Annapurna Basecamp Series 4: Hujan Es Pertama

Sebelumnya di Annapurna Basecamp The Series 3:

“Daniel!”

“What???”

“KAMERA GUA KETINGGALAN!”

“HAH??? TERGOBLOK LO, CEN!”

***

Ghorepani, Poon Hill

Dengan rasa gondok karena kegoblokan yang super hakiki, ditambah bawa gorilla pod (sejenis tripod berukuran mini dengan bonggol-bonggol biji tasbeh raksasa sepanjang kaki-kakinya) namun tidak dengan kamera, gua ingin memaki diri sendiri pakai kata-kata kasar bawa-bawa kebun binatang beserta isi-isinya.

“HAAH! DASAR ZEBRA BETINA!!” misalnya.

But Daniel already did that, he said:

“You crazy little child eat like animal and now you forgot your camera! You said you gonna take us good pictures!” Daniel merepet sambil senyum-senyum aneh perpaduan antara pengen kesel tapi geli karena kegoblokan temennya. Yang baru dia kenal. Sehari lalu. Like, literally.

“Here, you can use my camera.” lanjut Daniel menyodorkan kameranya pocketnya. Memahami situasi gua yang agak patah semangat. Lalu dia merangkul gua dan memberi isyarat melanjutkan perjalanan hingga ke puncak Poon Hill.

Bule ini supportive sekali ya!

Gua padahal sempat berharap dalam hati, semoga gak ada sunrise sama sekali biar gak nyesek-nyesek amat. Namanya doa jelek, bukannya terkabul yang ada malah perpaduan antara cerah berkabut dan sunrise yang muncul nimbul di balik jajaran pegunungan Himalaya. Like, the best sunrise ever.

But God is good, dengan lupanya gua akan kamera, gua justru dikasih kesempatan buat lebih fokus menikmati view yang gak datang setiap hari ini…

Tapi rasa nyeseknya gak bawa kamera buat foto-foto di Poon Hill tetap abadi ampe sekarang ini..

Deurali, On the way to Tadapani

Kami memutuskan istirahat di Deurali, salah satu desa terpencil di tengah-tengah perjalanan dari Ghorepani ke Tadapani. Tadinya sih mau berhenti di Banthanti karena tinggal selompatan doang langsung sampe ke Tadapani. Lompatan firaun tapi.

Tapi kenapa memutuskan berhenti di Deurali karena, ya, pendaki gunung di belahan dunia mana-mana kayaknya sama aja ya. Juara kalau PHP. Apalagi akamsi, wuh, lambene.

“Mas, berapa lama lagi sampe Deurali?”

“Dua jam lagi paling, udah deket kok.”

Setelah dua jam perjalanan, kami masih berada di hutan rimba entah sebelah mana. Ada warlok lewat, nanya lagi dijawab dua jam juga. Ada banteng lewat, jawabnya dua jam lagi juga. JADI WAKTU BERHENTI DI SINI APA GIMANA SIH???

“Hey, i saw you in Ghorepani.”

Ada seorang anak bule tinggi kerempeng berambut kriwil keemasan, sendirian, ikutan nongkrong bareng gua dan gengs yang lagi menunggu pizza sebagai makan siang.

“Yes, i saw you guys too. Im Joep. J-o-e-p.”

“Where are you from?”

“Im from Germany and they’re from Indonesia. We met in Nayapul and going together to Annapurna Basecamp. And you? Are you alone?”

Meski sama PHP-nya, tapi mendaki gunung internasional gini rasanya lebih gimana gitu. Biasanya kalau nanya sesama pendaki paling mentok dari Jakarta atau Bekasi lagi, ini kalau nanya darimana jawabannya ada yang dari Rusia, Ukraina, Israel, Irlandia, Amerika, dan Belanda.

Kayak Joep (baca: Yup), remaja beranjak 20 tahun ini berasal dari Belanda. Barengan berdua sama temennya, tapi sayang, sampe di Ghorepani si temen entah keracunan makanan entah terlalu lelah jadi memutuskan buat balik kanan grak dan turun ke bawah dibantu sama tim SAR. Sad banget.

Since toh rombongan gua isinya perpaduan bangsa berbagai negara, later, ketimbang sendirian, si Joep akhirnya gabung ke team multilevel marketing ini. Multinegara maksudnya. Ih, gak lucu ih bye!

Banthanti

Setelah perjalanan berjam-jam penuh cerita kenegaraan di tengah-tengah hutan belantara naik turun jurang dan bukit, dari mulai pajak yang mahal di negara-negara Eropa, cuti tahunan yang gak masuk akal (bagi bule) di Indonesia, sampai urusan pernikahan dan permasalahan agama di masing-masing negara dibahas, akhirnya kami sampai juga di Banthanti.

Gua seneng sih gaul sama bule gini, pengetahuan bertambah, kemampuan speaking juga makin terasah. Meski lebih banyakan “engh enghh emm ew duh lupa bahasa Inggrisnya apa”, bye!

