#30HariKelilingGunung: 3 hari untuk Banyuwangi bagian Kawah Ijen

Sebelumnya di #30HariKelilingGunung: Banyuwangi Bagian Baluran

DAY 5, Sabtu, 26 Januari 2019

Setelah berjuang tidur di homestay yang mirip kek rumah hantu pasar malem, bikin deg-degan mulu gak tenang tidur aing. Akhirnya gua memutuskan pindah ke tempat Mas Agus.

“Ntar malem ramai kok mas, udah full-book ini.” ujar Mas Agus meyakinkan pas gua ngeliat delapan kamar tapi yang ada isinya cuma kamar gua doang. Yha, tapi bagaimana pun, di homestay dekat stasiun Karangasem ini jauh lebih ramai sih. Banyak orang lalu-lalang, traffic tinggi, tempat parkiran motor juga, jadi gua lebih tenang.

Setelah beberes kamar baru, lagi-lagi rencana gua buat istirahat biar kuat ketemu Kawah Ijen tengah malam nanti berubah jadi scrolling timeline instagram dan menemukan hidden-gems Banyuwangi-yang gak hidden-hidden banget sih, tapi kok kayaknya gak terlalu jauh, cuma sejam aja. Lagian cuaca lagi cerah banget kayaknya sayang aja gitu buat tidur meski kurang tidur. Hasilnya, gaskeun!

De Djawatan

Berjarak sejam perjalanan dari homestay, meskipun hampir banget kelabas lagi karena gak ada sign yang jelas dan mbak google, you know, kalau ngasi info suka mendadak: 600 meter tetap di kanan dipertigaan. Gua mana paham sist!

Untungnya nanya mz-mz di lampu merah sehingga terhindar dari kebablasan konyol kayak ke Baluran kemarin. Setelah sampai dan hanya bayar Rp7k untuk tiket masuk dan parkir motor, gua langsung bahagia banget disambut sama pohon gede-gede ijo luar biasa yang berjejeran.

Tapi sebagai mata orang awam, gua sempat kebingungan, lho ini kok gak kayak yang di instagram-instagram gitu yha? Lebih kayak, ya udah, kebon yang punya banyak pohon-pohon gede aja gitu.

Memang, para kreator/fotografer di Instagram itu punya mata jeli yang bisa bikin tempat biasa jadi terlihat luar biasa!

Pantai Pulau Merah – Red Island

Puas foto-foto di De Djawatan, niatnya gua langsung pulang dan istirahat untuk mempersiapkan diri ketemu Kawah Ijen. Tapi nyatanya malah labil mau ke Pantai Boom atau Pantai Pulau Merah (Red Island) dulu, berhubung De Djawatan persis ada di tengah-tengah mereka.

Tapi kalau ke Pantai Pulau Merah balik homestaynya jauh, kalau ke Pantai Boom kok ya bisa nanti-nanti aja gitu karena deket kota.

Akhirnya gua memutuskan ke Pantai Pulau Merah dengan semua resiko yang musti gua tanggung setelahnya. Pulang kemaleman, istirahat kurang, di jalan kehujanan. Tapi setara dengan pemandangan sunset, kelapa muda murah di tepi pantai, serta buah naga Rp10k dapat 5kg.

Asli, biasanya beli buah naga di Jakarta sebiji aja bisa lebih dari Rp10k, ini malah dapat sekarung! Mana manis banget lagi!

DAY 6, Minggu, 27 Januari 2019

Kawah Ijen

Awalnya, gua sangat kebingungan mau ke Kawah Ijen naik motor sewaan sendiri, numpang orang, apa ikut open-trip yang dibikin sama Mas Agus. Kebetulan, emang Day 5: #30HariKelilingGunung gua tepat ada di hari Sabtu, jadi pas aja gitu banyak open-trip yang dibuka.

Setelah hitung-hitungan mulai dari untung-rugi kesendirian, kemudahan akses, hingga kemungkinan keujanan tengah malam kalau bawa motor sewaan, gua memutuskan pakai open-trip aja naik jeep. Kalau dihitung-hitung lagi ya memang gak jauh beda sih abisnya.

