berat memang. Tapi kayaknya gak seberat beban kehidupan. Yah, itu pun kalau kehidupan ini dianggap sebagai beban juga.

Di saat yang sama, gua juga mencoba mengatur nafas yang menderu. Ditambah teriakan-teriakan khas kelelahan diiringi paru-paru yang terus-terusan meminta pasokan oksigen lebih. Lagi dan lagi. 

Gak malu teriak-teriak? Peduli setan. 

Rombongan gua toh tertinggal cukup jauh. Gua juga cuma seorang diri. Yah, mungkin ramai. Tapi, i bet, cuma orang-orang tertentu aja yang bisa liat keramaiannya. Mungkin ini yang dinamakan sendiri di dalam keramaian. Literally. 

Paling gak, cukup banyak waktu buat gua menikmati kesendirian, merasakan galau-getirnya hidup tanpa dibayangi kepura-puraan rasa bahagia yang harus ditampilkan kepada semua orang. Sejenak gua memejamkan mata. Merasakan desau angin perlahan menelisik kulit, menyibak lembut rambut gua yang mulai lebat, menyayukan mata, menjanjikan senja....

***


Masih di tempat yang sama. Masih terjaga di tengah hutan belantara. Masih dengan pemikiran-pemikiran konyol yang sama. Tentang kehidupan. Tentang orang orang yang berlalu lalang di dalam kehidupan. Datang, lalu pergi, muncul kembali. Tentang masa depan. Tentang ambisi dan mimpi-mimpi. Tentang kesendirian. 

Yeah, ada yang salah dengan kesendirian? No, I don't think so.

Gua memutarkan pandangan. Melihat jalur terjal pendakian mendominasi hampir sepanjang jalan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi merimbun. Melindungi gua dari teriknya matahari. Begitu pun semak-semak berduri yang ada di sana sini. Buat gua, mereka saat ini tengah memasok udara segar yang gak gua dapatkan di perkotaan.

Mungkin, inilah satu dari sekian banyak alasan gua kembali lagi ke gunung. Lagi dan lagi.

Tapi.... sampah. Iya, sampah para pendaki, atau mungkin sebaiknya gua sebut dengan oknum pendaki juga masih berserakan, bertebaran. Oh yes, gua emang bukan orang yang berhati sangat mulia yang akan ngambil-ngambilin sampah para keparat ini. Gua cuma bisa nyinyir dan terus mengingatkan lewat tulisan-tulisan gua tanpa kenal lelah. 

Mungkin juga, lewat contoh nyata, dimana gua berusaha selalu membawa-bawa sampah yang gua (dan rombongan) produksi ketika masih ada di lingkungan gunung sampe menemukan tempat yang legal untuk membuang sampah.

Sejenak telinga gua mendengar derap langkah orang-orang yang sedang berlari. Lalu berterbanganlah debu-debu tipis yang muncul akibat gesekan sepatu mereka dengan tanah areal jalur pendakian yang cukup kering. Debu-debu ini membuat buyar udara segar yang sedang gua hirup perlahan. Oh, i hate this. 

Why you guys running instead of just enjoy the hike?

Setelah itu, mulai banyak berbondong-bondong pendaki yang berlari. Muncul satu per satu. Persis kayak panu yang begitu diolesin kalpanax di satu tempat, muncul di tempat lainnya. Kemunculan mereka, dengan berlari tentunya, membuat gua berpikir, apakah mereka menikmati pendakiannya? Atau hanya ingin secara instan mencapai lokasi yang mereka tuju? Atau mereka ingin mengakhiri kelelahannya secepat mungkin dengan berlari? Atau apa?

Sebengongan kemudian, gua lagi-lagi tertampar. Pada pertanyaan yang gua lontarkan ke mereka.

Sebenarnya, menikmatikah gua dengan pendakian ini?  I mean, sekarang ini?

Setelah kadang gua selalu berpikir berkali-kali saat mau naik gunung. Pasti di benak gua yang ada, duh, di sana pasti udah rame. Di situ pasti udah rame. Dimana-mana udah rame sih emang. Salah gua? Salah temen-temen gue? Yang pasti bukan salah Jokowi.

Lalu ketika ngeliat temen selingkaran, yang, ya itu-itu aja, ya pendaki gunung, ya traveler. Yang satu lagi ke Latimojong, yang satu depenya di Cartenz, yang satu lagi ada rencana ke Annapurna, yang satu lagi seru-seruan di Surya Kencana, yang lain lagi ada di Raja Ampat. Lama-lama gua merasa kaya... Kok gua kayak belum kemana-mana ya? Kok PR pendakian gua semakn banyak ya? Kok gua jadi pengen kayak mereka ya?

Sementara gua stuck depan meja kerja dengan setumpuk kerjaan dan perencanaan liburan yang hanya jadi wacana.

Mungkin gua lagi ngeluh. Atau lagi jenuh.

Mungkin juga gua butuh sesuatu yang baru dan berhenti sejenak dari dunia gua saat ini, dunia pendakian. Dunia jalan-jalan. Satu hal yang pasti, gua emang lelah, tapi gunung juga lagi lelah. Menarik diri sebentar agar lebih siap lagi, gak akan jadi masalah. Kan?

***

Gua menghirup lagi udara yang bersih ini. Ketika semua pelari telah meninggalkan gua. Ketika kesendirian kembali menyapa gua. Ada gunanya juga berhenti sejenak. Melihat sekitar. Berkeliling. Membuat keputusan yang mungkin dapat melegakan hati.

Mungkin ini saatnya, untuk rehat sejenak dari dunia yang gua buat sendiri. Dan menjajaki dunia baru lagi yang mungkin akan terasa lebih segar. Terasa tanpa beban. Bukan, bukan untuk melupakan, meninggalkan, atau sejuta kata-kata buruk tentang perpisahan.

Tapi ini tentang permulaan.

Permulaan dunia gua lainnya, yang gua buat tanpa sekat. Tanpa ada embel-embel yang membuat gua sakit kepala ketika harus bercerita.

Selamat datang ke dunia baru gua.

Selamat datang ke ACENTRISME.

You Might Also Like

11 komentar

  1. Yah mau ke mana cen? Kalo lagi jenuh emang kadang harus 'keluar' sebentar ya. Semoga dunia yang ini bisa lebih seru dan menyenangkan yaa! \:D/

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. makasih diniiiii, jangan lupa mampir baca baca yaaaaa

      Delete
  3. Bang ! Your is inspiration . Ajak gue nanjak bang....

    ReplyDelete
  4. "setelah kadang gua selalu berpikir berkali-kali ...."

    ReplyDelete
  5. Ah, abang.. :') sini ditabok dulu :))

    ReplyDelete
  6. Bang acen, deket nih lu ada nanjak kemane ? Minta kontak ku bang hahahah

    ReplyDelete

Silahkan komen yang baik, kalau gak baik nanti gua gebuk. Wekaweka.