Gunung Lembu: Sang Pengobat Rindu

Ringkasan Gunung Lembu
Ketinggian: 1000an mdpl, tepatnya 792 mdpl, jauh ye wk. Tapi rasanya tak setinggi itu
Tingkat kesulitan: Sedang, cenderung mudah, tapi tetap waspada. Mirip sama Gunung Munara, minus pungli.
Lokasi: Purwakarta, sebelahan banget sama Gunung Parang dan Gunung Bongkok
Peralatan Yang Disarankan: Daypack, makanan, minuman, kamera, kaos ganti, obat anti nyamuk, sunblock, jaket windproof, dan hati yang tulus
Jarak Tempuh: Kurang lebih 3 km, sotoy sih wk
Waktu Tempuh: 30 menit sampai 1 jam pendakian
Camping: Tidak disarankan, sempit, dan banyak nyamuk serta binatang melata. Tapi katanya sunrise bagus. Cobain gih!
Jalur: Cuma satu jalur, habis parkir kendaraan di basecampe, ikutin aja, tanya mas-mas setempat. Bapaknya bae-bae.
Retribusi: Biaya masuk Rp5.000 (apa gratis ya lupa), katanya murah karena kalah saing sama Gunung Parang, padahal kece :(. Parkir kendaraan Rp5.000-Rp10.000

 

Pagi ini, kehidupan keras rombongan kereta belum mereda. Tak seperti biasa, dimana pukul 08.30 seharusnya manusia-manusia komuter jurusan bogor-angke-jakarta sudah mulai berkurang jumlahnya, ini masih tetap sesak. Bagai cinta pandangan pertama yang menyeruak di relung jiwa. Menyesakkan. Memabukkan. Oh tapi ini bukan kisah cinta. Tapi cerita tentang seorang remaja belia usia dua lima, yaitu saya, berjuang menyisip dalam padatnya gerbong kereta penuh orang-orang yang pelit memberi ruang. Berhasil masuk gerbong bukanlah akhir dari sebuah pencapaian. Mempertahankannya, adalah tujuan utama. Seperti pagi ini, saat damai dalam sesak didapat, mendadak hadirlah seorang pria paruh baya menyeruak, mendesak, melesak masuk dalam gerbong yang kian berjejalan. Pria itu berdiri di depanku. Mendesakku tajam. Mengaburkan pandanganku. Membuatku ingin terus mengusap wajah dan berteriak: PAK, ELAH, POMADENYA NEMPEL DI MUKA GUA!! End. #ceritakereta #jalanpendaki

A post shared by Acen Trisusanto (@acentris) on

“Bang, jadiin ke gunung lembu dong! Kan udah di plan dari minggu lalu.” kata pria yang menyebut dirinya sendiri Uda Dendi (@baratdaya_), seorang bocah yang dianugerahi followers banyak di Instagram.

Konon, sekarang dirinya udah menjelma jadi travel-influencer kenamaan papan atas. Sombong emang, diriku gak pernah diajak jalan-jalan lagi huhu.

Enggak deng, anaknya baek kok, bully-able lagi.

Anyway, aslinya gua males banget harus traveling di hari Minggu. Sungguh hari yang nanggung. Apalagi musti jalan siang-siang, macet, motoran, ke Purwakarta pula. Oh, hell no!

Udah kebayang gimana nasib pantat gua nantinya. Citato aja life is never flat, masa pantat eug is very flat. Kan gak semlohay. Eh, gimana?

“Cuma tiga jam kok dari Jakarta, nanjaknya juga cuma 40 menit. Gua deh yang nyetir pulang pergi.” Rayu Dendi lagi. Dalam hati ku ingin teriak:

Tapi karena daku adalah panutan yang baiq, jadi daku mengangguk sadja. Siapa yang bisa menolak tawaran traveling naik motor dan kita diboncengin sih? #murahan

Waktu menunjukkan pukul 9.30am. Hari Minggu, kayak yang udah gua bilang tadi.

