Annapurna Basecamp Series 3: Kisah Pendakian 3.621 Anak Tangga

***

Sebelumnya di Annapurna Basecamp The Series 2:

“…our toilet its not like… the sitting one, what was it called, ah the western toilet. We got the asian. We need to squat or something?”

ANJIR HAHAHA SI BULE GAK BISA BERAK JONGKOK DONG! WQWQWQWQWQWQ.

***

Tikedhunga – Ulleri

“Today, we will hike about 3.621 stairs start from Tikedhunga to Ulleri. From what i read in the book.”

The fuck. I can’t imagine our life today.

Kebayang gak, 3.621 anak tangga. Kemaren yang gak dijelaskan secara gamblang soal anak tangga aja gua pengen minta digendong porter aja sampe puncak huhu. Eh ada gak ya porter yang mau gendong orang sampe puncak? Wkwk.

Oiya, Daniel was like, a super-guide-porter bule yang lebih mengenal dan paham banyak hal soal Nepal dan Annapurna. Meski ini baru pertama kalinya mendaki kayak gua, tapi dia udah khatam baca Rother Calling, guiding book, buku semacam Lonely Planet edisi Annapurna Basecamp (in German, which is i couldn’t even understand, but i am a fast learner thou), dan bisa menjelaskan semua titik di Annapurna. Sementara bacaan gua cuma Crayon Shinchan. Ya Tuhan pendaki macam apa aku ini.

Dia juga dibekali sama peta pasti Annapurna, jadi Daniel tau banget perjalanan darimana sampe mana, tanda-tanda anak panah warna putih dan biru apa bedanya, ada kemungkinan avalanches (salju longsor) dimana aja, sampai dari satu desa ke desa lain itu berapa lama harus jalan kaki, dan seberapa jauh jaraknya.

Kalau gua sih cuma dibekali cerita-cerita seru dari blog-blog tenar yang ceritain soal perjalanan Annapurna-nya. Yang mostly, cuma bagian capek-capek aja ceritanya, kayak gua juga. Wk.

Selain itu, Daniel juga punya jam tangan Suunto canggih terkini rupawan gonjreng dan laham. Gaji gua sebulan bisa abis cuma buat beli jam tangan begituan terus abis itu makan kursi rotan. Eh itu pun gua gak punya ding.

Tapi, emang brengsek sih, si Suunto-nya Daniel yang lebih mirip wearable devices kekinian ini udah bisa ngukur langkah, elevasi, altitude, sampe bisa buat gps-an. Kepameran banget gitu kalo gua punya sih. Harga emang ga bisa bohong huhu.

“Okay, so, 3.621 stairs is just… too much. Hahahaha.”

Lalu kami berempat segera bergerak dengan muka pait kayak abis minum jamu nyonya meneer yang abis pailit. Huhu kasian nyonya meneer. 🙁

Unlike track awal Nayapul – Tikedhunga yang didominasi jalanan rusak bebatuan berdebu tapi cukup buat satu atau dua mobil itu, track dari Tikedhunga ke desa selanjutnya udah didominasi sama tangga. Desa. Tangga. Hutan. Tangga. Desa.

Tak lupa dengan tambahan bumbu tai sapi, tai yak, dan tai banteng. Melelahkan banget naik gunung dengan anak tangga disertai beragam jenis tai binatang mamalia yang pengen membuat lo teriak sekencang mungkin dengan nada ‘do’ berat tanpa pitch control yang jadi terdengar sangat putus asa;

“HAAAH! DASAR BINATANG!”

Gua gak suka track gunung tangga. Rasanya kayak langkah lo jalan udah ditentukan. Kalau mau ikutin satu-satu anak tangga bakal capek tapi lama, kalau longkap-longkap dua atau tiga anak tangga sekaligus jadi lebih cepet tapi malah makin capek.

Udah gitu, pas lagi ngos-ngosan kudu narik napas sebanyak-banyaknya, di depan muka lo ada tumpukan tai banteng yang teronggok cantik. Bisa dibayangkan? Bisa?

