Acentrisme: Keliling Palembang Dalam 48 Jam

Thursday, February 09, 2017


Apa yang kamu pikirkan ketika pertama kali mendengar kata Palembang?

Pempek?

Yha. Sejuta lima ratus tujuh puluh tujuh orang berpikiran yang sama. Termasuk gua. Dan kamu-kamu sekalian.

Bukan Pempek?

Udah, lemesin aja. Jangan denial. #maksa

Jadi, pempek. Weekend getaway. Hotel. Ketemuan sama anak #JalanPendaki regional Palembang yang sempet jalan bareng ke Gunung Dempo; Bagas, Seftian, dan Emon adalah sekian banyak alasan gua tergoda mau ikutan trip dadakan Lady dan Ikus ke Palembang.

Lagian, gua juga dari dulu pengen banget sesekali pergi-pergi jauh tapi bukan buat ngegunung. Apalagi musim ujan yang bikin bete begini.

Harga tiket pesawat juga lagi manis-manisnya. PP Jakarta-Palembang cuma 600rb-an plus plus. Murah? Ohya jelas, gua berangkat pake Layen (yha, udah pasti delay) dan pulang naik NAM Air, tapi kemudian berganti jadi Citilink karena NAM Air tiba-tiba mindahin jadwal seenaknya. Mundur 3 jam. Udah gila kali.

Kembali ke Palembang.

Jadi, gua di Palembang literally cuma 48 jam. Eh gak ding, kurang malah. Gua berangkat dari Jakarta hari Jumat malam, sampai sana masih Jumat malam sih. Tapi anggaplah waktu di sana dimulai dari Sabtu pagi jam 00.00, dan kembali Minggu Sore 18.00. Yha gitu. Itung sendiri berapa jamnya.

Dalam kurang dari 48 jam itu, to-do-list gua adalah:
1. The famous Jembatan Ampera
2. Museum Al-Qur'an Raksasa
3. Museum Songket
4. Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)
5. Pulau Kemaro
6. Hutan Wisata Punti Kayu
7. Kuliner Palembang

Tapi, perlu diingat, manusia boleh berencana, manusia boleh punya asa, tapi realita selalu tak seindah asa. Karena satu dan lain hal, akhirnya, gua dan teman-teman cuma bisa mencoret separo dari to-do-list gua.

Jembatan Ampera
Kayaknya, hanya sebuah kesiaan kalau ke Palembang tapi gak mampir ke ikonnya yang paling tenar, selain Pempek tentunya. Dua kali gua ke Jembatan Ampera begitu menginjakkan kaki di tanah Sriwijaya ini.

Pertama, sesampainya di Palembang langsung cuss motret jembatan Ampera dari pinggiran Sungai Musi tengah malem.

Kedua, Minggu pagi butanya sekitar jam 1an demi mendapatkan foto Jembatan Ampera dengan ambience yang berbeda. 


Monumen Perjuangan Rakyat - MONPERA
"Bang, gua ke rumah sakit dulu ya..."

Sabtu pagi buta di kamar hostel berukuran kiyut dekat Jembatan Ampera yang berisikan gua, Bagas, Lady, dan Ikus ini jadi agak heboh. Mengingat bekas operasi Bagas berdarah lagi dan harus secepatnya dibawa ke Rumah Sakit buat dijahit ulang.

"Eh, lu sendirian gapapa yakin?" tanya gua.

"Gak papa bang, bentar doang kok, ntar juga siang balik." kata Bagas meyakinkan.

"Maapin yak, harusnya nemenin kalian malah gua kudu ke RS..."

Selepas kepergian Bagas, Emon datang dan mengajak kami semua sarapan. Meski hostel yang gua tempatin agak kurang ngehits, tapi lokasinya bener-bener deket sama Jembatan Ampera dan juga Monpera. Cuma jalan kaki bentar langsung nyampe.

Setelah Sefti datang, kami sarapan seadanya. Iya, adanya nasi padang ya makan nasi padang. Karena udah jauh-jauh ke Palembang, gua mager amat makan nasi padang, jadi gua sarapan martabak telor khas Palembang, yang rasanya itu..... rasa telor. Tapi panas. Bye.

Gak banyak yang bisa diliat di Monpera. Kecuali tulisan Monpera yang fotojenik dan museumnya --yang cuma numpang lewat-- karena kami lebih fokus ke rooftop museum dan foto-foto dengan latar Jembatan Ampera lagi.

Kuliner
Hari Sabtu hari yang sangat cerah. Palembang punya tiga belas matahari tepat di atas kepala. Panasnya amit-amit.

Sambil nyari hotel baru, mengingat hostel semalam terlalu sempit buat berenam dan punya jam malam kayak kos-kosan cewe di Depok, kami memanfaatkan waktu buat kuliner. Rencananya setelah dapet hotel, langsung cuss ke museum-museum selanjutnya.

Makanan yang bisa dicapai saat itu adalah Pempek Palembang Vico. Selain punya matahari 13 biji, Palembang juga mirip Jakarta kalo weekdays. Macet cet.

Anyway, rasanya emang beda makan pempek langsung di kota asalnya.

"Di sini, makan pempek itu kuahnya diseruput, bang!" ujar Emon.

Gua langsung coba, rasanya? Nginggg!

Asem pedes cuko langsung naik menyerang hidung dan otak. Sama persis kayak makan wasabi pertama kali. Tapi endes. Gitu deh susah dijelasin.

"Bang, kak, gua harus ke RS lagi. Jahitannya bocor lagi..."

"HAH????!"


Pulau Kemaro
Minggu pagi.

Gua, Sefti, Emon, Lady, dan Ikus beranjak dari hotel menuju Pulau Kemaro. Bagas udah kami relakan harus dirawat di rumah sakit sekalian mengingat kondisinya yang belum stabil dan selalu bleeding.

It wasn't a good idea sebenernya main-main ke Pulau Kemaro dalam kondisi matahari Palembang yang mencapai 13 biji ini. Yawla panasnya amit-amit. Ini gua nyebrangin Sungai Musi udah kayak nyebrang samudera Hindia.

Pulau Kemaro sebenernya kayak komplek kelenteng alias vihara yang jadi satu ke di sebuah delta di tengah sungai. Hazik gak bahasa gua?

Selain kelenteng, ada juga kuil Budha. Serta yang jadi atraksi paling menarik adalah Pagoda tanpa pastiles yang tinggi menjulang di tengah pulau. Gua rasa, karena panasnya amit-amit inilah jadinya ini pulau dinamai Pulau Kemaro.


Hutan Wisata Punti Kayu 
Gak deng.
Gua gak ke Hutan Wisata Punti Kayu-nya.
Tapi ke jembatan di sebrangnya yang lagi ngehits juga. Kalau kata orang lokal, Sefti dan Emon, Punti Kayu itu cuma pohon-pohon pinus yang fotojenik. Dalam hemat gua, malah jadi mirip banget kayak Gunung Pancar.

Selain waktu yang mepet sama kepulangan kami ke Jakarta, lokasi Punti Kayu juga ada di sebrang Rumah Sakit tempat Bagas dirawat. Jadi ya, sekalian nunggu jam besuk, sekalian mampir lokasi yang bisa dijangkau.

Ya, kira-kira begitulah ceritanya di Palembang dalam 48 jam. Kurang.

Mungkin bisa jadi panduan ala-ala kalau sekiranya ngana sekalian pada pengen main Palembang tapi masih blank banget.

Akhir kata,

.
.
.
.
.
Bhay.

You Might Also Like

4 komentar

Silahkan komen yang baik, kalau gak baik nanti gua gebuk. Wekaweka.