#30HariKelilingGunung: Menyibak Gunung Butak

Sebelumnya di 3 Hari Untuk Banyuwangi Bagian Kawah Ijen

Day 7, Senin, 28 Januari 2019

Beranjak dari Banyuwangi setelah kegagalan melihat–baik itu Blue Fire maupun view danau biru majesticnya Kawah Ijen tak membuat gua kecewa pada perjalanan, #30HariKelilingGunung.

Seperti yang gua bilang pada postingan Gunung Lemongan,

Gak semua hal bisa berjalan sesuai ekspektasi. Dalam perjalanan, bukankah justru serunya pengalaman ini yang dicari?

Acen, gak dapat Blue Fire

Terlebih, selepas pulang dari Kawah Ijen, gua jadi bisa full beristirahat di homestay-nya Mas Agus dan menikmati indahnya tidur dalam kesendirian.

Berangkat menuju Malang dari pukul 05.00 pagi pada hari Senin membuat gua cukup bahagia, bagaimana tiduck, sebulan lalu gua masih tertidur cemas karena bakal ketemu Senin untuk ngantor wkwkwk. Ini kan subuh-subuh pergi tapi traveling hehe.

Sesampainya Malang pukul 12 siang, gua langsung dijemput sorang followers instagram sekaligus pembaca veteran blog jalanpendaki.com ini, Adhi Prasta, yang niat sekali mau mengantarkan daku ke Batu. Sungguh anak muda budiman, jasamu tak akan kulupakan semoga cepat jadi selebgram yha!

Setelah sampai di Batu, gua langsung menuju Sahar Backpacker, sebuah penginapan untuk backpacker dengan budget Rp80k-100k saja per malamnya, asli ini kacau sih, keren banget, ada kamar kapsulnya segala, dengan view Gunung Arjuno yang super mantul! (sayang pada saat itu masih belum bisa gua daki karena masih ditutup)

Setelah itu, gua langsung muter-muter wisata Batu terdekat dari Sahar Backpacker: Alun-Alun Kota Wisata Batu.

Jangan sedih kak, meskipun cuman alun-alun, tapi aduhai, bikin gua happy banget!

Dimulai dari surganya jajanan lokal + internasional (teman-teman di Instagram semua merekomendasikan Pos Ketan Legenda), sosis-sosisan bakar ala street food Asia, cilok, cimol, dan segala rupa aci-acian, makanan berat juga ada, pokoknya mantul banget buat #30HariKelilingMakan haha.

On top of that, gua main mulai dari sore menuju malam, lembayung senjanya itu lho! Ditambah fenomena pelangi yang ‘terlihat’ keluar dari puncak gunung Arjuna, langit senja kala itu kayak ngasih tau ke gua kalau:

Tenang Acen, setelah kabut tebal dan mendungnya Ijen, ada pelangi dan senja termanis buat para pejalan seperti kamu.

langit mandja

Day 8, Selasa, 29 Januari 2019

Tepat pukul 05.00 pagi gua udah terjaga.

Masih telat banget sih. Soalnya kata anak Instagram penunggu Gunung Butak gua seharusnya lebih subuh lagi nanjak Gunung Butak. Harusnya jam 2 pagi atau jam 12 malam sekalian. Soalnya trek jalur yang panjang dan lebar kali tinggi itu benar-benar menguras tenaga dan emosi. Gitu sih gosipnya.

Tapi, yah, namanya saya yah, bisa bangun jam 5 pagi aja udah sebuah kemajuan yang luar biasa. Bangun tanpa alarm pula!

Setelah packing air, headlamp, payung, jas hujan, jajanan buat trekking, susu Bear Brand biar badan tetap segar, hingga kamera GoPro Hero 6 yang menjadi andalan gua selama #30HariKelilingGunung ini, gua langsung diantarkan mas-mas penjaga Sahar Backpacker menuju base camp gunung Panderman – Butak. Iya, mereka mau nganterin, baik yha? :’)

Sesampainya di base camp Gunung Butak – Panderman yang (wow) pemandangannya benar-benar bikin betah (Gunung Arjuno kece badai), gua jadi gak menyesal kesiangan. Bayangkan, jam 6 pagi aja masih cerah-cerah abis sunrise gitu. Kan jadi sayang sama Kota Batu <3

Ternyata, dugaan gua yang bakal mendaki sendirian di Gunung Butak salah. Sewaktu sampai di Base Camp, ada 4 pendaki asal Jawa Timur yang lagi bersiap. Waktu mau mulai nanjak juga ada angkot isi 4 pendaki lain yang mau mendaki. Katanya juga banyak pendaki yang masih nge-camp di Gunung Butak.

Gua gak jadi takut sih kalau kayak gini caranya, wkwk.

Setelah mendaftar dan membayar Rp10k sebagai bentuk kontribusi halah bilang aja tiket masuk gunung Butak, gua langsung cabs. Enaknya tektok adalah gak perlu banyak packing ulang, cukup sarapan bentar dan repack jajanan serta air supaya lebih enak disenderkan di punggung, gua udah ready.