Aku menghirup udara tai banteng, mama. Belum lagi kalo pas bentuk tainya acak-acakan. Nanjak, napas sedeket sakaratul maut, jalan cimit-cimit biar gak nginjek, Masya Allah, juara lah!

…tainya…

Untungnya, track tangga itu diiringi dengan banyaknya hutan di kanan kiri yang mengiringi tiap perjalanan kami. Nano nano sih, kadang adem, kadang panas ngejreng (karena pas gua ke sana kebetulan di Nepal lagi peralihan musim winter ke spring apa ke summer dulu yak au amatan orang di Indonesia cuma ada ujan sama banjir).

“The track is so unbelievable.” said kakek-kakek jalan pelan nanjak imut deretan tangga jahanam tapi penuh semangat dan keliatan excited. Gua somehow jadi malu sendiri yang masih muda dikit-dikit ngeluh.

“Yea, where are you from?”

Daniel menimpali. Sayup-sayup gua mendengar bahasa Jerman dan logatnya yang khas. Lalu Daniel-Vanessa dan kakek-kakek yang ternyata lagi nyusul istrinya itu menghilang pergi asyik sendiri. Hiks. Mentang-mentang lu ketemu temen negara lu sendiri gua ditinggal hiks. Gitu lu hiks.

But, i wonder, sampai detik ini gua masih belum ketemu orang Indonesia sama sekali euy, selain Raisa tentunya.

“Daniel, i ate flowers. It tastes sour and bitter…” kata gua saat udah berjalan beriringan sama Daniel-Vanessa-Raisa.

Asli, pas tiba-tiba ada rombongan bule dengan satu guide, lagi ribut soal bunga di pinggir jalan, literally, bukan kiasan, gua malah tertarik buat cobain makan. Pas gua nanya bisa dimakan apa gak, kata si guide yang asli Nepal, bisa-bisa aja kalau mau.

Okay, challenge accepted.

Dan rasanya pait asem bleweh bleweh huek gak jelas.

“Ya, i saw it. You crazy hungry child eat like an animal.” kata Daniel anteng. Setan, gua dibilang mirip anak kecil kelaperan makan mulu kayak binatang. Huhu aku binatang. Tapi tidak jalang.

“You always eat. And you always have many of food supplies from your country on your pockets!” lanjutnya lagi.

Kayak yang gua bilang di Tips Tetap Kuat Mendaki Gunung bahwasanya gua selalu berusaha ngegares saat pendakian demi biar kuat, gua jadinya bawa jenis coklat-coklatan ringan, madu, sampai oat buat dicemilin. Belinya di Indonesia, since di Nepal katanya laham-laham harga makanan. Demi irit juga sih.

Meski jalurnya aduhay, tapi gua sangat menikmati perpindahan vegetasi di Annapurna. Dari tangga melulu yang bikin halu, tai banteng yang sendu, hingga hutan-hutan yang bermuara pada sungai dan curug-curug kecil unyu. Waterfall kalo kata bule, kalo kata kita mah curug welah yekan.

Paling juara sih,

Waktu lagi capek-capeknya nanjak di tangga waktu nyampe Ulleri, ditinggalin pula karena asik foto-foto, ada bongkahan gunung es nyembul di tengah-tengah pegunungan hijau yang bikin hati langsung nyesss. Sesegar air dingin yang dapat meredakan rasa “sakit tapi gak berdarah” ini. EKEKEKEK.

Ghorepani, Poonhill

Dari Ulleri menuju Ghorepani, desa dimana semua asa yang telah tercabut saat menghadapi anak tangga digantungkan, ternyata dapat direngkuh dengan tingkat kecepatan standar. Berangkat jam 9 pagi waktu setempat, sampai jam 16.00 waktu setempat, apa lebih ya, lupa juga eug.

Untungnya, kami tepat waktu sampai di sebuah tea-house kekinian yang kayaknya bole juga. Ngeliat dari banyaknya bule beragam jenis sih, kayaknya ini tea-house cukup mumpuni. Setelah berdebat cing-cong soal fasilitas tea-house yang nyatanya udah mulai bayar dari desa ini sama pemiliknya, gua akhirnya dikasi gratis semuanya, mulai dari mandi air anget, wifi, ngecharge, kecuali kamar yang harus bayar sekitar 100 Npr per orang dengan senjata andalan,

“Tapi wajib makan di sini ya, Mz!”

