Annapurna Basecamp Series 6: Gunung Salju Pertama [Tamat]

Sebelumnya, di Annapurna Basecamp Series 5: Perpisahan

Atas nama bromance yang telah terjalin, lalu kami melakukan bro-hug perpisahan.

“We will meet again tomorrow if our path crosses.”

Lalu bro-hug lagi. Gua hampir mewek. Tapi berusaha tegar.

Lalu kami berpisah gitu aja.

Dan gua sad merebes mili sembari dadah-dadah menembus kabut tebal bersama Joep.

***

Deurali – Machhapuchhre

Gua dan Joep menembus kabut berduaan bagai sendal jepit beda ukuran. Satu bantet, satunya panjang tinggi gede.

Masih gak nyangka, selama hampir 8 hari bersama Raisa, dan 6 hari bersama pasangan Daniel – Vanessa, gua harus berpisah sama mereka. Rasanya kayak ikutan karantina Indonesian Idol. Dimana gua harus ngeliat temen-temen gua dipulangin satu-satu bawa koper. Sementara gua harus meneruskan ajang pendakian ini.

Yah tapi namanya juga hidup yah, ada pertemuan pasti ada juga perpisahan. Semua bakal berpisah, cuma masalah waktu aja.

Melanjutkan perjalanan, gua yang ngeyel tetep masih pake baju lengen pendek padahal udah mulai berkabut parah, visibility trek makin awur-awuran, dan semakin licin. But, karena ini merupakan gunung bersalju pertama yang gua daki, rasanya super excited!

Gua membiarkan setiap hempasan angin dingin, butiran salju, dan kesempatan-kesempatan lain yang gak bisa gua dapat di gunung Indonesia, Argopuro misalnya. Jadi, meskipun dinginnya merasuk sampe ke relung titit terdalam, sehingga terasa impoten sampe ke akar-akarnya, gua tetep aja bodo amatan pake kaos doangan. Padahal, sebagai bule asli yang ketemu salju udah kayak ketemu tukang gorengan, saking seringnya, si Joep malah make jaket tebelnya.

Sungguh perbuatanku memang taq masuk di akal dan tak layak ditiru karena…

When you smile at your plane seatmate as they arrived just to be polite and end up listening to their life story throughout the flight

Posted by Qasidah Memes for All Occasions on Saturday, December 23, 2017

Pendakian dari Deurali ke Machhapuchhre sebenernya menarik.

Meskipun masih dipenuhi nanjak-najak gemes yang bikin kesel, setelah Deurali bakal ketemu sama padang salju yang luas banget!

Kayaknya ini padang salju, kalau musim semi atau panas adalah padang sabana yang keren. Sebelah kiri gua adalah tebing batu tinggi yang merupakan bagian pegunungan himalaya, sebelah kanan gua juga.

Dan nyelip di sisi kanan trek gua ada aliran air cimit-cimit yang ketutup salju tebel. Gak tebel-tebel amat sih, gua bisa menduga kalau sebelah trek sebenernya adalah sungai besar. Kalau salah jalan, bisa babay keperosok dan membeku.

Dari trek yang (kayaknya) keren kalau bukan musim dingin begini, masih diteruskan nanjak-nanjak gemes sampai ke sebuah tanjakan 60 derajat yang bikin merinding. Bayangin, ini kayak nanjak ke Dieng  tapi salju semua.

Kalau jalanan Dieng aspal alus, ini salju alus. Mana sepatu gak gua pakein crampon, jadi licinnya minta ampun. Merosot mulu, sensasinya kayak nanjak puncak Mahameru pas bagian pasir-pasirnya. Nanjak selangkah, merosot lima langkah. Kapan sampenya?

Sampai akhirnya kami melewati trek paling ngeselin se-Annapurna. Lereng gunung bersalju di tengah-tengah tebing salju dan jurang, yang berujung pada sungai membeku. Asli, gemeteran banget rasanya kayak jalan di trek gunung Raung. Sayangnya, gua gak mungkin merangkak. Dingin bok! Licin pula yekan.

Setelah melangkah cimit-cimit super pelan karena gua masih sayang nyawa, berhasil juga lah gua sampai sebrang lereng gunung dan udah dinanti sama Joep yang udah sampai dari tadi. Asli, ini bocah raksasa kayak gak ada takut-takutnya!

Pas lagi melangkah perlahan, menerjang badai salju berkabut ala Himalaya, sekonyong-konyong di depan gua muncul bayangan gelap mendekat, mengejutkan, sekaligus bikin cemas. Awalnya gua takut jangan-jangan ada genderuwo transmigrasi ke Nepal. ((TRANSMIGRASI, ELAH))

Eh ternyata cuma bule tinggi gede pake outfit item-item dadah-dadah ke gua. Gak kebayang sih kalau beneran genderuwo Nepal.

Machhapuchhre Basecamp

Mencapai Machhapuchhre Basecamp bisa dibilang perkara yang gampang-gampang susah, mirip kayak rindu, berat tapi ya gitu-gitu aja. Naik turun engap, naik turun engas. Eh. Gitu deh, dan adem tiada bandingannya. Apalagi saat waktu setempat udah menjelang sore, beuh, dinginnya campur aduck.

Saat wajah dan titit ini semakin kebas, seperti rindu yang tak berbalas, suara gemericik air dari kejauhan semakin terdengar. Berpacu dengan suara napas yang kian menderu dan suara otot kaki yang mendayu:

BANG UDAHAN JALANNYA DONG BANG EUGH LELAH!

Mungkin itulah yang bakal diteriakin betis gua kalo bisa.