Dan bencana pendakian kali ini emang telah dimulai sejak rencana-rencana ngablu yang luar biasa. Dua orang pria, dua helm dengan warna mentereng, putih-pink, berusaha menaklukan Purwakarta di siang bolong.

Okay fine, jam segitu seharusnya belum panas-panas amat. Tapi, demi apa, matahari kayak beranak pinak nambah satu per satu di tiap daerah.

Awalnya cuma satu di Jalan Raya Bogor, terus nambah satu lagi di Kalimalang, kemudian nambah lagi di Bekasi, Cibitung, Cikarang, hingga cician lainnya. Yalord, itu matahari apa ramayana? Ada dimana-mana pake mikrofon semua.

Sejak operasi usus buntu dan berakhir jadi #pendakimanja, dengan 15 matahari di atas kepala, gua seperti taq quad lagi menghadapi kejamnya hidup ini.

Ditambah harus bertengkar dengan halunya jajaran transformers cikarang, hingga waktu tempuh yang molor pake banget, katanya cuma 3 jam, eh udah 3 jam baru sampe karawang, q ingin marah…. melampiaskan…. tapi ku hanyalah… sendiri di sini…. ingin ku sampaikan… pada siapa saja yang ada…. bahwa diriku….

Saat pantat sudah memanas, sepanas hati yang melihat mantan jadian lagi, ngakunya sih: kamu yang terbaik, aku gak akan nemu yang kayak kamu, hilih kintil! Eh fokus.

Saat pantat panasnya udah gak tertahankan, akhirnya kami sampai juga di daerah Purwakarta. Nyempetin ngemil nasi padang dulu, karena si Uda Dendi ternyata adalah keturunan Padang dan sekitarnya, walhasil makan siang kali ini agak murah dikit.

Bekal kemampuan berbahasa daerah memang menguntungkan.

“Yuk berangkat.” ajak gua setelah kenyang.

“Yuk.”

Lalu hujan turun dengan derasnya.

Bjgn.

gunung lembu

14.00:  Purwakarta – Waduk Jatiluhur

“Kayaknya bukan ini dah bang jalannya..”

Setelah tertatih-tatih bolak balik kanan kiri masuk semacam jalur tol, masuk pasar, nyebrang rel kereta, masuk perkampungan, jalanan rusak, sampe sekarang di depan kami ada trek yang ‘gunung banget’ tapi gak ada tanda-tanda basecamp.

Yang ada cuma bebatuan besar-besar yang harus ditempuh The Roxx, motor kesayangan gua. Persis kek jalanan mau ke curug atau ke kali tapi ditempuh dengan jalan kaki.

“Pak, punten mau nanya, ini bener jalan ka Gunung Lembu?” ujar gua sok-sok berbahasa Sunda. Ngerti sih gua dikit-dikit. Punten, mangga, maneh, sia, goblok, aing, anying, bhay.

“Bukan mas! Bisa sih, tapi ini belum dibuka, jalurnya yang di belokan sana deket sama basecamp Gunung Parang.”

Bgst google maps!

Finally, setelah mengandalkan warga setempat ketimbang google maps, sampailah kami ke basecamp gunung lembu. Seketika itu juga, si Dendi langsung lepas baju dan pake tank-top alias kutang hitam dan celana pendek persis seperti siluet orang lewat di foto atas. Itu emang dia sik.

Si Dendi style-nya bule banget. Bule depok.

Persis anak-anak instagram kekinian yang mesti banget buka-buka baju meski mainnya cuma di kebon kelapa atau kebon singkong. Untung badan pada seksi-seksi tipis kurus sixpack.

Kalau eug yang menjelang om-om begini mana berani telenji-telenji pamer perut buncit membuncah ala prenagen?

Pertama kali menjejakkan kaki ke tanah Gunung Lembu..

…otak gua langsung refer to: Gunung Munara. Plek ketiplek. Persis banget mirip sekali. Bak kebon bertambah tinggi ver 2.0.

Stage medan pendakiannya pun mirip-mirip dan terus menanjak tanpa henti.

Stage 1: disambut sama gundukan tanah liat yang dibentuk mirip tangga namun menjulang tingginya. Ditambah bekas hujan, kebayang licinnya gimana.