Gua pengen bales,

“Yakali gua musti keluar malem-malem nyari warteg, Mb!”

Tapi yaudahlah gausa, percuma juga debat musti translate dulu ke bahasa Inggris. Melelahkan. Selain itu, memang pas banget sampe ke itu tea-house karena mendadak se-Ghorepani turun gelap dan dikelilingi kabut dingin.

Brengseknya, sementara gua sama Raisa udah di kamar gelindingan ngangetin badan karena kamarnya super worth-it, bagus, luas, dan kasur empuk, si Daniel-Vanessa masih ngrokok-minum santai-santai di luar tea-house yang berbalut kabut. Dasar bule-bule ndableg! Huhu iri.

Good morning from the #Poonhill! Puncak paling populer se-#Annapurna, i think, soalnya rame banget bule yang mendaki kemari pagi ini. Kayak atraksi wisatawan gitu. And yea, i still can't find any Indonesian today. Padahal pengen nanya: lo bisa poop gak hari ini di lodge? Wk. Untuk meraih #sunrise di Poonhill, we have to woke up early morning. Like 4.00am local time. Bawaannya pengen tidur terus, since ini baru hari ketiga tapi badan udah remek semua. Apalagi dengan temperatur around 10 degrees. Huft. Nanjaknya juga masyaallah. Stairs and stairs all the way. Dengkul abis sist. Tapi begitu sampai di puncak, selain disambit suhu 5+ derajat yang langsung bikin tangan beku, gua juga disambut mentari yang nongol dari balik jajaran pegunungan Annapurna South, #Macchapuchchhre, dll dkk yang gua mana apal anjis! Sama aja kayak jajaran gunung yang keliatan dari #gunungprau. I just can't remember which one is #sindoro #sumbing or else. So, #livepost nya udahan karena aing harus melanjutkan perjalanan mencari kitab suci dan wifi juga mulai empot-empotan. So… see you when i see you again! 😘 #nepal #abc #exploregunung #mountainhiker #jalanpendaki #consiners

A post shared by Acen Trisusanto (@acentris) on

Paginya,

saat ayam di Indonesia udah berkeliaran nyari beras di tetangga (waktu di Nepal lebih lambat 1 jam 15 menit dari Indonesia), gua dan rombongan unique kami bersiap pergi menuju puncak gemilang cahaya Poon Hill yang terkenal di kalangan bule-bule.

Saking banyaknya barang yang dibawa, gua sampai bawa dua tas slempang: tas khusus kamera dan tas printilan kayak minum, buku Jalan Pendaki, headlamp, slayer, kain ala-ala, tripod, batre cadangan, memori cadangan, dan jajanan.

Puas hahahihi sambil mendaki terus engap, hahahihi lagi sambil mendaki, engap lagi, gitu aja terus selama 30an menit, tau-tau kami udah sampai gerbang Poon Hill yang diharuskan bayar 50 Npr per orang.

Harapan kami adalah, bisa sampai puncak Poon Hill sebelum fajar menyingsing, jadi bisa ala-ala sunrise-an di negeri orang, di gunung pula. Begitu udah deket puncaknya, tiba-tiba gua keingetan sesuatu dan ngobrak-ngobrik tas kamera gua..

“Daniel!”

“What???”

“KAMERA GUA KETINGGALAN!”

“HAH??? TERGOBLOK LO, CEN!”

 

BERSAMBUNG LAGI YAHAHAHAH.

ps; 1000 Npr = 10 US$ = Rp13.000 something

Disclaimer:

Karena perjalanan Annapurna cukup panjang, tentu saja gak akan bisa gua selesaikan dalam satu tulisan, maka dari itu, gua buat series setiap minggu, biar the series Jalanpendaki bisa kamu tunggu-tunggu.

Peace, luv, and thank you.

You might also like More from author

1 Comment

Leave A Reply

Your email address will not be published.