#30HariKelilingGunung: Sendirian Jelajah Gunung Panderman

Sebelumnya di Menyibak Gunung Butak

Sewaktu udah sampai ke daerah hutan semak-semak lagi, gua langsung merinding. Mendadak ada suara; “auuuuuuuuu…”

“Ih kok kayak suara anjing…” gua membatin.

Begitu nengok ke belakang, ‘HEH, BENERAN ADA ANJINGGGGGG!!!’

Gua langsung lari ngibrit ngeri jadi makan siang si anjing hutan.

Day 9, Rabu, 30 Januari 2019

Pagi ini gua kembali kesiangan, padahal janji jiwa bangun jam 4 pagi lalu mulai mendaki jam 5 pagi.

Rencana gua berubah lagi setelah pendakian Gunung Butak kemarin ternyata cuma makan waktu 7 jam perjalanan pulang pergi. 4 jam mendaki dan 3 jam turun. Udah diselingi ngambil footage video segala, foto-foto, ngobrol sama pendaki lain pula.

Perkiraan gua yang bakal ada di gunung paling gak sampai jam 7 malam ternyata salah. Boro-boro masih di gunung, jam 3 sore aja gua dah bobo-bobo gemas sambil ngegodain anak kucing di Sahar Backpacker. Jam 7 malam bahkan gua udah ngider alun-alun Kota Wisata Batu buat cari makan sambil galau, galau sambil makan. Gini amat ya traveling sendiri tuh. Kalau lagi senang ya senang banget, kalau lagi galau ya galau amat.

inilah kisah cintaku; selalu ada di tengah-tengah pasangan lucu

Mengingat kondisi pendakian yang cukup singkat di Gunung Butak dan mendengar gosip track Gunung Panderman yang jauh lebih singkat daripada hubungan gua dengan mantan pacar pertama, maka yang tadinya gua mau nambah bermalam di Kota Wisata Batu–selain emang betah sih–akhirnya gua urungkan.

Dan menggantinya dengan bakal kembali lagi ke Surabaya.

Maka dari itu, bangun lebih pagi dari kemarin diperlukan agar gua bisa pendakian gua di Gunung Panderman bisa lebih cepet lagi….

….tapi, bagai jodoh di tangan Tuhan, bisa bangun jam 5 pagi juga udah alhamdulillah yakan. Eh, gak nyambung ya? Wkwk

Sesampainya di base camp Gunung Panderman gua dikejutkan dengan pemandangan yang jauh lebih menarik dari kemarin. Padahal sama-sama jam 6 pagi. Tapi sunrise pagi ini jauh lebih menarik dari kemarin.

Gak percaya, sok mangga di download jadiin wallpaper kalau suka:

Selain kayaknya cuaca super mendukung buat pendakian Gunung Panderman hari ini, kaki gua yang semalem cukup berasa baal juga sepertinya udah jauh lebih baik. Artinya, pendakian hari ini harusnya bisa lebih cepat.

Setelah bayar biaya administrasi kayak kemarin, check-in, re-check perlengkapan mulai dari kamera GoPro, power bank, logistik yang udah gua beli (i’ve found gethuk lindri otw Gunung Panderman and it was f*cking delicious!), Susu beruang-naga Bear Brand tak pernah ketinggalan. Reward itu, biar badan tetep bugar. Gua udah ready untuk cuss!

Kayak yang gua bilang di postingan sebelumnya, Gunung Butak dan Gunung Panderman dimulai dari titik yang sama, hanya saja kalau ke Butak itu ke arah kanan-bawah, kalau Gunung Panderman itu kiri-atas.

Menyebalkannya, kiri atasnya Gunung Panderman itu gak nanggung-nanggung cuy.

Gak ada bonus sama sekali dari pertama kali tarikan nafas selepas jalur perpisahan Gunung Butak-Gunung Panderman. Asli, kaki gua yang udah bener rasanya jadi baal lagi.

Medan Gunung Panderman bener-bener kayak Gunung Andong yang wow, kecil-kecil bikin julid.

Jalur Gunung Panderman via Kota Batu ada 3 pos, Pos Pertama Latar Ombo (bahasa Indonesia: tanah luas), Pos 2 Watu Gede (bahasa Indonesia: Batu Besar), dan Pos 3 adalah Puncak Bayangan, lalu sampai ke puncaknya yang disebut dengan Puncak Basundara (2,045mdpl)

Nah, menuju setiap pos tuh jalurnya semua sama.

Hutan, batu, tanah liat berlumut yang super nanjak. Gitu aja terus sampai kabut turun, ilang lagi, turun, ilang lagi.

Tapi sepanjang perjalanan saking capeknya gua menghadapi ini medan awur-awuran yang tanpa amnesti dan grasi dari Presiden RI, meski gua sadar tak ada pendaki lain yang lagi duduk-duduk kek, nawarin ngopi kek, apa kek, gua tidak takut.

Ya gimana kepikiran takut sih, orang capek banget asli.

Gua cuma fokus nanjak, nanjak, nanjak terus.

Tapi, entah mengapa semakin deket ke puncak, semakin jalur Gunung Panderman menarik buat dinikmati. Beda sama Gunung Butak yang kebanyakan berada di hutan luas (baik jalur kebon, hutan pinus, sabana), jalur pendakian Gunung Butak selepas Pos 2 Watu Gede makin seru!

Jalurnya ada di lereng-lereng gunung. Setapakan kecil yang sampingnya jurang kanannya hutan, dengan pohon-pohon bertumbangan. Pemandangan gunung (kayaknya sih Gunung Arjuno-Welirang) keliatan jelas. Meski ngeri, ntah mengapa gua bisa menikmati pemandangan seperti ini.

Setelah sampai ke Puncak Bayangan, gua langsung kalap ngambil footage foto dan video, kebetulan cahaya matahari lagi bagus-bagusnya.

Begitu bergerak melangkah lagi sebentar, paling cuma lima menit, gua langsung sampai ke sebuah tanah agak lapang, dengan sebuah tugu yang terdapat bendera Merah-Putihnya.

Awalnya sih mikir ini kok bentar banget udah nyampe puncak sih, cuma satu setengah jam lho dari base camp. Pas liat ada semacam prasasti, yang tadinya gua pikir itu kuburan, udah takut aja gua, begitu dibaca:

“Be-a-ba.. es-u-su….BASUNDARA HANJERRRR!”

Gua kegirangan sendirian!

Sesampainya foto-foto, selfie berdua gopro, dan bernapas lega sejenak, gua udah berniat banget mau duduk sans sambil ngasih reward Bear Brand ke diri sendiri dan sarapan gethuk lindri milav (my love, in case gak tau wkwk).

Pas lagi buka slerekan tas… (HANJIR SLEREKAN), mendadak kabut perlahan turun. Pelan tapi pasti. Menelan pemandangan manis gugusan gunung Arjuno-Welirang (tapi gua kurang yakin sih, bisa jadi itu gunung Semeru) yang diliputi awan berbentuk cotton candy di birunya langit.

Dari yang biasa aja, mendadak suasana jadi super gloomy dan creepy. Tiba-tiba ada suara-suara gemerisik alam yang terasa mengganggu.

Pas gua kembali tersadarkan kalau gua sendirian….

…gua langsung ngibrit turun gunung tanpa berhenti.

KENAPA SIH HEY DUA HARI INI DIBIKIN LARI-LARI MELULU CAPEK AKUTU HUHU.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.