Stage 2: kebon yang bertambah tinggi sampai ke semacam pos bayangan yang lumayan luas dan bisa buat ngecamp sejuta orang. Ada warung segala lho. Jadi gak akan takut kalo keabisan logistik.

Stage 3: kebon bambu, yang you know. Segala makhluk halus tinggal dimari ditambah makhluk-makhluk melata ngeselin campur bikin serem. Huhu ku ingin cepat sampai.

Stage 4: disambut oleh petilasan alias makam mbah-mbah zaman old yang dianggap telah bertapa di sana dan mangkat ke nirwana.

Stage 5: trek tebing-tebing hutan mirip banget kek jalur Gunung Parang. Serupa tapi tak sama.

Stage 6: PUNCAK! Tapi rupanya bukan ini yang dicari wkwkw. Justru puncak di Gunung Lembu ini tak istimewa. Kasian.

Last Stage: BATU LEMBU!

Setelah sampe puncak, kami musti menuruni lembah demi mencapai titik utama daya tarik yang bikin Gunung Lembu jadi spesyal. Dengan pemandangan Waduk Jatiluhur yang aduhay, instagramable banget, Gunung Lembu sekejap jadi favorit gua buat one day hiking!

Rasa capek berantem sama kawanan truk tronton, panasnya 15 matahari, teposnya pantat, sebalnya kesasar, deg-degan ngeliat maqam, sampai pedihnya kehilangan gebetan yang kece, lenyap begitu saja.

Gunung Lembu, adalah obat dari segala gundah gulana, rindu tiada tara, atau candu perjalanan yang telah sampai pada puncaknya. Gunung Lembu adalah jawaban segala doa. Kebahagiaan sementara di alam fana.

Namun,

hingga saatnya pulang tiba,

senyum kebahagiaan akan segera sirna…

terkenang akan perjalanan pulang yang begitu membahana….

Selamat tinggal, Gunung Lembu,

Selamat datang, Cikarang.

BHAY!

 

***

Seperti biasa,

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!

You might also like More from author

14 Comments

  1. meyanindya says

    Hmm menariq. Jalan ke lembu abis hujan itu emang licin licin sedep bang, apalagi di kebon bambu, saat qu ingin jatuh taq sengaja qu pegang batang bambu dan qu lihat tanganqu berbulu bambu semua. BrngsQ emang.

    1. Acentris says

      sungguh pengalaman yang mendebarkan hati bukan? memang terkadang brngsq. wk

  2. Dini Muktiani says

    Hatiku banyak berkata kasar saat membaca tulisan ini :'(

  3. novatrihardian says

    Tektokable ya kaka. Coba di sini ada tempat ginian. Eh ada deng. Tapi ini beda ada begron danaunya

  4. Agist says

    Duh, hatiku menjadi tidak lembut lagi habis baca ini
    BrngsQ 🙁 *nahkan

  5. Bambang says

    Makin kesini makin banyak kata2 batu logam dan kawan kawannya haha sedikit bikin ga nyaman sih, tp cerita lucu ny tetep aku suka, lanjutkan bang acen! 😁

    1. Acentris says

      kata-kata batu logam itu gimana sih? wkwkw dari dulu sebenarnya udah banyak lho, cuma ini dimunculkan kembali setelah disensor beberapa kali wkwkw

  6. arista says

    Dan disana banyak monyet, Cen! Gua waktu kesana juga motoran, tapi berangkat tengah malem, jadi treking pagi, lebih adem, dan banyak nyamuk. Kalo malem, di batu lembu situ cakep banget buat foto-foto, kebetulan pas kesana langit cerah.
    Rumah gua di Cikarang, btw, trontonnya emang bgst sih.

    1. Acentris says

      demikkkk??? gua gak ketemu monyettt huhuu, tapi orang yang kek monyet banyak! Emang tuh tronton brgsk!

  7. sindia alvian says

    waahaha, orang cikarang apa gimana bang ?
    NEXT TRIP, kemana lagi nih ?

Leave A Reply

Your email address will not be published.