Surprisingly, Banthanti adalah salah satu desa yang membuat mata gua mengerjap hebat menggelinjang keenakan dicampur kegelian yang duh kenapa ini jadi kayak stensilan yak. Banthanti almost like, sebuah desa kecil yang too good to be true. Berada di sebuah lembah, di kelilingi tebing tinggi kanan dan kirinya, serta aliran sungai yang menambah suasana desa menjadi lebih tenang sekaligus mencekam. Sebuah perpaduan tepat untuk kedamaian yang hakiki.

Tadapani – Chommrong, keesokan harinya

“Cen, cen, es es! Ujan es!” kata Daniel matanya berbinar.

“Iya, Cen, cepet! Cepet!” tambah Joep ikutan bikin heboh.

Gak sih, sebenernya mereka gak seheboh itu ngeliat salju, tapi mereka jadi heboh karena, ini kali pertama gua ngeliat hujan es di dalam hidup. Saking berempatinya, mereka jadi ikutan exciting ngeliat tingkah gua jadi kayak mantan nemu gebetan baru di tinder. Jaim tapi obvious. Wk.

Perjalanan dari Banthanti ke Tadapani cuma makan dua jam perjalanan, diakhiri dengan hujan yang menyerang, tepat beberapa menit sebelum sampai tea-house di Tadapani. Untungnya, dengan kemampuan nawar ala anak backpacker kere, si Joep berhasil dapat stay gratis, namun tetap dengan bayar dinner. Wifi bayar, tapi harga udah gak masuk akal budget dompet, dan katanya pun hilang nimbul. So, praktis, sejak keluar dari Ghorepani, gua udah gak terkoneksi sama dunia luar. But, who cares? Gua di gunung gitu lho! Sabeb enak!

Kecuali makin mengenal soal Joep yang bawa baju cuma dua lembar, sleeping bag, down jacket, kaos kaki bau banget, dan bakalan make karung beras buat jas hujan mendesaknya, Tadapani gak terlalu meninggalkan kesan.

Justru perjalanan menuju Chommrong lah yang meninggalkan kesan.

Hutan hujan lumut, diserbu hujan di awal perjalanan, ngajarin Daniel berak jongkok, meskipun tetap sambil iyuh-iyuh, sampai diserang hujan gede banget petir cetar-cetar di tengah-tengah jalan yang mengharuskan kami stay di pondokan, tea house kecil sendirian setelah desa bernama Ghurjung, literally di tengah hutan, dan puncaknya, HUJAN ES! Pertama. Dalam hidup gua.

“If this will be long, maybe i and Vanessa will stay here.” ujar Daniel sedikit hopeless ngeliat ujan es yang makin besar diselingi gemuruh petir yang bersahutan. Herannya, itu ada banteng pada ujan-ujanan gak ada takut-takutnya kesamber dah.

Saat suasana udah super dingin, berisik dan menyeramkan, karena ujan es itu literally bisa bikin roboh ini pondokan, bapak pemilik tea-house nyuruh masuk ke perapiannya. Menghangatkan badan bersama sembari ngobrol dan mesen air panas since gua bawa minuman sachet sendiri, irit bro. Wk.

Si Bapak punya dua anak-anak, yang awalnya susah banget dideketin, begitu gua suap pake cemilan gandum yang gua bawa dari Indonesia, tu balita kaka adek nempel banget gak bisa lepas. Dasar matre hih!

Tapi, main sama mereka, asli, bikin suasana dingin jadi super hangat. Dari kejar-kejaran, malu-malu sama kamera pas difoto sampe akhirnya malah pose melet-melet samaan, dan ga mau lepas megang hape sambil cekikikan gara-gara efek unyu dari Snapchat.

Kebahagiaan mereka yang sederhana, merembes sampe ke relung jiwa. Melegakan segala gundah gulana, mengembangkan seberkas tawa dalam hati yang terluka. DUH KANGEN YA ALLAH!

Saat hujan akhirnya mereda, kami bergerak kembali dan harus berpamitan sama bocah-bocah gemes yang waw, mereka pengertian sekali kalau kami cuma numpang lewat. Gak ada air mata dan teriakan gak rela khas anak-anak saat berpisah sama orang/hal yang mereka sukai. Cuma ada senyum sumringah dan lambaian tangan pertanda dadah-dadah ala bocah. Apakah sejak kecil anak-anak gunung ini sudah tau artinya ikhlas saat harus melepas? #drama

Gak lama jalan, ternyata kami udah sampai another emergency tea-house besar berukuran satu rumah di atas bukit. Pemandangannya, wuw! The best! Banyak komplek rumah-rumah dari kejauhan terlihat. Sayangnya, karena mau ujan (lagi) dan bingung dengan jalan bercabang, kami terpaksa berhenti. Sambil nanya-nanya mana jalur yang benar.

“You can come with us.” kata satu dari dua cewe petualang berwajah khas India tamil tanpa kain sari. Ya ribet anjir naik gunung pake kain sari!