Surprisingly, suara gemericik sikasik air tadi adalah suara sungai kecil yang membelah wilayah Deurali dan Machhapuchhre. Karena mendadak, saat kabut sedikit melembut, ada plang pemberitahuan bahwa kami udah sampai di area Machhapuchhre Basecamp.

Saat bibir ini tersenyum tipis-tipis, saat hati udah merasakan yuforia suasana pencapaian dari perjalanan tanpa henti, saat kaki terus melangkah dengan sabar untuk meraih lodges yang gorjes…

….ada tangga menjulang yang harus kami daki lagi. BGST!

Machhapuchhre Basecamp, 4.00am

“Joep, Joep, lau muncak kagak?” tanya gua pada Joep yang masih melingker di balik selimutnya.

“Hrgggh….” erangnya. “Gak cen…”

Sembari memperbaiki selimutnya yang merosot, mempertontonkan dadanya yang gak ditutupi sehelai benang pun. Joep balik tidur lagi. Sementara gua masih gak habis pikir, sekuat apa bule sama udara dingin.

Gila yah, gua selalu tidur lengkap sama atribut eskimo gua mulai dari sarung tangan tebel, kaos-celana panjang-sempak berlapis, down jacket, sleeping bag ultratebel, sampai kupluk yang nutupin kuping, itu pun dingin masih ekstra nusuk sampe ke jiwa gua yang suci nan labil ini, si Joep masih bisa tidur telanjang dada. Ya Lord, mengapa ketidak-adilan ini menimpa kami para warga Indonesia ini. Eh gua doang sik kayaknya. Wk.

Beklah,

Berbekal keyakinan diri dan hati yang suci seputih bunga melati, gua berangkat seorang diri meraih 4130 mdpl pertama dalam hidup ini. Gua pasti bisa. Lalu kubuka pintu kamar yang terbuat dari kayu dengan koncian batangan kayu yang diputar horisontal. Kriet…..

“BGZT DINGIN AMAT YAK!”

Kebayang ga,

Saat kita muncak di gunung Indonesia, subuh-subuh, dinginnya udah kek masuk freezer, lha ini, di gunung bersalju, subuh-subuh. Dinginnya kek tatapan mantan yang lagi ngerencanain waktu yang tepat buat mutusin kita. Doh. Kedji.

Asli, langkah demi langkah rasanya kek melawan troll berbadan besar yang gua gak bisa hadapin. Saat jalan masih ketutup salju, gak terlalu tebal, tapi lumayan ganggu. Langit masih gelap, bulan masih ngintip ala kadarnya, angin lebih dari sekedar berdesau. Meski syahdu, tapi dinginnya merasuk sampe ke tulang belulang.

Sarung tangan gua yang didesain bisa di bawah minus 5 derajat aja udah babay. Gua kayak megang bongkahan es ketimbang make gloves. Gila!

Tapi semua penderitaan musim dingin ini perlahan sirna ketika cahaya mentari menyapa.

Perasaan hati gua membuncah pas ngeliat jalur Annapurna Basecamp yang makin kentara, tanah kecoklatan didominasi salju putih yang gak bersih. Di ujung nan jauh-jauh tapi dekat di sana keliatan loges-lodges khas Annapurna Trek yang kayak lagi menanti gua.

Pas gua balik badan, HANJAY PENGEN NANGIS!

Gua nyalain hape. Mode video. Lalu ngevlog ala-ala.

“Hanjil… Gu… a senen bap….”

Awalnya ngakak sendiri. Ngomong aja kek orang ayan, kaku banget mulut saking dinginnya. Mencang-mencong gak jelas. Lama-lama gua mendadak sentimentil. Men, tempat semenakjubkan ini gua seorang diri?

Gua mendadak kangen Raisa, kangen Daniel-Vanessa, kangen Joep, kangen sahabat-sahabat gua di Indonesia. Pendakian menuju Annapurna Basecamp bener-bener disertai perasaan yang campur aduck.

Setelah kurang lebih satu setengah jam lamanya, akhirnya gua sampai juga ke tempat paling populer se-Annapurna ini.

WELCOME TO ANNAPURNA BASECAMP 4130!

KYA!

Annapurna Basecamp, i heart you!

 

 

Fin.

With love, Acen.

 

Ps:

Karena sendirian ke Annapurna Basecamp itu gak enak, mendingan ramai-ramai ke sana. Sila liat jadwal-jadwal open trip yang sudah gua buat DI SINI

You might also like More from author

14 Comments

  1. Hendryyandha says

    Endingnya kurang greget bang hahahaha loncat2 kek, guling2 di puncak kek, biker sambil siul kek apa kek hahahaha

    1. Acentris says

      tadinya mau dibikin greget, tapi yang nanggung-nanggung bikin gemes ga si? wkwkwk

  2. ABDUL AZIS FALS says

    bang jadi Annapurna Basecamp itu Puncak apa cuma basecamp doang bang ? apa masih ada puncak tertinggi ny lagi gak ?

    1. Acentris says

      masih ada puncak tertingginya, 8000an mdpl. itu udah kek naik everest gt berbulan2

  3. Nure says

    Terkeren bang 👏👍👍👍👍👍

  4. novatrihardian says

    Wuhuu, kelen anet bang! ga rugi kita nginthilin mulai seri pertamanya. Eh, gak ada rencana buat ke puncaknya bang someday?

    1. Acentris says

      nanti kalau dapet sponsor mau sik. seharga rumah di pinggiran jakarta soalnya wkwkw

  5. Agist says

    Atuh da jadi mupeng 🙁

  6. Zakiyah says

    pokoknya kalau lau bikin serie begini, pasti aku tunggui sampek kelar dulu baru dibaca sekaligus ekekeke… suka gemes kalau nanggung. apalagi digantung, sakit bang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.