Sewaktu di perjalanan, gua jadi super bersyukur pakai open-trip.

Jalanan yang nanjak terus, gelapnya jalur hutan, dan hujan dadakan bikin gua merasa jauh lebih aman dan nyaman di dalam jeep. Bisa sambil istirahat pula yakan. Lagian, perjalanan gua masih 25 hari lagi, gua harus tetap sehat!

Sejak awal pendakian ke Kawah Ijen yang nanjak terus gak pake amnesti, gua jadi lebih yakin mengapa gua harus masukin destinasi ini jadi salah satu destinasi #30HariKelilingGunung.

Bok, pada kenyataannya Kawah Ijen itu lokasinya di ketinggian 2443 mdpl, which is, ini kawah emang ada di Puncak Gunung Ijen. Pantes aja nanjaknya yhak ampun! Belum lagi kalau mau ngejar Blue Fire-nya, musti turun ke Kawah dan baliknya nanjak lagi.

Tapi hal yang udah gua antisipasi terjadi juga. HUJAN, BADAI, KABUT TEBAL, gak kelar-kelar dari penanjakan pertama sampai jam 6 pagi! Boro-boro Blue Fire, para pendatang di hari itu punya nasib yang sama: basah-basahan menanti segalanya.

Tolong atulah, berikan aku pemandangan minimal danau-danau birunya kayak punya Pradikta. Gak perlu Blue Fire gapapa… tolong….

Kalau Kawah Ijen bisa ngomong, mendengar permintaan gua, mungkin dia akan jawab: GAK HAHAHAAHAHA! MAMPUS LU DATENG KE SINI MUSIM UJAN SIH HAHAHAHAHA.

Jahat. Banget. :'((

Tapi pada kenyataannya, memang sampai gua kedinginan akibat kebasahan dan terus menerus kehujanan, tembok kabut tebal yang menaungi Kawah Ijen tak kunjung hilang. Putus asa, akhirnya gua milih turun dan berencana akan kembali lagi ke sini saat cuaca jauh lebih baik lagi.

Gak enaknya nanjak di musim hujan adalah, kalau medan pendakian itu kayak Kawah Ijen begini, yang didominasi sama tanah liat basah yang makin becek dan licin kalau terus-terusan diguyur air, turun gunungnya jadi ekstra effort.

Mulai dari nahan dengkul sama jari-jemari kaki, berusaha tidak lari agar tak terpelanting maupun terpelatuque, sampai nahan diri buat gak gelindingan aja biar lekas sampai. Berat banget aslik!

Kelaparan sekaligua kedinginan, sesampainya di pintu masuk pendakian Kawah Ijen, ada ibu-ibu penjual bubur kacang hijau dan wedang angsle, mampir lah gua untuk sekadar menghangatkan perut.

Pas sedikit berbincang soal Kawah Ijen, para pendaki yang apes, hingga si ibu bilang:

“Padahal kemarin malem Blue Fire-nya gede banget lho mas! Lagi biru-birunya. Gak perlu turun ke kawah juga udah keliatan. Tamu-tamu yang dateng pada seneng banget…”

“Ke.. kemaren malem banget, bu?” ingatan gua flashback pada saat ada mba-mbak baju putih merasuk mimpi… membuat gua terjaga hingga subuh pukul tiga…

“Iya mas, kemaren malem banget. Biasanya emang Jumat malem Sabtu selalu jelek, eh ini malah kebalikannya….”

“…..bu…..” ku hampir menangis.

“……mas….”

Ternyata…. semesta kadang bisa sebrengsek ini yha :’)

You might also like More from author

4 Comments

  1. Johanes Anggoro says

    Aku pernah nih nginep di homestaynya mas Agus. Edisi kabur pas libur lebaran wkwkwk.Paginya dibangunin sapi di belakang homestay 😂

    Sebenernya ga niat naik ke kawah ijen, sempet tertarik juga tawaran open tripnya mas agus. Berhubung budget terbatas, mana peak season pula, banyak bule. Jadi saya hanya bisa menelan ludah mendengar harganya 🙁

    1. Acentris says

      huuhuhu memang sih mahal tapi daripada sendirian aku sedi

Leave A Reply

Your email address will not be published.