Later, kami tahu namanya Suminah dan Sisri, iya, namanya mirip minuman serbuk abal itu ya. Keduanya ternyata guide lokal yang udah berulang kali ke Annapurna dan lagi nge-guide-in rombongan bule. Main ke Annapurna Basecamp udah kayak main karet di pekarangan rumah bagi mereka kali ya.

“You guys already book hotel in Chommrong?” tanya Suminah. Apa Sisri. Lupa.

“We need to book??” tanya gua tercengang. ((TERCENGANG)) banget.

“It’s still high season, im afraid you won’t get any room.” tambahnya lagi. Yawla, dengkul lemes dengernya, masa dalam kondisi lelah bet lelah gini kami gak dapat kamar? Trus musti tidur di aula? Dingin pastik hiks.

“But, i will help you. I need to find signal and call them. You’ll get room, don’t worry.” lanjutnya membantu, mungkin karena udah ngeliat muka kami sepucet bintang iklan tjefuk.

Waktu beranjak senja.

Kayaknya hari ke-empat ini adalah hari dimana kami jalan lumayan lebih jauh dari hari-hari sebelumnya. Eh apa sama aja ya? Kayaknya sama aja sih, cuma karena lebih lama berhenti aja tadi.

Makin sore bukannya makin bener, cuaca makin ngaco. Angin kenceng banget bertiup sementara hujan udah mulai turun rintik-rintik, padahal ada sekomplek tea-house yang kayaknya kamar masih pada kosong. Tapi Suminah dan Sisri terus meyakinkan kami buat ngikutin mereka.

“Come on! Its near!” katanya sambil menyibak kresek yang menutupi seluruh badan dan berperan menjadi jas hujan.

“But, Acen, if we got nothing, let’s just go back, there is empty lodge, we can just stay there.” kini Daniel ikut resah.

Di tengah badai angin bercampur air dan kepanikan naik lagi ke atas demi tea-house yang udah jelas kosong atau turun ke bawah demi janji Sisri Suminah yang meyakinkan, gua memilih percaya pada keajaiban dan insting.

“Let’s just follow them first, Daniel.”

Gua melangkah. Tertatih tepatnya. Capek banget njir gak kelar-kelar. Mana turunan, tangga, becek, licin. I really want this segera berakhir.

“Here, we got room for all of you!” kata Suminah mendadak belok ke sebuah rumah, gua mengikutinya, melewati semacam aula dan ruang tamu dengan beberapa buah kursi yang diisi beberapa bule. Dan lalu mengembangkan senyum.

“Sini, kamarnya di atas.”

SETAN, TANGGA LAGI LAH!

Chommrong

“Heh gembel, lu ngapain dah?” tanya Joep sambil cekikikan ngeliat gua udah pake baju tidur super komplit dengan long-john warna hitam, kaos dua rangkap, jaket tebal bulu angsa, celana panjang tebal, sarung tangan yang mampu bertahan di bawah derajat, kaos kaki tebal dobel, hingga kupluk panjang yang nutupin nyampe kuping dan dagu.

“Biar gak dingin, nyet!” jawab gua sebel ngeliat dia yang cuma shirtless dan pake celana panjang tipis. Anjir sebel amatan. Kenapa bule bisa tahan dingin gitu sih heran!

“Elu kayak orang eskimo, mbel! Hahahaha!” seru Joep lagi tertawa puas.

Sementara gua cuma tengsin tapi bodo amatan lah adem bye Joep gua mau tidur!

***

Dari kiri ke kanan: Daniel, Joep, Vanessa, Raisa, Acen Daud

“Cen, gua fix gak ikut lanjut ke Annapurna Basecamp ya, gua turun bareng Suminah sama Sisri.” kata Raisa.

“Demi????”

“Iya.”

“DEMIII??”

“Iya, bawel!!!”

 

Bersambung ke lagi yah hahahahhaahah ke Annapurna Basecamp The Series 5

 

Disclaimer:

Karena perjalanan Annapurna cukup panjang, tentu saja gak akan bisa gua selesaikan dalam satu tulisan, maka dari itu, gua buat series setiap minggu, biar the series Jalanpendaki bisa kamu tunggu-tunggu.

Peace, luv, and thank you.

You might also like More from author

6 Comments

  1. Iswara says

    Thankyou bang Cen.
    Entah utk apa, utk cerita ini mungkin :’)

  2. Anisa says

    Yailah masih lanjut. Jangan lama lama lah bangcen

  3. Vita says

    Bang Acen plisssss yang ke 5 nya buruan. Bisa sakaw nih 😭😭😭

  4. Yossi says

    Knp nggak ke Everest BC dulu Bang?

  5. Nur Janah says

    Keyyeeennn bang,, Thanks udah mau berbagi cerita, ngebayanginnya aja udah seru. Jan malama ya bang lanjutannya, mentang2 gi sibuk bercocok tanam. hehe

    Btw, sekarang web nya tambah keren bang, lebih rame. tapi jadi agak ribet uga hha

  6. Rika says

    Kutunggu series ke 5 nya bang… jan lamak lamak 😀
    *btw, foto terakhir, lu jinjit ya bang (?) Hehehe

Leave A Reply

Your email address will not be published.