Dimulai dari base camp, rupanya jalur pendakian Gunung Butak cukup jelas. Terutama awal-awal pendakian yang dimulai dari Makadam (jalur bebatuan), lalu kebon yang meninggi, hingga area Hutan Lindung.

Nah, Gunung Butak ini mirip-mirip kayak Gunung Gede – Pangrango (TNGGP) via Cibodas. Yaitu satu jalur langsung menuju dua gunung sekaligus.

Jangan sampai lupa, kamu harus perhatikan tanda-tanda jalur pendakian yang benar. Kalau ke Gunung Butak lewat sebelah kanan, kalau ke Gunung Panderman lewat sebelah kiri.

Setelah berjalan cukup lama sampai gak ada lagi tanda-tanda masuk Gunung Butak, medan pendakian langsung terus didominasi oleh rimbunnya pepohonan dan semak-semak.

Gak bisa dibilang hutan-hutan banget sih, soalnya kebanyakan semak-semak. Gitu aja terus sampe ketemu hutan kecil, semak-semak lagi, hutan kecil lagi, eh ada tenda, eh pos dua, eh tenda lagi tapi gak ada orangnya, eh ada burung kok ngikutin gua mulu kek di Gunung Lawu, sialan ini Tanjakan PHP kenapa nyebelin banget ya ampun capek akutu, lha kok gak ketemu-ketemu orang juga sih sepi amat ini gunung apa maqam Sunan.

Lama-lama serem juga sih perasaan.

Apalagi waktu udah sampai hutan pinus, aduh, hawa dinginnya makin bikin pengen mikir yang enggak-enggak!

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, gua mulai familiar dengan jalur Gunung Butak. Kayak pernah lewat sini gitu. Eh ternyata, pas sampai ke Sabana, otak gua langsung speak-up:

Mini Gunung Argopuro!

Setelah mendaki kurang lebih 3,5jam sampai ke sabana, gua langsung beristirahat sambil menikmati cahaya matahari dan cemilan-cemilan yang udah gua bawa.

Sambil merenung, gua menikmati banget perjalanan hari ini meskipun dibumbui merinding-merinding gemas karena sendirian, begitu melihat tenda dan orang-orang di sekelilingnya gua langsung damai lagi.

Ada dua hal yang memang bikin gua agak cemas waktu mendaki: penghuni tak kasat mata yang iseng dan manusia jahat yang memanfaatkan kesempatan. Yang kedua sih lebih serem. Ya misalnya tiba-tiba lo ditusuk dari belakang terus dirampok kan ya udah aja gitu gak bakal bisa minta tolong since lo di gunung sendirian huhu.

Tapi enaknya jalan sendirian juga bisa berkontemplasi mikirin banyak hal sih. Mulai dari kenapa gua gini-gini aja, apa yang harus gua lakukan setelah resign, mau ngapain lagi abis kelar #30HariKelilingGunung, kapan nerbitin buku baru, sampai plis yalord izinkan aku nemu duit, semiliar aja gak usah banyak-banyak. Plis.

Puas beristirahat di sabana, gua kira mencapai puncak bakalan masih lama. Tapi rupanya, persis kayak Gunung Argopuro, mencapai puncaknya cukup sebentar saja. Kurang lebih 20 menitan.

Dan beruntungnya masih banyak manusia yang ada di Puncak. I was like, yes, gak sendirian hihiy!

Lautan awan di 2868 mpdl Puncak Gunung Butak itu juga wow! Mengademkan hati yang sendu pisaaaaan~

Turun dari Puncak Gunung Butak, gua berusaha melangkahkan kaki lebih cepat karena kabut mulai turun.

Sewaktu udah sampai ke daerah hutan semak-semak lagi, gua langsung merinding. Mendadak ada suara; “auuuuuuuuu…”

“Ih kok kayak suara anjing…” gua membatin.

Begitu nengok ke belakang,

‘HEH, BENERAN ADA ANJINGGGGGG!!!’

Gua langsung lari ngibrit ngeri jadi makan siang si anjing hutan.

You might also like More from author

8 Comments

  1. Sukron says

    Untung gak di begal monyet utan wkwk

    1. Acentris says

      serem aja monyet hutan jadi begal wkjwkw

      1. Lidiya says

        aku mas kena begal monyet,, sisa makanan aku bawa dan aku yang diserang

        1. Acentris says

          demi apa? asli ini adalah kenyataan pahit yang baru saja aku dengar hahaa

  2. novatrihardian says

    Salute mamang dengkul racing. saia ke buthak aja bisa sampe 8jam+ wkwkwk.. Sehat terus bang acen!

    1. Acentris says

      mungkin beda bawaan, gua yakin kalo gua full equipment juga bakal gitu sih hahaha

Reply To anaphalis

Cancel Reply

Your email address will not be published.